BAB
I
PENDAHULUAN
1. LATAR
BELAKANG
Dewasa ini, tidak dapat kita pungkiri bahwa terdapat berbagai banyak
masalah yang dihadapi ummat jaman sekarang khususnya umat Islam. Berbagai macam
pendapat yang telah terlontarkan oleh para pakar peneliti dan ilmuan tentang
masalah atau gejala sosial yang terjadi ditengah-tengah ummat Islam sehingga
tak jarang ditemukan ada yang mengatakan bahwa masalah inilah yang menyebabkam keterpurukan
ummat Islam dimasa kini. Menurut Hudzaifah, tema ini adalah suatu upaya untuk menggambarkan akan
keadaan dunia Islam kontemporer (saat ini) dengan segala kelebihan dan
kekurangan-kekurangannya.
2. RUMUSAN
MASALAH
1. Apakah
kelemahan umat islam masa kini, sehingga menimbulkan keterpurukan islam dimasa
kini?
2. TUJUAN
1. Untuk
mengetahui Apakah kelemahan umat islam masa kini, sehingga menimbulkan
keterpurukan islam dimasa kini
BAB
III
PEMBAHASAN
1.
KETERPURUKAN ISLAM
Kondisi umat Islam saat ini
penuh dengan kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahan itu terkait dengan
kapasitas intelektual dan problematika moral.
Kelemahan umat Islam yang terkait dengan
kapasitas intelektual meliputi:
1. Dho'fut Tarbiyah (lemah dalam pendidikan). Kelemahan dalam aspek pendidikan formal dan informal (pengkaderan) sangat dirasakan oleh
umat Islam masa kini. Jika pendidikan juga pembinaan dan pengkaderan lemah maka
akan mustahil melahirkan anasir-anasir dalam nadhatul umat
(kebangkitan umat).
2. Dho'fut Tsaqofah (lemah dalam ilmu pengetahuan). Dewasa ini sedang sangat pesat
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi umat Islam terasa tertinggal
bila dibandingkan umat yang lainnya, ini disebabkan karena wawasan umat Islam
yang sempit dan terbatas juga lemah dalam mengembangkan ilmu pengetahuan ini
disebabkan kemauan umat untuk menuntut ilmu sangat rendah.
3. Dho'fut Takhthith (lemah dalam perencanaan-perencanaan). Umat Islam
sekarang ini tidak memiliki strategi yang jelas. Rencana perjuangannya penuh
dengan misteri. Hal tersebut disebabkan umat Islam tidak diproduk dari
pembinaan-pembinaan yang baik dan tidak memiliki wawasan ilmu pengetahuan yang
memadai.
4. Dho'fut
Tanjim (lemah dalam pengorganisasian). Sekarang ini terjadi gerakan-gerakan
yang mengibarkan bendera kebathilan, mereka membangun pengorganisasian yang
solid sementara umat Islam lemah dalam pengorganisasian sehingga kebathilan
akan di atas angin sedangkan umat Islam akan menjadi pihak yang kalah. Sesuai
perkataan khalifah Ali ra "Kebenaran tanpa sistem yang baik akan
dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisasi dengan baik".
5. Dho'ful Amniyah (lemah dalam keamanan).
Masa kini umat Islam lengah dalam menjaga keamanan diri dan kekayaan baik moril
dan materil sehingga negeri-negeri muslim yang kaya akan sumber daya alam
dirampok oleh negeri-negeri non muslim. Begitu pula dengan Iman, umat lslam
tidak lagi menjaganya tidak ada amniyah pada aqidah dan dibiarkan
serbuan-serbuan aqidah datang tanpa ada proteksi yang memadai.
6. Dho'fut Tanfidz (lemah dalam memobilisasi potensi-potensi diri).
Umat Islam dewasa ini tidak menyadari bahwa begitu banyak nikmat-nikmat yang
Allah SWT berikan dan tidak mensyukurinya. Jika umat Islam mersyukuri segala
nikmat Allah dari bentuk syukur itu akan muncul kuatut tanfidz yaitu
kekuatan untuk memobilisir diri dan sekarang umat Islam lemah sekali dalam
memobolisir diri apalagi memobilisir secara kolektifitas.
Lebih jelas lagi Huzaifah menuturkan gejala yang
terjadi dalam ummat Islam mengenai kelemahan
dalam problematika moral (Maradun Nafs). Kelemahan-kelemahan dalam
problematika moral yang terjadi pada umat Islam sekarang yaitu:
1.
Adamus Saja'ah (hilangnya keberanian). Umat
Islam tidak seperti dahulu yang berprinsip laa marhuba illalah (tiada
yang ditakuti selain Allah) sehingga tidak memiliki keberanian seperti
orang-orang terdahulu yakni Rasulullah dan para sahabatnya yang terkenal
pemberani. Sekarang ini umat Islam mengalami penyakit Al Juban
(pengecut). Rasa takut dan berani itu berbanding terbalik sehingga jika seorang
umat Islam takut kepada Allah maka ia akan berani kepada selain Allah tetapi
sebaliknya jika ia takut kepada selain Allah maka ia akan berani menentang
aturan-aturan Allah SWT.
2.
Adamus
Sabat (hilangnya sikap teguh pendirian). Umat Islam mulai memperlihatkan
mudah mengalami penyimpangan-penyimpangan dan perjalanan hidupnya karena
disebabkan oleh :
1. Termakan oleh rayuan-rayuan.
2. Terserang oleh intimidasi atau teror-teror.
Salah satu illutrasi hilangnya
sabat (keteguhan) ini adalah prinsif-prinsif hidup kaum muslimin tidak lagi
dipegang hanya sering diucapkan tanpa dipraktekan. Sebagai contoh Islam
mengajarkan kebersihan sebagian dari Iman tetapi di negari-negeri kaum muslim
kondisinya tidak bersih menjadi pemandangan pada umumnya.
3.
Adamut
Dzikriyah (hilangnya semangat untuk
mengingat Allah)
Dalam Islam lupa diri sebab utamanya ialah karena lupa kepad Allah. Umat Islam dzikirullah-nya lemah maka mereka kehilangan identitas mereka sendiri sebagai Al Muslimum. Sebagaimana Allah berfirman dalam Qs. Al Hasyr ayat 19 "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik".
Dalam Islam lupa diri sebab utamanya ialah karena lupa kepad Allah. Umat Islam dzikirullah-nya lemah maka mereka kehilangan identitas mereka sendiri sebagai Al Muslimum. Sebagaimana Allah berfirman dalam Qs. Al Hasyr ayat 19 "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik".
4.
Adamus Sabr (hilangnya kesabaran). Kesabaran merupakan salah satu pertolongan yang
paling pokok bagi keberhasilan seorang muslim, sesuai firman Allah Qs.2:153
"Hai orang-orang beriman mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar
dan (mengerjakan) shalat sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang
sabar".
Kesabaran meliputi:
1. Ashabru bitha'at (sabar dalam ketaatan).
2. Ashabru indal mushibah
(ketaatan ketika tertimpa musibah).
3. Ma'siat (sabar ketika menghadapi maksiat).
Sebagai umat Islam harus memiliki kesabaran ketiganya.
5.
Adamul
Ikhlas (hilangnya makna ikhlas).
Ikhlas tidak identik dengan tulus. Tulus artinya melakukan sesuatu tanpa
perasaan terpaksa padahal bisa saja orang itu ikhlas walaupun ada perasaan
terpaksa. Contohnya pada seseorang yang melakukan shalat subuh yang baru saja
jaga malam sehingga sanat terasa kantuk tetapi karena shalat adalah suatu
kewajiban perintah Allah swt ia tetap mengerjakannya dsb.
6.
Adamul
Iltizam (hilangnya komitmen). Dewasa
ini kaum muslimin kebanyakan tidak
istiqomah berkomitmen terhadap Islam bahkan tidak sepenuhnya sadar bahwa Islam
harus menjadi pengikat utama dalam hidupnya sehingga mereka banyak menggunakan
isme-isme yang lain.
BAB III
PENUTUP
Jalan keluar dari problem :
- Mendekatkan umat kepada Al Qur’an (Jihad bil Qur’an)
Dalil: Qs. 25:52 :
فَلَا تُطِعِ
الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
Artinya : Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang
kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur'an dengan jihad yang besar.
Caranya bisa berupa mengintensifkan kajian-kajian
ke-Islaman, Melalui program Tarbiyah (pembinaan/pendidikan) Islamiyah secara
berkesinambungan.
Firman Allah Qs. 3:164,
لَقَدْ مَنَّ
اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ
يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Artinya : Sungguh Allah telah memberi karunia
kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang
rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah,
membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al
Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah
benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
- Mengkaji dan mempelajari ajaran Islam secara totalitas: sehingga nantinya lahir genersi Rabbani yang akrab dengan Al Qur’an (generasi Qur’ani) yang mengamalkan ajaran Islam, menda’wahkan Islam.
Firman Allah Qs. 2:208,
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا
خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, masuklah
kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut
langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
Firman Allah Qs. 3:79,
مَا كَانَ
لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ
يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا
رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ
تَدْرُسُونَ
Artinya : Tidak wajar bagi seseorang manusia yang
Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada
manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah
Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi
orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan
kamu tetap mempelajarinya.
Menurut Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh Al
Hakim bahwa yang dimaksud dengan sebaik-baik umat dalam ayat ini adalah para
sahabat yang berhijrah bersama Rasulullah saw dari Mekah ke Medinah. Namun
sebenarnya maksud ayat ini umum bagi umat Muhammad saw seluruhnya dari generasi
pertama sampai generasi yang mengikutinya, dst. (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar