Selasa, 28 Mei 2013

makalah psikologi kepribadian islam

A. Latar Belakang Masalah 

Dilihat dari tiga ranah yang biasa digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor, maka emosi adalah termasuk ke ranah afektif. Emosi banyak berpengaruh terhadap fungsi-fungsi psikis lainnya, seperti: pengamatan, tanggapan, pemikiran, da
n kehendak. Individu akan mampu melakukan pengamatan atau pemikiran dengan baik jika disertai dengan emosi yang baik pula. Individu juga akan memberikan tanggapan atau respon yang positif terhadap suatu objek, manakala disertai dengan emosi yang positif pula. Sebaliknya, individu akan melakukan pengamatan atau tanggapan yang negatif terhadap suatu objek, jika disertai degnan emosi yang negatif terhadap objek tersebut.

Setiap individu yang lahir akan selalu mengalami perkembangan baik itu jasmani maupun rohani, kognitif, afektif dan psikomotor, tidak henti-hentinya mengalami perkembangan dari masa ke masa. Termasuk juga emosi yang mengalami perkembangan karena emosi ini masih tergolong ke dalam ranah afektif (pemahaman). Sehingga setiap individu harus memantau dan mengarahkan masa-masa perkembangan ini ke arah yang lebih baik, sebab dalam masa ini termasuk masa yang sulit dikendalikan karena keadaan jiwa individu tersebut belum matang. Maka dari hal di atas kami tertarik untuk menyusun makalah ini, yang membahas seputar perkembangan emosi dan proses pembelajaran.

Perkembangan Emosi Dan Proses Pembelajaran | Oleh: Amirul Mu’minin

A. Pengertian Emosi

Banyak sekali definisi mengenai emosi yang dikemukakan oleh para ahli, karena memang istilah emosi ini menurut Daniel Goleman (1995) yang merupakan pakar “kecerdasan emosional” makna yang tepat masih sangat membingungkan, baik di kalangan para ahli psikologi maupun ahli filsafat dalam kurun waktu selama lebih dari satu abad. Karena sedemikian membingungkannya makna emosi itu, maka Daniel Goleman mendifinisikan emosi dengan merujuk kepada makna secara harfiah, yang diambil dari “Oxford English Dictionary” yang memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan dan nafsu; setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa emosi itu merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Menurut Chaplin (1989) dalam “Dictionary of Psychology” mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Chaplin membedakan antara emosi dengan perasaan, dan dia mendefinisikan perasaan (feeling) adalah pengalaman disadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaan jasmaniah.

Jadi, dengan demikian, emosi adalah suatu respon terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologi disertai dengan perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus. Respon demikian terjadi terhadap perangsang-perangsang eksternal maupun internal. Dengan definisi ini semakin jelas perbedaan antara emosi denan perasaan, bahkan di sini tampak jelas bahwa perasaan itu termasuk ke dalam emosi atau menjadi bagian dari emosi.

Menurut Daniel Goleman, sesungguhnya ada ratusan emosi dengan berbagai variasi, campuran, mutasi, dan nuansanya sehingga makna yang dikandungnya lebih banyak, lebih kompleks dan lebih halus daripada kata dan definisi yang digunakan untuk menjelaskan emosi.


B. Bentuk-bentuk Emosi

Meskipun emosi sedemikian kompleksnya, namun Daniel Goleman sempat mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu:
  • Amarah: di dalamnya meliputi sifat beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, berang, tersinggung dan kebencian patologis.
  • Kesedihan; di dalamnya meliputi pedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa dan depresi.
  • Rasa takut; di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, sedih, wasapada, tidak tenang dan pobia.
  • Kenikmatan; meliputi bahagia, gembira, ringan puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan inderawi, terpesona dan mania.
  • Cinta; meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, hormat, kasmaran, dan kasih sayang.
  • Terkejut; meliputi terkesiap, takjub dan terpana.
  • Jengkel; meliputi hina, muak, jijik, benci dan mau muntah.
  • Malu; meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, dan hati hancur lebur.

Dari daftar emosi di atas, berdasarkan temuan penelitian Paul Ekman dari University of California di San Fransisco, ternyata ada bahasa emosi yang dikenal oleh seluruh bangsa di dunia, yakni emosi yang diwujudkan dalam bentuk ekspresi wajah yang di dalamnya mengandung emosi takut, marah, sedih, dan senang. Dan ini benar-benar dikenali oleh bangsa seluruh dunia meski berbeda budaya, bahkan bangsa-bangsa yang buta huruf, yang belum tercemar oleh siaran televisi sekalipun mereka kenal. Dengan demikian, ekspresi wajah sebagai representasi dari emosi itu memiliki universalitas tentang emosi tersebut.


C. Hubungan antara Emosi dengan Tingkah Laku

Melalui teori “kecerdasan emosional” yang dikembangkannya, Daniel Goleman mengemukakan sejumlah ciri utama pikiran emosional sebagai bukti bahwa emosi memainkan peranan penting dalam pola berpikir maupun tingkah laku individu. Adapun ciri utama pikiran tersebut adalah sebagai berikut:

1. Repons yang Cepat Tetapi Ceroboh

Pikiran yang emosional itu ternyata jauh lebih cepat dari pada pikiran yang rasional karena pikiran emosional sesungguhnya langsung melompat bertindak tanpa mempertimbangkan apapun yang akan dilakukannya. Karena kecepatannya itu sehingga sikap hati-hati dan proses analistis dalam berpikir dikesampingkan begitu saja sehingga tidak jarang menjadi ceroboh. Padahal, kehati-hatian dan analistis itu sesungguhnya merupakan ciri khas dari proses kerja akal dalam berpikir. Namun, demikian, di sisi lain pikiran emosional ini juga memiliki suatu kelebihan, yakni membawa rasa kepastian yang sangat kuat dan di luar jangkauan normal sebagaimana yang dilakukan oleh pikiran rasional. Misalnya, seorang wanita yang karena sangat takut dan terkejutnya melihat binatang yang selama ini sangat ditakutinya, maka dia mampu melompati parit yang menurut ukuran pikiran rasional tidak akan mungkin dapat dilakukannya.

2. Mendahulukan Perasaan Baru Kemudian Pikiran

Pada dasarnya, pikiran rasional sesungguhnya membutuhkan waktu sedikit lama dibandingkan dengan pikiran emosional sehingga dorongan yang lebih dahulu muncul adalah dorongan hati atau emosi, baru kemudian dorongan pikiran. Dalam urutan respon yang cepat, perasaan mendahului atau minimal berjalan serempak dengan pikiran. Reaksi emosional gerak cepat ini lebih tampak dalam situasi-situasi yang mendesak dan membutuhkan tindakan penyelamatan diri. Keputusan model ini menyiapkan individu dalam sekejap untuk siap siaga menghadapi keadaan darurat. Di sinilah keuntungan keputusan-keputusan cepat yang didahului oleh perasaan atau emosi. Namun demikian, di sisi lain, ada juga reaksi emosional jenis lambat yang lebih dahulu melakukan penggodongan dalam pikiran sebelum mengalirkannya ke dalam perasaan. Keputusan model kedua ini sifatnya lebih disengaja dan biasanya individu lebih sadar terhadap gagasan-gagasan yang akan dikemukakannya. Dalam reaksi emosional jenis ini, ada suatu pemahaman yang lebih luas dan pikiran memainkan peranan kunci dalam menentukan emosi-emosi apa yang akan dicetuskannya.

3. Memperlakukan Realitas Sebagai Realitas Simbolik

Logika pikiran emosional, yang disebut juga sebagai logika hati, itu bersifat asosiatif. Dalam arti memandang unsur-unsur yang melambangkan suatu realitas itu sama dengan realitas itu sendiri. Oleh sebab itu, seringkali berbagai perumpamaan, pantu, kiasan dan teater secara langsung ditujukan kepada pikiran emosional. Para ulama pensyiar agama dan para guru spiritual termasyhur pada umumnya dalam menyampaikan ajaran-ajarannya senantiasa berusaha menyentuh hati para pengikutnya dengan cara berbicara dalam bahasa emosi, dengan mengajar melalui perumpamaan, fabel, filsafat, ibarat dan kisah-kisah yang sangat menyentuh perasaan. Oleh karena itulah, ajaran-ajaran orang-orang bijak itu dengan cepat dan mudah dimengerti pikiran rasional, sesungguhnya simbol-simbol dan berbagai ritual keagamaan itu tidak sedemikian bermakna jika dibandingkan dengan sudut pandang pikiran emosional.

4. Masa Lampau Diposisikan Sebagai Masa Sekarang

Dari sudut pandang ini, apabila sejumlah ciri suatu peristiwa tampak serupa dengan kenangan masa lampau yang mengandung muatan emosi, maka pikiran emosional akan menanggapinya dengan memicu perasaan-perasaan yang berkaitan dengan peristiwa yang diingat itu. Pikiran bereaksi terhadap keadaan sekarang seolah-olah keadaan itu adalah masa lampau. Kesulitannya adalah, terutama apabila penilaian terhadap masa lampau itu cepat dan otomatis, barangkali kita tidak menyadari bahwa yang dahulu memang begitu, ternyata sekarang sudah tidak lagi seperti itu.


D. Karakteristik Perkembangan Emosi Subjek Didik

Masa remaja adalah masa peralihan antara masa anak-anak dan masa dewasa, maka status remaja agak kabur, baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Conny Semiawan mengibaratkan: “terlalu besar untuk serbet, tetapi terlalu kecil untuk taplak meja” karena sudah bukan anak-anak lagi, tetapi juga belum dewasa. Masa remaja biasanya memiliki energi yang besar, emosi berkobar-kobar, sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Remaja juga sering mengalami perasaan tidak aman, tidak tenang dan khawatir kesepian.

Secara garis besar, masa remaja dapat dibagi ke dalam empat periode, yaitu: periode pra-remaja, remaja awal, remaja tengah, dan remaja akhir. Adapun karakteristik untuk setiap periode adalah sebagai berikut:

1. Periode Pra-remaja

Selama periode ini terjadi gejala-gejala yang hampir sama antara remaja pria maupun wanita. Perubahan fisik belum begitu tampak jelas, tetapi pada remaja putri biasanya memperlihatkan penambahan berat badan yang cepat sehingga mereka merasa kegemukan. Gerakan-gerakan mereka mulai menjadi kaku. Perubahan ini disertai sifat kepekaan terhadap rangsang-rangsang dari luar, responnya biasanya berlebihan sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng, tetapi cepat merasa senang atau bahkan meledak-ledak.

2. Periode Remaja Awal

Selama periode ini perkembangan gejala fisik yang semakin tampak jelas adalah perubahan fungsi alat-alat kelamin. Karena perubahan alat-alat kelamin serta perubahan fisik yang semakin nyata ini, remaja seringkali mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan itu. Akibatnya, tidak jarang mereka cenderung menyendiri sehingga tidak jarang pula merasa terasing, kuran perhatian dari orang lain, atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau mempedulikannya. Kontrol terhadap dirinya bertambah sulit dan mereka cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar untuk meyakinkan dunia sekitarnya. Perilaku seperti ini sesungguhnya terjadi karena adanya kecemasan terhadap dirinya sendiri sehingga muncul dalam reaksi yang kadang-kadang tidak wajar.

3. Periode Remaja Tengah

Tanggung jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh remaja untuk dapat menuju ke arah mampu memikul sendiri seringkali menimbulkan masalah tersendiri bagi remaja. Karena tuntutan peningkatan tanggungjawab ini tidak hanya datang dari orang tua atau anggota keluarganya melainkan juga dari masyarakat sekitarnya, maka tidak jarang masyarakat juga terbawa-bawa menjadi masalah bagi remaja. Melihat fenomena yang sering terjadi dalam masyarakat yang seringkali juga menunjukkan adanya kontradiksi dengan nilai-nilai moral yang mereka ketahui, maka tidak jarang juga remaja mulai meragukan tentang apa yang disebut baik atau buruk. Akibatnya, remaja seringkali ingin membentuk nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar, baik, dan pantas untuk dikembangkan di kalangan mereka sendiri.

4. Periode Remaja Akhir

Selama periode ini remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunjukkan pemikiran, sikap, dan perilaku yang semakin dewasa. Oleh sebab itu, orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka. Interaksi dengan orang tua juga menjadi lebih bagus dan lancar karena mereka sudah semakin memiliki kebebasan yang relatif terkendali serta emosinya pun mulai stabil. Pilihan arah hidup sudah semakin jelas dan mulai mampu mengambil pilihan serta keputusan tentang arah hidupnya secara lebih bijaksana meskipun belum bisa secara penuh. Mereka juga mulai memilih cara-cara hidupnya yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap dirinya sendiri, orang tua, dan masyarakat.

E. Proses Pembelajaran untuk Membantu Perkembangan Emosi Subjek Didik

Intervensi pendidikan untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat berkembang ke arah kecerdasan emosional, adalah dengan menggunakan intervensi yang dikemukakan oleh W.T. Grant Consortium tentang “unsur-unsur aktif program pencegahan”, sebagai berikut:

1. Pengembangan Keterampilan Emosional

Cara yang dapat dilakukan antara lain:
  • Mengidentifikasi dan memberi nama-nama atau label-label perasaan
  • Mengungkapkan perasaan
  • Menilai intensitas perasaan
  • Mengelola perasaan
  • Menunda pemuasan
  • Mengendalikan dorongan hati
  • Mengurangi stress
  • Memahami perbedaan antara perasaan dan tindakan

2. Pengembangan Keterampilan Kognitif


Cara yang dapat dilakukan antara lain:
  • Belajar melakukan dialog batin,untuk mengatasi dan menghadapi masalah atau memperkuat perilaku diri sendiri.
  • Belajar membaca dan menafsirkan isyarat-isyarat sosial.
  • Belajar menggunakan langkah-langkah penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan, seperti mengendalikan dorongan hati, menentukan sasaran.
  • Belajar memahami sudut pandang orang lain (empati).
  • Belajar bersikap positif terhadap kehidupan.
  • Belajar mengembangkan kesadaran diri, misal mengembangkan harapan-harapan yang realistis tentang diri sendiri.
3. Pengembangan Keterampilan Perilaku

Cara yang bisa dilakukan antara lain:
  • Belajar keterampilan komunikasi non-verbal; misal, komunikasi lewat pandangan mata, ekspresi wajah, posisi tubuh dan lain-lain.
  • Belajar keterampilan komunikasi verbal; misal mengajukan permintaan-permintaan dengan jelas, menolak pengaruh negatif dan sejenisnya.



KESIMPULAN

Dari uraian-uraian di atas, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan, bahwa emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu; setipa keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Sedangkan perasaan (feeling) adalah pengalaman disadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-bermacam keadaan jasmaniah.

Karakteristik perkembangan emosi remaja sejalan dengan perkembangan masa remaja itu sendiri, yaitu: (a) perubahan fisik tahap awal pada periode pra remaja, (b) periode remaja tengah, (c) periode remaja akhir. Kemudian lima faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja adalah: (a) perubahan jasmani, (b) perubahan pola interaksi dengan orang tua, (c) perubahan interaksi dengna teman sebaya, (d) perubahan pandangan luar, (e) perubahan interaksi dengan sekolah.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan emosi remaja agar berkembang ke arah kecerdasan emosional antara lain dengan belajar mengembangkan: (a) keterampilan emosional, (b) keterampilan kognitif dan (c) keterampilan perilaku.















































  • 1. PERKEMBANGAN EMOSI Kelompok 3: Dessy Meryanti Napitupulu Elma Maranita Orde Koria Saragih Idena Irawati Sihombing Nur Azizah Suweny Dita Masyitah Sianipar
  • 2. EMOSI Golleman (1995): Kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap kedaan mental yang hebat yang meluap- luap. Chaplin (1989) : Suatu keadaaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang didasari yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku.
  • 3. Perkembangan pada aspek ini meliputikemampuan remaja untuk mencintai;merasa nyaman, berani, gembira, takut, danmarah; serta bentuk-bentuk emosi lainnya. Pada aspek ini, remaja sangatdipengaruhi oleh interaksi dengan orangtuadan orang-orang di sekitarnya. Emosi yangberkembang akan sesuai dengan impulsemosi yang diterimanya. Misalnya, jikaremaja mendapatkan curahan kasihsayang, mereka akan belajar untukmenyayangi.
  • 4. MENURUT CROW & CROW (1958) PADA SAAT TERJADI EMOSI SERING KALI TERJADI PERUBAHAN-PERUBAHANPADA FISIK ANTARA LAIN : 1. Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona 2. Peredaran darah : bertambah cepat bila marah 3. Denyut jantung : bertambah cepat bila terkejut 4. Pernafasan : bernafas panjang kalau kecewa 5. Pupil mata : membesar bila marah 6. Liur : mengering kalau takut atau tegang 7. Bulu roma : berdiri kalau takut 8. Pencernaan : mencret-mencret kalau tegang 9. Otot : menegang dan bergetar saat ketakutan atau tegang 10. komposisi darah : akan ikut berubah karena emosi yang menyebabkan kalenjar-kalenjar lebih aktif.
  • 5. KARAKTERISTIK EMOSI REMAJA, MENURUTBIEHLER (1972)Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun 1. Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka 2. Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri 3. Kemarahan biasa terjadi 4. Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri 5. Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif
  • 6. • CIRI-CIRI EMOSIONAL REMAJA USIA 15-18TAHUN 1. “Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak- kanak menuju dewasa 2. Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka 3. Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka
  • 7. KEGIATAN BELAJAR JUGA TURUT MENUNJANG PERKEMBANGANEMOSI. METODE BELAJAR YANG MENUNJANG PERKEMBANGANEMOSI, ANTARA LAIN YAITU :1. Belajar dengan coba-coba Remaja belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan.2. . Belajar dengan cara meniru Remaja bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamatinya.
  • 8. 4. Belajar melalui pengkondisian Dengan metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka, setelah melewati masa kanak-kanak.
  • 9. 5. Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan Dengan pelatihan, remaja dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasa membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional yang tidak menyenangkan.
  • 10. PENGARUH EMOSI TERHADAP PERILAKU DANPERUBAHAN FISIK INDIVIDU :a. Memperkuat semangat bila merasa senang atas suatu keberhasilan.b. Melemahkan semangat apabila timbul rasa kekecewaan karena suatu kegagalan.c. Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar apabila individu dalam keadaan gugup.d. Terganggu penyesuaian sosial apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati.
  • 11. BENTUK EMOSI ( M.GOLLEMAN) Amarah Kesedihan Rasa takut Kenikmatan Cinta Terkejut Jengkel Malu
  • 12. FAKTOR YANG MEMPENGARUHIPERKEMBANGAN EMOSI REMAJA Perubahan jasmani Perubahan pola interaksi dengan orang tua Perubahan interaksi dengan teman sebaya Faktor pandangan luar Perubahan interaksi dengan sekolah










Makalah Perkembangan Emosi


BAB I
PEMBUKAAN
A.                Latar belakang
Emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah maupun pada tingkat yang luas.  Warna afektif disini dapat diartikan sebagai perasaan – perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi ( menghayati ) suatu situasi tertentu, contohnya gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci, tidak senang dan sebagainya ( Yusuf  Syamsu, 2006 ).
Pada umumnya perbuatan kita sehari–hari disertai oleh perasaan–perasaan tertentu, yaitu perasaan senang atau tidak senang. Perasaan–perasaan seperti ini biasanya disebut emosi. Beberapa macam emosi antara lain, gembira, bahagia, semu, terkejut, benci, senang, sedih, was – was dan sebagainya. Perasaan emosi biasanya disifatkan sebagai suatu keadaan dari diri individu pada suatu waktu. Misalnya, orang merasa sedih, senang, terharu dan sebagainya bila melihat sesuatu, mendengar sesuatu, mencium bau dan sebagainya. Dengan kata lain perasaan disifatkan sebagai suatu keadaan jiwa sebagai akibat adanya peristiwa – peristiwa yang pada umumnya datang dari luar dan peristiwa – peristiwa tersebut pada umumnya menimbulkan kegoncangan – kegoncangan pada individu yang bersangkutan.

B.                 Rumusan masalah
1.         Apa pengertian dari emosi?
2.         Apa ciri-ciri dari emosi?
3.         Apa saja pengelompokan dari emosi?
4.         Bagaimana perkembangan emosi berdasarkan periode perkembangan?
5.         Apa Faktor yang mempengaruhi perkembangan kematangan emosi?
6.         Apa pengaruh emosi terhadap perilaku dan perubahan fisik individu?
7.         Bagaimana implikasi perkembangan emosi bagi dunia pendidikan?

C.                 Tujuan
1.         Untuk mengetahui pengertian dari emosi
2.         Untuk mengetahui ciri-ciri dari emosi
3.         Untuk mengetahui pengelompokan dari emosi
4.         Untuk mengetahui bagaimana perkembangan emosi berdasarkan periode perkembangan
5.         Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kematangan emosi
6.         Untuk mengetahui Pengaruh Emosi Terhadap Perilaku dan Perubahan Fisik Individu
7.         Untuk mengetahui Implikasi perkembangan emosi bagi dunia pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN
A.                Pengertian Perkembangan
Perkembangan berarti perubahan individu baik secara struktur atau fungsi organ melalui kematangan dan proses belajar yang terjadi sepanjang hayat hingga meninggal dunia. Dalam perkembangan tidaklah terbatas pada semakin sempurna tetapi juga terkandung serangkaian perubahan secara terus menerus secara pasti, melalui suatu tahap yang sederhana ke tahap berikutnya yang semakin tinggi dan maju walaupun sulit diukur dengan alat ukur. 
Menurut Arnold Gesel, perkembangan merupakan suatu proses kematangan atau fisiologi. Selagi kematangan fisiologi tidak dicapai, apa saja yang dilakukan seperti berjalan tidak akan bisa tercapai.

Robert Havighurst menyatakan bahwa perkembangan seseorang anak-anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.Ini merupakan satu elemen penting yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak. Beliau memfokuskan kepada keadaaan sekeliling atau lingkungan di mana tempat seseorang anak-anak itu membesar yang akan memberi dan meninggalkan sama ada positif atau negatifq bergantung kepada ibu bapak yang memberikan ciri mereka
B.                 Pengertian Emosi
Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak.
Istilah emosi menurut Daniel Goleman (1995), seorang pakar kecerdasan emosional, yang diambil dari Oxford English Dictionary memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak.
Hurlock (1997:141) menyatakan bahwa perkembangan emosi anak-anak mengikuti pola yang dapat diramalkan, tetapi terdapat keanekaragaman dalam pola ini, karena tingkat kecerdasan, jenis kelamin, besarnya keluarga, pendidikan anak dan kondisi-kondisi lain.
Menurut Daniel Goleman, sesungguhnya ada ratusan emosi dengan berbagai variasi, campuran, mutasi, dan nuansanya sehingga makna yang dikandungnya lebih banyak, lebih kompleks dan lebih halus daripada kata dan definisi yang digunakan untuk menjelaskan emosi.
Kadang seseorang masih dapat mengontrol keadaan dirinya sehingga emosi yang dialami tidak tercetus keluar dengan perubahan atau tanda – tanda fisiknya.  Hal ini berkaitan dengan pendapat yang dikemukakan Ekman dan Friesen yang dikenal dengan display rules, yang dibagi menjadi tiga rules, yaitu maskingmodulation dan simulation.  Masking adalah keadaan seseorang yang dapat menyembunyikan atau dapat menutupi emosi yang dialaminya.  Emosi yang dialaminya tidak tercetus melalui ekspresi fisiknya, misalnya orang yang sangat sedih karena kehilangan anggota keluarganya, kesedihan tersebut dapat diredam atau ditutupi, dan tidak ada gejala fisik yang menyebabkan tampaknya perasaan sedih tersebut.  Sedangkan pada modulation seseorang tidak mampu meredam secara tuntas mengenai gejala fisiknya, tetapi hanya dapat menguranginya saja, misalnya karena sedih, ia menangis tetapi tidak terlalu kuat dan keras.  Pada simulation seseorang sebenarnya tidak mengalami emosi, tetapi ia seolah – olah mengalami emosi dengan menampakkan gejala – gejala fisik.  Display rules sebenarnya dipengaruhi oleh unsur budaya, misalnya adalah tidak etis kalau menangis dengan meronta – ronta di hadapan umum meskipun kehilangan keluarga yang sangat dicintainya ( Walgito Bimo, 2004 ).
C.                 Teori – Teori Emosi
Ada beberapa tokoh yang menjelaskan tentang istilah emosi dan proses terjadinya emosi, diantaranya :
a.   Canon Bard
Merumuskan teori tentang pengaruh fisiologis terhadap emosi.  Teori ini menyatakan bahwa situasi menimbulkan rangkaian proses pada syaraf.  Suatu situasi yang saling mempengaruhi antara thalamus ( pusat penghubung antara bagian bawah otak dengan susunan syaraf pusat, dan alat keseimbangan atau cerebellum dengan cerebral cortex  ( bagian otak yang terletak di dekat permukaan sebelah dalam dari tulang tengkorak, suatu bagian yang berhubungan dengan proses kerjanya seperti berpikir ).  Biasa disebut teori sentral dalam berpikir atau teori dengan pendekatan neurologis.
b.   Lindsey
      Mengemukakan teori penggerakan “ Activition Theory “.  Menurut teori ini, emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlalu keras dari susunan syaraf terutama pada bagian otak.  Contohnya apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf akan bekerja sangat keras sehingga menimbulkan sekresi kelenjar – kelenjar yang dapat meningkatkan kerja otak, sehingga menimbulkan emosi.
c.   John B. Watson
 Mengemukakan bahwa ada tiga pola dasar emosi, yaitu takut, marah dan cinta ( fear, anger, and love ).  Ketiga jenis emosi tersebut akan menunjukkan respon tertentu pada stimulus tertentu pula, namun kemungkinan dapat terjadi modifikasi ( perubahan ) ( Yusuf  Syamsu, 2006 ).



D.                Ciri – Ciri Emosi
Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri – ciri sebagai berikut :
a.   Lebih bersifat subyektif daripada peristiwa psikologis lainnya, seperti    pengamatan dan berpikir
b.   Bersifat fluktuatif ( tidak tetap )
c.   Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera
Mengenai ciri – ciri emosi ini dapat dibedakan antara emosi anak dan emosi pada orang dewasa sebagai berikut :
Emosi Anak
Emosi Orang Dewasa
1.
Berlangsung singkat dan berakhir tiba - tiba
1.
Berlangsung lebih lama dan berakhir dengan lambat
2.
Terlihat lebih hebat dan kuat
2.
Tidak terlihat hebat / kuat
3.
Bersifat sementara / dangkal
3.
Lebih
4.
Lebih sering terjadi
4.
Jarang terjadi
5.
Dapat diketahui dengan jelas dari tingkah lakunya
5.
Sulit diketahui karena lebih pandai menyembunyikannya


E.                 Bentuk-bentuk emosi
Meskipun emosi sedemikian kompleksnya, namun Daniel Goleman sempat mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu:
§     Amarah: di dalamnya meliputi sifat beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, berang, tersinggung dan kebencian patologis.
§     Kesedihan; di dalamnya meliputi pedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa dan depresi.
§     Rasa takut; di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, sedih, wasapada, tidak tenang dan pobia.
§     Kenikmatan; meliputi bahagia, gembira, ringan puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan inderawi, terpesona dan mania.
§     Cinta; meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, hormat, kasmaran, dan kasih sayang.
§     Terkejut; meliputi terkesiap, takjub dan terpana.
§     Jengkel; meliputi hina, muak, jijik, benci dan mau muntah.
§     Malu; meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, dan hati hancur lebur.

Dari daftar emosi di atas, berdasarkan temuan penelitian Paul Ekman dari University of California di San Fransisco, ternyata ada bahasa emosi yang dikenal oleh seluruh bangsa di dunia, yakni emosi yang diwujudkan dalam bentuk ekspresi wajah yang di dalamnya mengandung emosi takut, marah, sedih, dan senang. Dan ini benar-benar dikenali oleh bangsa seluruh dunia meski berbeda budaya, bahkan bangsa-bangsa yang buta huruf, yang belum tercemar oleh siaran televisi sekalipun mereka kenal. Dengan demikian, ekspresi wajah sebagai representasi dari emosi itu memiliki universalitas tentang emosi tersebut.

F.                  Pengelompokan Emosi
Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu emosi sensoris dan emosi kejiwaan ( psikis ).
a.   Emosi Sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang dan lapar.
b.   Emosi Psikis, yaitu emosi yang mempunyai alasan – alasan kejiwaan.  Yang termasuk emosi jenis ini diantaranya adalah :
1.      Perasaan Intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran.  Perasaan ini diwujudkan dalam bentuk :
            a.  rasa yakin dan tidak yakin terhadap suatu hasil karya ilmiah
            b.  rasa gembira karena mendapat suatu kebenaran
            c.  rasa puas karena dapat menyelesaikan persoalan – persoalan ilmiah yang harus dipecahkan
2.      Perasaan Sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok. Wujud perasaan ini seperti :
            a.  rasa solidaritas
            b.  persaudaraan ( ukhuwah )
            c.  simpati
            d.  kasih sayang, dan sebagainya
3.      Perasaan Susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai – nilai baik dan buruk atau etika ( moral ). Contohnya :
            a.  rasa tanggung jawab ( responsibility )
            b.  rasa bersalah apabila melanggar norma
            c.  rasa tentram dalam mentaati norma
4.      Perasaan Keindahan ( estetis ), yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dari sesuatu, baik bersifat kebendaan ataupun kerohanian
5.      Perasaan Ketuhanan, yaitu merupakan kelebihan manusia sebagai makluk Tuhan, dianugrahi fitrah ( kemampuan atau perasaan ) untuk mengenal; Tuhannya.  Dengan kata lain, manusia dianugerahi insting religius ( naluri beragama ).  Karena memiliki fitrah ini, maka manusia di juluki sebagai “ Homo Divinans “ dan “ Homo Religius “ atau makluk yang berke-Tuhan-an atau makluk beragama.

G.                Perkembangan Emosi berdasarkan periode perkembangan

1.                  Infant (masa bayi 0-2 tahun)
Perkembangan emosi yang terlihat sederhana dan reaksi emosionalnya dapat di timbulkan dengan berbagai macam rangsangan. Emosional pada bayi ialah : rasa takut, gembira,sedih, rasa ingin tahu.
                                          
2.                  Masa kanak-kanak awal
Emosi yang terjadi sangat kuat.Pada masa ini pula anak sangat perlu dibimbingan diarahkan karena emosinya yang tidak terarah. Emosi pada kanak-kanak masa awal : takut, cemburu,iri hati,ingin tahu,senang,sedih,marah,kasih sayang.

3.                  Masa kanak-kanak akhir
Poal perkemban gan yang terjadi pada masa kanak-kanak akhir tidak jauh berbeda dengan masa kanak-kanak awal.Ungkapan rasa senang, amarah, emosi yang berapi-api.

4.                  Masa  Remaja Awal
Masa ini terkadang membuat  remaja menjalani masa tekanan. Walaupun tidak semua reamaja mengalami ketidakstabilan sebagai konsekuensi penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan sosial baru.

5.                  Remaja akhir
Emosinya yang cenderung pemberontak. Karena sang anak akan memasuki masa-masa dimana terjadinya perubahan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa. Sehingga hal ini membuat mereka memikirkan masa depan.

6.                  Dewasa Awal
Perkembangan yang terjadi pada masa dewasa awal emosinya mengikuti faktor hormonal, dan masa ini pula mereka sudah dapat mengendalikan emosi.

7.                  Dewasa Madya
Pada masa dewasa madya pola emosi antara laki-laki dan perempuan berbeda.
Laki – laki : Karir (waktunya habis dalam pekerjaan/pensiun) akan mengalami frustasi atau beban kerja sehingga berpengaruh kepada emosinya. Pada perempuan : cenderung lebih stabil, namun lebih sering cepat mengalami masa menopause.

8.                  Masa Usia Lanjut
Salah satu contohnya adalah perubahan fisik pada lanjut usia mengakibatkan dirinya merasa tidak dapat mengerjakan berbagai aktivitas sebaik pada saat muda dulu. Hal ini menyebabkan lanjut usia kemudian menjadi menarik diri dari lingkungan sosial.
Munculnya rasa tersisih, tidak dibutuhkan lagi, ketidakikhlasan menerima kenyataan baru seperti penyakit yang tidak kunjung sembuh, kematian pasangan, merupakan sebagian kecil dari keseluruhan perasaan yang tidak enak yang harus dihadapi lanjut usia.

H.                Faktor yang mempengaruhi perkembangan kematangan emosi
Beberapa ahli psikologi menyebutkan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan kematangan emosi seseorang (Astuti, 2005), yaitu:
1.                   Pola asuh orang tua
Pola asuh orang tua terhadap anak bervariasi. Ada yang pola asuhnya menurut apa yang dianggap terbaik oleh dirinya sendiri saja, sehingga ada yang bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada juga dengan penuh cinta kasih. Perbedaan pola asuh dari orang tua seperti ini dapat berpengaruh terhadap Perbedaan perkembangan emosi peserta didik
Idealnya orangtua akan mengambil bagian dalam pendewasaan anak-anak karena dari kedua orangtua anak akan belajar mandiri melalui proses belajar sosial dengan modelling (Andayani dan koentjoro 2004)
2.                   Pengalaman traumatik
Kejadian-kejadian traumatis masa lalu dapat mempengaruhi perkembangan emosi seseorang, dampaknya jejak rasa takut dan sikap terlalu waspada yang ditimbulkan dapat berlangsung seumur hidup. Kejadian-kejadian traumatis tersebut dapat bersumber dari lingkungan keluarga ataupun lingkungan di luar keluarga (Astuti,2005)
3.                   Tempramen
Temperamen dapat didefinisikan sebagai suasana hati yang mencirikan kehidupan emosional kita. Hingga tahap tertentu masing- masing individu memiliki kisaran emosi sendiri-sendiri, temperamen merupakan bawaan sejak lahir, dan merupakan bagian dari genetik yang mempunyai kekuatan hebat dalam rentang kehidupan Manusia (astute, 2005)

4.                   Jenis kelamin
Perbedaan jenis kelamin memiliki pengaruh yang berkaitan dengan adanya perbedaan hormonal antara laki- laki dan perempuan, peran jenis maupun tuntutan sosial yang berpengaruh pula terhadap adanya perbedaan karakteristik emosi diantara keduanya(Astuti,2005).
5.                   Usia
Perkembangan kematangan emosi yang dimiliki seseorang sejalan dengan pertambahan usianya. Hal ini dikarenakan kematangan emosi dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan dan kematangan fisiologis seseorang. Ketika usia semakin tua, kadar hormonal dalam tubuh turut berkurang, sehingga mengakibatkan penurunan pengaruhnya terhadap kondisi emosi (Moloney, dalam Puspitasari Nuryoto 2001). Namun demikian, dalam hal ini tidak menutup kemungkinan seseorang yang sudah tua, kondisi emosinya masih seperti orang muda yang cenderung meledak- ledak. Hal tersebut dapat diakibatkan karena adanya kelainan- kelainan di dalam tubuhnya, khususnya kelainan anggota fisik. Kelainan yang tersebut dapat terjadi akibat dari pengaruh makanan yang banyak merangsang terbentuknya kadar hormonal.
6.                   Perubahan jasmani
Perubahan jasmani ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan yang sangat cepat dari anggota tubuh. Pada taraf permulaan petumbuhan ini hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan postur tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidak seimbangan tubuh ini sering mempunyai akibat yang tidak terduga pada perkembangan emosi peserta didik. Tidak setiap peserta didik dapat menerima perubahan kondisi tubuh seperti ini, lebih-lebih perubahan tersebut menyangkut perubahan kulit yang menjadi kasar dan penuh jerawat. Hormone-hormon tertentu mulai berfungsi sejalan dengan perkembangan alat kelaminnya sehingga dapat menyebabkan rangsangan di dalam tubuh peserta didik dan seringkali menimbulkan masalah dalam perkembangan emosinya
7.                   Perubahan interaksi dengan teman sebaya
Peserta didik sering kali membangun interaksi sesame teman sebayanya secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama dengan membentuk emacam geng. Interaksi antar anggotanya dalam suatu kelompok geng biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan solidaritas yang sangat tinggi. Fakor yang sering menimbulkan masalah emosi pada masa ini adalah hubungan cinta dengan teman lawan jenis. Gejala ini sebenarnya sehat bagi peserta didik, tetapi tidak jarang menimbulkan konflik atau gangguan emosi pada mereka jika tidak diikuti dengan bimbingan dari orang tua atau orang yang lebih dewasa
8.                   Perubahan Pandangan Luar.
Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan konflik-konflik emosional dalam diri peserta didik, yaitu:

a. Sikap dunia luar terhadap peserta didik sering tidak konsisten
b. Dunia luar atau masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk peserta didik laki-laki dan perempuan.

c. Seringkali kekosongan peserta didik dimamfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab. 
9.                   Perubahan interaksi dengan sekolah
Sekolah merupakan tempat pendidikan yang sangat diidealkan oleh pererta didik. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam kehidupan mereka karena selain tokoh intelektual, guru juga merupakan tokoh otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu tidak jarang anak-anak lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru daripada kepada orang tuanya. Posisi guru disini amat strategis apabila digunakan untuk pengembangan emosi anak melalui penyampaian materi-materi yang positif dan konstruktif.

I.                   Hubungan antara emosi dengan tingkah laku
Melalui teori “kecerdasan emosional” yang dikembangkannya, Daniel Goleman mengemukakan sejumlah ciri utama pikiran emosional sebagai bukti bahwa emosi memainkan peranan penting dalam pola berpikir maupun tingkah laku individu. Adapun ciri utama pikiran tersebut adalah sebagai berikut:
                         
1. Repons yang Cepat Tetapi Ceroboh

Pikiran yang emosional itu ternyata jauh lebih cepat dari pada pikiran yang rasional karena pikiran emosional sesungguhnya langsung melompat bertindak tanpa mempertimbangkan apapun yang akan dilakukannya. Karena kecepatannya itu sehingga sikap hati-hati dan proses analistis dalam berpikir dikesampingkan begitu saja sehingga tidak jarang menjadi ceroboh. Padahal, kehati-hatian dan analistis itu sesungguhnya merupakan ciri khas dari proses kerja akal dalam berpikir. Namun, demikian, di sisi lain pikiran emosional ini juga memiliki suatu kelebihan, yakni membawa rasa kepastian yang sangat kuat dan di luar jangkauan normal sebagaimana yang dilakukan oleh pikiran rasional. Misalnya, seorang wanita yang karena sangat takut dan terkejutnya melihat binatang yang selama ini sangat ditakutinya, maka dia mampu melompati parit yang menurut ukuran pikiran rasional tidak akan mungkin dapat dilakukannya.

2. Mendahulukan Perasaan Baru Kemudian Pikiran

Pada dasarnya, pikiran rasional sesungguhnya membutuhkan waktu sedikit lama dibandingkan dengan pikiran emosional sehingga dorongan yang lebih dahulu muncul adalah dorongan hati atau emosi, baru kemudian dorongan pikiran. Dalam urutan respon yang cepat, perasaan mendahului atau minimal berjalan serempak dengan pikiran. Reaksi emosional gerak cepat ini lebih tampak dalam situasi-situasi yang mendesak dan membutuhkan tindakan penyelamatan diri. Keputusan model ini menyiapkan individu dalam sekejap untuk siap siaga menghadapi keadaan darurat. Di sinilah keuntungan keputusan-keputusan cepat yang didahului oleh perasaan atau emosi. Namun demikian, di sisi lain, ada juga reaksi emosional jenis lambat yang lebih dahulu melakukan penggodongan dalam pikiran sebelum mengalirkannya ke dalam perasaan. Keputusan model kedua ini sifatnya lebih disengaja dan biasanya individu lebih sadar terhadap gagasan-gagasan yang akan dikemukakannya. Dalam reaksi emosional jenis ini, ada suatu pemahaman yang lebih luas dan pikiran memainkan peranan kunci dalam menentukan emosi-emosi apa yang akan dicetuskannya.

3. Memperlakukan Realitas Sebagai Realitas Simbolik

Logika pikiran emosional, yang disebut juga sebagai logika hati, itu bersifat asosiatif. Dalam arti memandang unsur-unsur yang melambangkan suatu realitas itu sama dengan realitas itu sendiri. Oleh sebab itu, seringkali berbagai perumpamaan, pantu, kiasan dan teater secara langsung ditujukan kepada pikiran emosional. Para ulama pensyiar agama dan para guru spiritual termasyhur pada umumnya dalam menyampaikan ajaran-ajarannya senantiasa berusaha menyentuh hati para pengikutnya dengan cara berbicara dalam bahasa emosi, dengan mengajar melalui perumpamaan, fabel, filsafat, ibarat dan kisah-kisah yang sangat menyentuh perasaan. Oleh karena itulah, ajaran-ajaran orang-orang bijak itu dengan cepat dan mudah dimengerti pikiran rasional, sesungguhnya simbol-simbol dan berbagai ritual keagamaan itu tidak sedemikian bermakna jika dibandingkan dengan sudut pandang pikiran emosional.

4. Masa Lampau Diposisikan Sebagai Masa Sekarang

Dari sudut pandang ini, apabila sejumlah ciri suatu peristiwa tampak serupa dengan kenangan masa lampau yang mengandung muatan emosi, maka pikiran emosional akan menanggapinya dengan memicu perasaan-perasaan yang berkaitan dengan peristiwa yang diingat itu. Pikiran bereaksi terhadap keadaan sekarang seolah-olah keadaan itu adalah masa lampau. Kesulitannya adalah, terutama apabila penilaian terhadap masa lampau itu cepat dan otomatis, barangkali kita tidak menyadari bahwa yang dahulu memang begitu, ternyata sekarang sudah tidak lagi seperti itu.

J.                   Pengaruh Emosi Terhadap Perilaku dan Perubahan Fisik Individu
Ada beberapa contoh pengaruh emosi terhadap perilaku individu diantaranya :
a.       memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil yang telah dicapai
b.      melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa ( frustasi ).
c.       menghambat atau mengganggu konsentrsi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan sikap gugup ( nervous ) dan gagap dalam berbicara.
d.      terganggu penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati
e.       suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.




Jenis Emosi
Perubahan Fisik
1.
Terpesona
1.
Reaksi elektris pada kulit
2.
Marah
2.
Peredaran darah bertambah cepat
3.
Terkejut
3.
Denyut jantung bertambah cepat
4.
Kecewa
4.
Bernapas panjang
5.
Sakit / Marah
5.
Pupil mata membesar
6.
Takut / Tegang
6.
Air liur mongering
7.
Takut
7.
Bulu roma berdiri
8.
Tegang
8.
Pencernaan terganggu, otot – otot menegang atau bergetar ( tremor )



















BAB III
PENUTUP
A.                Kesimpulan
Emosi pada prinsipnya menggambarkan perasaan manusia menghadapi berbagai situasi yang berbeda.Oleh karena emosi merupakan reaksi manusiawi terhadap berbagai situasi nyata, maka sebenarnya tidak ada emosi baik atau emosi buruk.Berbagai buku psikologi yang membahas masalah emosi seperti yang dibahas Atkinson (1983) membedakan emosi hanya 2 jenis yakni emosi menyenangkan dan emosi tidak menyenangkan. Dengan demikian emosi dapat dikatakan baik atau buruk hanya tergantung pada akibat yang ditimbulkan baik terhadap individu maupun orang lain yang berhubungan (Martin, 2003).

B.                 Implikasi Perkembangan Emosi Bagi Dunia Pendidikan
Dilihat dari tiga ranah yang biasa digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor, maka emosi adalah termasuk ke ranah afektif. Emosi banyak berpengaruh terhadap fungsi-fungsi psikis lainnya, seperti: pengamatan, tanggapan, pemikiran, dan kehendak. Individu akan mampu melakukan pengamatan atau pemikiran dengan baik jika disertai dengan emosi yang baik pula. Individu juga akan memberikan tanggapan atau respon yang positif terhadap suatu objek, manakala disertai dengan emosi yang positif pula. Sebaliknya, individu akan melakukan pengamatan atau tanggapan yang negatif terhadap suatu objek, jika disertai degnan emosi yang negatif terhadap objek tersebut.














Cara Mengendalikan dan Mengatasi Emosi - Emosi adalah ungkapan perasaan seseorang atas sesuatu hal, hal itu dapat datang dari orang lain maupun kejadian-kejadian yang menyangkut dengan dirinya. Tapi kebanyakan orang Indonesia hanya mengaitkan emosi dengan ungkapan marah atau kesal kepada suatu hal, dan jarang sekali mengaitkan dengan rasa senang, sedih dan ungkapan perasaan lainnya.
Emosi

Nah, kali ini kita akan membicarakan emosi yang menurut orang Indonesia kebanyakan, yaitu emosi yang menyangkut dengan rasa marah, jengkel, kecewa ataupun hal lainnya.
Memiliki emosi adalah hal wajar dan semua orang juga pernah mengalaminya bahkan semua orang memiliki kadar emosi yang sama, yang membedakannya adalah seberapa kuat anda dapat mengontrol emosi tersebut. Kadangkala seseorang sangat mudah emosi hanya melalui hal sepele yang terjadi padanya oranng yang seperti ini bisa disebut sebagai tempramental, dan ada juga orang yang sangat dapat mengontrol emosi walaupun beberapa hal menimpanya.

Bagi anda yang tak dapat mengontrol emosi dan sangat mudah meledak-ledak, tepat sekali kali ini kita akan membahas cara mengatasi emosi. Berikut hal-hal yang harus anda baca dan wajib anda lakukan:

Atasi Masalah
Untuk mengendalikan emosi anda yang pertama kali harus anda lakukan adalah mengatasi masalah anda. Karena kebanyakan orang yang mudah emosi memiliki masalah yang cukup pelik atau serius sehingga membauat moodnya mudah berubah.

Curhat
Manusia memang diciptakan sebagai makhluk sosial dan tak mungkin dapat hidup sendiri. Oleh karena itu anda harus menceritakan masalah yang anda hadapi kepada orang yang menurut anda dapat memberikan solusi atau bahkan dapat membantu.

Ubah Posisi Tubuh Anda
Jika anda sedang marah dalam keadaan berdiri, maka anda  harus duduk. Jika anda sedang duduk, maka berbaringlah. Ketika anda merubah posisi tubuh, kemudian otak akan meresponnya dan pikiran anda akan jernih kembali.

Coba Berpikir Tenang
Cobalah untuk diam sejenak dan bepikirlah mengapa dan kenapa anda harus marah?  Dan berpikirlah untuk memperbaiki keadaan yang sudah memburuk tersebut.

Cari Tempat Tenang
Sesudah anda memikirkannya, sekarang cobalah ketempat yang menurut anda paling tenang dan nyaman seperti sawah, pantai ataupun kebun. Ini dapat membantu pikiran anda kembali jernih. Jika perlu, bermalamlah beberapa hari agar anda dapat melupakan masalah ataupun mencari solusi masalah anda.

Cari Kesibukan Lain
Untuk melupakan emosi anda, anda harus menyalurkannya ke tempat lain dan pastinya harus hal yang positif.

Olahraga
Olahraga memang terbukuti dapat mengurangi rasa emosi anda  dan ini sudah dilakukan penelitiannya. Cobalah ke tempat fitnes sesekali, jikapun tidak anda juga dapat melakukannya dirumah.

Mendengarkan Musik
Musik sangat ampuh dalam merubah emosi seseorang, cobalah untuk mendengar jenis musik paling nyaman menurut anda ataupun dengarkanlah musik yang berjenis klasik ataupun jazz.

Hindari Stres
Karena kabanyakan orang mengalami emosi akibat dari masalah, masalah tersebut akan menumpuk dan menjadikan anda stres dan akan membuat mood anda tak stabi












cara mengatasi emosi menurut islam

Rasulullah saw, berwasiat kepada kita agar tidak emosi / tidak suka marah dalam menghadapi masalah. UNTUK MENGATASI EMOSI/MARAH, RASULULLAH MEMBIMBING KITA AGAR  BERWUDU’, BERDOA MOHON KEPADA ALLAH AGAR DIJAUHKAN DARI GODAAN SETAN. JIKA DALAM KEADAAN BERDIRI, HENDAKLAH DUDUK, JIKA TIDAK HILANG JUGA, MAKA HENDAKLAH IA BERBARING.

حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ هُوَ ابْنُ عَيَّاشٍ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ - فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ. (رواه البخاري : 5651 – صحيح البخاري - بَاب الْحَذَرِ مِنْ الْغَضَبِ- الجزء : 19 – صفحة : 74)
Dari Abu Hurairah ra, berkata : ADA SEORANG LELAKI BERKATA KEPADA NABI SAW : BERIKANLAH WASIAT KEPADAKU! BELIAU BERSABDA : JANGLAH ENGKAU EMOSI/MARAH. LAKI-LAKI ITU MENGULANGI KATA- KATANYA. BELIAU TETAP BERSABDA : JANGLAH ENGKAU EMOSI/MARAH. (HR.Bukhari)

 حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْمَعْنَى قَالَا حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا أَبُو وَائِلٍ الْقَاصُّ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عُرْوَةَ بْنِ مُحَمَّدٍ السَّعْدِيِّ فَكَلَّمَهُ رَجُلٌ فَأَغْضَبَهُ فَقَامَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ رَجَعَ وَقَدْ تَوَضَّأَ فَقَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي عَطِيَّةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ. . (رواه ابو داود : 4152 – سنن ابو داود -بَاب مَا يُقَالُ عِنْدَ الْغَضَبِ- الجزء : 12 – صفحة : 403)
Abu Wail Al-Qash ia berkata : Kami masuk menemui Urwah bin Muhammad Assa’dy, lalu ada seorang laki-laki berbicara dengannya hingga membuatnya marah. Lantas ia berdiri berwudu’, dan kembali lagi dalam keadaan telah berwudu’. Setelahn itu ia berkata : Ayahku telah menceritakan kepadaku, dari kakeku, ‘Athiyyah, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : SESUNGGUHNYA MARAH ITU DARI SETAN, DAN SETAN DICIPTAKAN DARI API, DAN API DAPAT DIPADAMKAN DENGAN AIR. MAKA APABILA SALAH SEORANG DARI KALIAN MARAH, MAKA HENDAKLAH BERWUDU’. (HR.Abu Dawud)

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ عَنْ أَبِي حَرْبِ بْنِ أَبِي الْأَسْوَدِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنَا إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.(رواه ابو داود : 4151 -سنن ابو داود -بَاب مَا يُقَالُ عِنْدَ الْغَضَبِ- الجزء : 12 – صفحة : 502)
Dari Abu Dzar, ia berkata : Bahwa Rasululllah saw bersabda kepada kami : APABILA SALAH SEORANG KALIAN MARAH/EMOSI DAN IA DALAM KEADAAN BERDIRI, HENDAKLAH IA DUDUK, JIKA MARAHNYA HILANG (MAKA ITU YANG DIKEHENDAKI), JIKA TIDAK (HILANG JUGA), MAKA HENDAKLAH IA BERBARING. (HR. Abu Dawud)

حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ أَحَدُهُمَا غَضَبًا شَدِيدًا حَتَّى خُيِّلَ إِلَيَّ أَنَّ أَنْفَهُ يَتَمَزَّعُ مِنْ شِدَّةِ غَضَبِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُهُ مِنْ الْغَضَبِ فَقَالَ مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ قَالَ فَجَعَلَ مُعَاذٌ يَأْمُرُهُ فَأَبَى وَمَحِكَ وَجَعَلَ يَزْدَادُ غَضَبًا.(رواه ابو داود : 4149 -سنن ابو داود -بَاب مَا يُقَالُ عِنْدَ الْغَضَبِ- الجزء : 12 – صفحة : 400)
Dari Mu’adz bin Jabal ia berkata : Ada dua orang laki-laki saling mencela di sisi Nabi saw. Salah seorang dari mereka sangat marah hingga aku berfikir hidungnya pecah karena marahnya yang memuncak. Nabi saw bersabda : Sungguh aku benar-benar tahu sebuah kalimat yang jika dibaca oleh seseorang maka akan hilang kemarahan yang dirasakan. Beliau membaca kalimat itu : “ALLAAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MINASY SYAITHAANIR RAJIIM” (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-MU dari godaan setan yangt terkutuk) – Perawi berkata : Mu’adz lantas menyuruh laki-laki itu untuk membaca kalimat tersebut, tetapi ia enggan (tidak mau membacanya), justru bertambahlah marahnya. (HR.Abu Dauwud)
Ya Allah, lapangkan dada kami, tenangkan jiwa kami dan bahagiakan hidup kami. Aamiin.
http://www.facebook.com/notes/sirajuddin-syamsul-arifin/emosi-dan-cara-mengatasinya/10150472438636640 












BAB IPENDAHULUANKecerdasan Emosi sebenarnya bukan suatu bahasan yang asing dalam Islam. Dalam telaah Alqurandan kehidupan Rasulullaah saw. tercantum bagaimana seorang muslim atau muslimah harusbersikap dalam menjalani hidup atau dalam mengelola emosinya.Menurut Definisi yang dilontarkan oleh dua orang ahli, dalam bukunya mengenai EQ dan IQ•A1995,Daniel Goldman, Kecerdasan Emosi adalah:1. Kemampuan untuk bisa mengenali emosi diri sendiri.2. Mengelola dan Mengekspresikan Emosi Diri dengan Tepat.3. Memotivasi Diri Sendiri4. Mengenali Emosi Orang lain5. Membina HubungaKecerdasan Intelektual bias diukur, ditunjuk dengan score2 tertentu, apakah tinggi, sedang, jenius, diatas rata2 atau dibawah rata2. Jelas bahwa kecerdasan intelektual yang tinggi berbicara tentangkemampuan minat intelektual yang dapat kita ramalkan. Sedangkan kecerdasan emosi (EQ) yangtinggi, berbicara mengenai tidak mudah takut atau gelisah, mudah bergaul dan jenaka, mampumelibatkan diri dengan orang lain atau dengan permasalahan, tanggung jawab dan simpatik, eratdalam hubungan sosial. Tidak bisa dipisahkan antara emosi dan rasio, semua bisa berjalanberiringan, ada hubungan intergratif antara IQ da EQ, terutama dalam masalah motivasi/ketekunan.
Definisi kecerdasan emosi:
1. Mengenali Emosi Diri SendiriMengenali emosi diri sendiri merupakan syarat utama. Mengenali emosi diri berarti mewaspadaiterhadap suasana hati atau terhadap pikiran tentang suasana hati sendiri, artinya harusmemposisikan diri sebagai pengontrol emosi, bukan sebagai yang dikontrol emosi.2. Mengelola dan Mengekspresikan Emosi.Ketika kita mampu mengelola dan mengekspresikan emosi, maka keuntungannya kita akan mampulebih cepat menguasai perasaan, dan kembali membangkitkan kehidupan emosi yang normal.Contoh ketika orang yang kita cintai dipanggil Allah Swt, reaksi orang akan bereda-beda. Akanberbeda orang yang bisa menguasai emosi dengan orang yang terhanyut, walaupun sama-samacerdas. Orang yang cepat menguasai perasaan, akan cepat pula bangkit dalam perasaan yangnormal. Hal ini akan lebih baik, karena bisa kembali dalam menjalani kehidupannya. Berbeda denganorang yang tidak bisa menguasai emosinya.3. Memotivasi Diri SendiriDiharapkan dapat memotivasi diri sendiri untuk dapat bekerja mencapai tujuan



 
4. Mengenali Emosi orang lain.Ketika kita bisa mengenali emosi diri sendiri, insyaAllah kita akan bisa juga mengenali emosi oranglain. Bisa berempati, bisa merasakan apa yang orang lain rasakan tanpa harus terhanyut. Emosi jarang terungkap dalam bentuk verbal.. Biasanya akan lebih mudah terlihat dari bahasa non-verbalyang mencakup sekitar hampir 90%. Bahasa non-verbal ini juga lebih bisa dipercaya. Ketika kita bisamengenali emosi orang lain , merupakan modal kita untuk bisa hangat dengan orang lain, lebih peka,dan lebih bisa menyesuaikan diri.5. Membina Hubungan dengan Orang Lain.Dalam hal ini point terpenting adalah mengetahui prinsip
 –
prinsip bahwa jangan takut untukberbeda, berbeda itu tidak selamanya buruk, jangan selalu berkorban untuk kepentingan orang lain, jangan mengorbankan prinsip kita hanya untuk menyenangkan orang lain.
Mengendalikan emosi
Emosi dan perasaan akan bergolak dikarenakan dua hal, yaitu kegembiraan yang memuncak dan musibah yang berat. Dalam sebuah hadist Rasulul
lah bersabda, “sesungguhnya aku
melarang dua macam ucapan yang bodoh lagi tercela: keluhan tatkala mendapat nikmat dan
umpatan tatkala mendapat musibah”.
 Dan Allah berfirman,
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa
yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yangdiberikan-
Nya kepadamu)” (QS. Al
-Hadid: 23)

Maka dari itu Rasulullah bersabda, “sesungguhnya kesabaran itu ada pada benturan yang pertama”.
 Barangsiapa mampu menguasai perasaannya dalam setiap peristiwa, baik yag memilukan dan juga menggembirakan, maka dialah orang yang sejatinya memiliki kekukuhan iman danketeguhan keyakinan. Karena itu pula, ia akan memperoleh kebahagiaan dan kenikmatandikarenakan keberhasilannya mengalahkan nafsu. Allah swt menyebutkan bahwa manusiaadalah makhluk yang senang bergembira dan berbangga diri. Namun menurut Allah, ketikaditimpa kesusahan manusia mudah berkeluh kesah, dan ketika mendapat kebaikan manusiasangat kikir. Akan tetapi, tidak demikian h
alnya dengan orang yang khusyu‟ dalam shalatnya.
Itu karena merekalah orang-orang yang mampu berdiri seimbang di antara gelombangkesedihan yang keras dan dengan luapan kegembiraan yang tinggi. Dan mereka itulah yangakan senantiasa bersyukur tatkala mendapat kesenangan dan bersabar tatkala berada dalamkesusahan.Emosi yang tak terkendali hanya akan melelahkan, menyakitkan, dan meresahkan diri sendiri.Sebab, ketika marah, misalnya, maka kemarahan akan meluap dan sulit dikendalikan. Dan ituakan membuat seluruh tubuhnya gemetar, mudah memaki siapa saja, seluruh isi hatinyatertumpah ruah, nafasnya tersengal-sengal, dan ia akan cenderung bertindak sekehendak nafsunya. Adapun saat mengalami kegembiraan, ia menikmatinya secara berlebihan, mudahlupa diri, dan tak ingat lagi siapa dirinya.Begitulah manusia, ketika tidak menyukai seseorang, ia cenderung menghardik danmencelanya. Akibatnya, seluruh kebaikan orang yang tidak ia sukai itu tampak lenyap begitu























EMOSI MENURUT AL-QUR’ÂN

Pendahuluan
Suatu hal niscaya dalam kehidupan manusia adalah fakta tentang sikap dan perilaku sehari-hari yang mencerminkan perasaan seperti rasa senang, sedih, marah, jengkel, muak, dan sebagainya. Tidak jarang dijumpai seseorang yang wajahnya berubah menjadi merah padam (dalam ungkapan al-Qur’ân, muswaddan), pucat pasih, atau berseri-seri (musfirah), karena ada peristiwa emosional yang dialaminya saat itu. Hanya saja, ungkapan yang sering digunakan oleh masyarakat sehari-hari untuk memaknai emosi sering kali terbatas pada sikap dan perilaku marah saja. Padahal, cakupan emosi itu amatlah luas, tidak hanya terbatas pada sikap dan perilaku marah. Orang yang takjub saja, sebagaimana yang dialami istri Nabi Ibrahim ketika di usia senjanya dikabari akan memperoleh anak (Q.S. Hûd [11]: 72), sekelompok wanita terhormat berdecak kagum menyaksikan ketampanan Nabi Yusuf (Q.S. Yûsuf [12]: 30-32). Atau, orang-orang yang diidentifikasi sebagai al-bakkâûn, yakni mereka yang mencucurkan air mata sedih karena tidak bisa ikut dalam suatu perang membela Islam (Q.S. al-Tawbah [9]: 92). Sementara yang bersifat eksplosif seperti yang ditunjukkan oleh Nabi Musa ketika marah kepada kaumnya lalu melampiaskannya dengan membanting prasasti (al-alwâh) yang ada di tangannya (Q.S. al-A‘râf [7]: 150). Pendek kata, emosi yang dialami manusia cakupannya sangat luas, sehingga Daniel Goleman (1997:411) menggambarkan bahwa kosakata yang kita miliki tak mampu menyebutkan secara persis keseluruhan emosi yang kita rasakan. Namun, para ahli mencoba mengklasifikasi emosi menjadi dua kelompok besar: emosi dasar (primer emotion) dan emosi campuran (mixed emotion).
Jenis emosi yang telah disepakati oleh para ahli sebagai emosi dasar adalah: emosi senang/bahagia (joy, الابتهاج), marah (anger, الغضب), sedih (sadness, الحزن), takut (fear, الخوف), benci/jijik (disgust, الاشمئزاز), dan heran/kaget (surprise, المفاجأة). Para ahli menyimpulkan bahwa keenam emosi ini yang diidentifikasi dirasakan oleh semua manusia di dunia. Emosi-emosi dasar tersebut adakalanya bercampur antara satu dan yang lain, misalnya antara marah dan benci, heran dan takut, benci dan rindu, dan sebagainya. Percampuran itu bisa terjadi sangat variatif sehingga sulit dipilah dan diberi nama, persis percampuran tiga warna dasar (magenta, biru, kuning) yang memungkinkan terciptanya nuansa warna tak berhingga.
Keterbangkitan emosi ditandai oleh adanya perubahan faali (fisiologis) dan terekspresikan dalam bentuk sikap atau tingkah laku. Perubahan faali di saat emosi oleh al-Qur’ân diindikasikan antara lain dalam bentuk degup jantung (‘wajilat qulūbuhum’ – Q.S. al-Anfâl [8]: 2, Q.S. al-Hajj [22]: 35), GSR (galvanic skin response) atau reaksi kulit (‘taqsya‘irru minhu julûd …’ – Q.S. al-Zumar [39]: 23), reaksi pupil mata (‘tasykhashu fîh al-abshâr’ – Q.S. Ibrâhîm [14]: 42; Q.S. al-Anbiyâ’ [21]: 97), reaksi perna­pasan (‘shadrahû dhayyiqan’ – Q.S. al-An‘âm [6]: 125, Q.S. al-Hijr [15]: 97, Q.S. al-Syu‘arâ’ [26]: 13 atau ungkapan seperti ‘balaghat al-qulûb al-hanâjir’ – Q.S. al-Ahzâb [33]: 10). Sedangkan ekspresi yang dapat disaksikan antara lain wajah berseri-seri bahagia (‘wujûhun yawma’idzin musfirah, dhâhikah mustabsyirah’ – ‘Abasa [80]: 38-39), wajah hitam pekat atau merah padam (‘wajhuhû mus­waddâ’ – Q.S. al-Nahl [16]: 58; Q.S. al-Zumar [39]: 60; Q.S. al-Zukhruf [43]: 17), pandangan tidak konsentrasi (‘zâghat al-abshâr’ – Q.S. al-Ahzâb [33]: 10; Shâd [38]: 63; Q.S. al-Najm [53]: 17), menutup telinga karena ketakutan (‘yaj’alûna ashâbi‘a-hum fî âdzâni-him min al-shawâ‘iq hadzara al-mawt’ – Q.S. al-Baqarah [2]: 19), menggigit ujung jemari (‘adhdhû ‘alaykum al-anâmila min al-ghayzh’ – Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 119), reaksi kinestetis dengan membolak-balik telapak tangan karena kesal (‘yuqallibu kaffayh’ – Q.S. al-Kahf [18]: 42).
Ekspresi wajah merupakan ekspresi paling umum terjadi ketika seseorang mengalami peristiwa emosi. Gambaran al-Qur’ân tentang ekspresi wajah yang berseri-seri atau muram berdebu (Q.S. ‘Abasa [80]: 38-40) atau ekspresi bagian-bagian dari wajah boleh jadi karena wajah adalah cerminan jiwa manusia yang bersifat universal dan lintas kultural, dikenali oleh berbagai etnis di dunia dengan pola-pola yang sama. Ia bersifat bawaan (heredity) karena ternyata bayi yang terlahir buta tuli sekalipun mampu melakukannya, meskipun kemudian diperkaya oleh berbagai pengalaman dalam berinteraksi dengan orang lain. Menurut Davidoff (1987:327): “We saw that people everywhere communicate basic emotions with the same facial expressions and find it easy to identify basic emotions from facial expressions. We described how young babies, including those born blind and deaf, use these same expressions to communicate their feelings. The universality of basic facial expressions suggests that they are programmed into human beings by heredity.” (Kita menyaksikan bahwa manusia di bagian dunia manapun mengomunikasikan emosi dasar dengan ekspresi wajah yang sama, dan kita pun mendapatkan bahwa suatu hal yang mudah untuk mengenali emosi dasar melalui ekspresi wajah. Kita menggambarkan bagaimana seorang bayi, termasuk mereka yang dilahirkan dalam keadaan buta dan tuli, menggunakan ekspresi yang sama ini untuk mengomunikasikan perasaan mereka. Universalitas ekspresi wajah dasar ini mengisyaratkan bahwa hal itu diprogramkan ke dalam diri manusia secara turun-temurun).

Emosi Dasar dalam al-Qur’ân
Kosakata yang berdenotasi emosi tidak dijumpai secara spesifik di dalam al-Qur’ân, tetapi bertebaran ayat yang berbicara atau berkaitan dengan perilaku emosi yang ditampilkan manusia dalam berbagai peristiwa kehidupan. Ungkapan al-Qur’ân tentang emosi digambarkan langsung bersama peristiwa yang sedang terjadi. Berbagai peristiwa emosional dijelaskan oleh al-Qur’ân meskipun topik utamanya (main topic) bukan masalah emosi. Emosi yang muncul pada umumnya merupakan gambaran selintas terkait dengan main topic yang sedang dijelaskan atau diceritakan, sehingga mufasir pun kadang-kadang tidak tertarik untuk menjelaskan secara rinci hal itu.
Berikut ini akan dijelaskan emosi-emosi dasar yang diisyaratkan oleh al-Qur’ân dalam kaitannya dengan sejarah peradaban umat manusia di masa lampau, sikap dan perilaku mereka yang terus berlangsung, serta gambaran emosi manusia dalam kehidupan di akhirat, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan (tak dikehendaki).

A.    Emosi Senang
Emosi senang umumnya didefinisikan sebagai segala sesuatu yang membuat kepuasan dalam hidup. “We define happiness as overall satisfaction with life”. Perasaan senang (cinta, gembira, puas, bahagia) adalah kondisi-kondisi yang senantiasa didambakan oleh setiap individu apa pun latar belakangnya. Hal yang mungkin berbeda adalah persepsi terhadap sesuatu yang dapat membuat orang senang. Sebagian menjadikan ukuran kesenangan itu pada harta yang melimpah, kesehatan yang prima, jabatan yang bergengsi, atau keluarga yang rukun dan sejahtera, sementara yang lain pada hal-hal di luar itu. Oleh karena itu, objek yang dapat membuat orang senang atau bahagia tidak bisa diukur sama untuk semua individu. Namun, secara umum al-Qur’ân menyatakan bahwa manusia memi­liki predisposisi senang kepada wanita (lawan jenis), anak cucu, harta yang melimpah, kendaraan mewah, dan kekayaan lainnya (Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 14).
Ekspresi emosi senang dijumpai dalam beberapa ayat al-Qur’ân yang dengan jelas mengung­kapkan terjadinya perubahan-perubahan pada wajah menjadi berseri-seri yang dapat diamati oleh orang lain yang menyaksikannya. Ayat-ayat al-Qur’ân tersebut misalnya Q.S. al-Insân [76]: 11; ‘Abasa [80]: 38-39; al-Muthaffifîn [83]: 22-24; al-Insyiqâq [84]: 7-9. Q.S. ‘Abasa [80]: 38-39:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ 0 ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ 
Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria.” (Q.S. ‘Abasa [80]: 38-39)
Menurut al-Thabarî (1405 H), kata musfirah dalam ayat tersebut berasal dari asfar, yaitu ungkapan dalam bahasa Arab untuk menyebut wajah yang cantik (bersinar). Cahaya subuh juga disebut asfar ketika mulai bersinar, bahkan setiap yang bersinar dikatakan musfir. Wajah yang musfirah adalah wajah berseri-seri yang memancarkan sinar kegembiraan karena mendapatkan suatu kenikmatan.
Ungkapan emosi senang di dalam al-Qur’ân sangat beragam. Senang meraih kenikmatan dan terhindar dari kesulitan misalnya dijumpai dalam Q.S. Hûd [11]: 10; al-Rûm [30]: 36; al-Syûrâ [42]: 48; Âlu ‘Imrân [3]: 170; Yûnus [10]: 58; Yûsuf [12]: 33-34. Senang terhadap lawan jenis (Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 14; al-Rûm [30]: 21; Yûsuf [12]: 30-32), senang terhadap harta (al-Fajr [89]: 20; al-‘Âdiyât [100]: 8; al-Kahf [18]: 34; al-Ra‘d [13]: 26), senang memberi atau menerima (al-Hasyr [59]: 9; al-Naml [27]: 36; al-Tawbah [9]: 58-59; al-Insân [76]: 8-9; al-Nisâ’ [4]: 4). Sementara senang terhadap hasil usaha (prestasi) dapat dilihat misalnya dalam Q.S. al-Rûm [30]: 2-4; al-An‘âm [6]: 135; Âlu ‘Imrân [3]: 188; Ghâfir [40]: 83. Ada pula bentuk kesenangan yang menyimpang dari fitrah kemanusiaan, yaitu jika seseorang senang terhadap kesulitan orang lain (Âlu ‘Imrân [3]: 120; al-Tawbah [9]: 50). Jenis yang terakhir ini tentu harus dihindari karena bertentangan dengan ajaran agama.
Kata fariha (gembira, senang) yang disebutkan dalam beberapa ayat di atas merupakan gambaran suasana hati ketika dapat merasakan kepuasan begitu men­dapat­kan apa yang diinginkan. Demikian pendapat al-Baghawî (1407 H) yang menyata­kan: “الفَرَحُ: لَذَّةٌ فِى القَلْبِ بِنَيْلِ المُشْتَهَى. Objek yang menimbulkan emosi senang bersifat sangat personal. Nabi Yusuf sangat senang ketika doanya terkabul untuk masuk penjara sebagai usaha menghindari godaan para wanita yang tertarik padanya (Q.S. Yûsuf [12]: 33-34).
Sedangkan Q.S. al-Hasyr [59]: 9 turun dalam kasus Abu Thalhah (yang lain menyebut Tsâbit ibn Qays, atau Abû Nashr Abd al-Rahîm) yang begitu berempati kepada tamunya ‘pengungsi’ dari kaum Muhajirin. Ia sendiri kesulitan dalam hidupnya tetapi masih tetap mengutamakan tamunya meski harus memberikan makanan yang tadinya untuk anak balitanya. Walaupun ayat ini turun untuk apresiasi terhadap emosi senang yang ditunjukkan seorang Ansar kepada Muhajirin, namun kondisi itu merata pada hampir semua kaum Anshar. Faktor senang membantu tamu-tamu itu merupakan gejala umum di masyarakat Madinah. Mereka memberi apa yang dibutuhkan oleh tamu-tamunya meskipun sebenarnya mereka juga butuh, termasuk mereka yang memiliki istri lebih dari satu dengan rela diberikan kepada tamu-tamu Muhajirin.
Hal yang kontras terjadi adalah apa yang dijelaskan dalam Q.S. al-Taubah [9]: 58-59. Ayat ini turun pada kasus Ibn Dzu al-Khuway­sharah al-Tamimi (atau pada Abu al-Jawaz, atau Abu al-Jawth–ada yang menyebutnya, munafik), ia memprotes keadilan Rasulullah ketika mem­bagi sedekah dan harta rampasan perang (ghanîmah, al-fay’) karena ia tidak mendapat bagian. Orang-orang munafik ketika mendapat bagian mereka meluapkan kesenangan, tetapi ketika tidak, serta-merta mereka menggerutu dan marah. Atau, ketika mendapat banyak amat senang, tapi ketika sedikit mereka jengkel “إن أعطوا كثيرا فرحوا وإن أعطوا قليلا سخطوا.
Q.S. al-Rûm [30]: 2-4 menggambarkan kekalahan dan kemenangan dua kekuatan imperium di abad VII, Romawi Timur dan Persia (yang mendapat simpati dari kaum musyrik Mekah). Kemenangan terhadap lawan (tanding) merupakan prestasi. Sebuah prestasi, apakah diukir sendiri atau oleh orang yang mendapat simpati dan dukungan kita, membawa kepuasan tersendiri. Semakin susah prestasi itu diperoleh, semakin tinggi pula nilai kepuasannya. Menurut McClelland pada diri manusia terdapat kebutuhan untuk berprestasi yang dikenal dengan istilah n-Ach (need for achievement).
Senyampang dengan itu, al-Qur’ân melarang manusia melampiaskan emosi senangnya dengan berlebih-lebihan, cara-cara yang tak lazim, atau akibat kesombongan dan maksiat (Q.S. al-Qashash [28]: 76; Ghâfir [40]: 75-76; al-Hadîd [57]: 23). Larangan mengungkapkan emosi senang yang terdapat pada 28:76 hendaklah dipahami sebagai emosi senang yang berlebihan dan yang membawa pada kebanggaan terhadap diri sendiri sebagai­mana yang dilaku­kan oleh Qarun ibn Yushar ibn Qahits ibn Lawi. Karena ternyata harta kekayaan dan pernik-pernik duniawi dapat membangkitkan emosi senang berlebihan dan dapat men­jauhkan manusia dari Allah. Menurut al-Baydhâwî bahwa ketidaksukaan Allah kepada orang yang mengungkapkan kegembiraannya (seperti dapat dibaca pada Q.S. al-Qashash [28]: 76) adalah jika dilaku­kan secara berlebih-lebihan dan semata-mata dalam hal keduniawian yang menye­bab­kan manusia lupa pada eksistensi Tuhan sebagai sumber kesenangan itu. Apalagi jika ungkapan emosi senang itu terjadi karena kemaksiatan yang dilakukan, sebagaimana dijelaskan Q.S. Ghâfir [40]: 75.

B.     Emosi Marah
Emosi marah adalah emosi yang paling dikenal dalam percakapan sehari-hari, bahkan sering dianggap perilaku marah identik dengan emosi. Tingkah laku yang menyertai emosi marah sangat beragam mulai dari tindakan diam atau menarik diri (withdrawal) hingga tindakan agresif yang dapat mence­derai atau mengancam nyawa orang lain. Pemicunya juga sangat beragam, dari hal-hal yang sangat sepele sampai pada pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. Pada umumnya emosi marah pada manusia dikenali dengan terjadinya perubahan pada raut muka (tegang, merah padam), nada suara yang berat, anggota badan bergetar, atau sikap siap menyerang. Atau, agresivitas itu tidak menggejala karena disembunyikan dengan alasan-alasan tertentu.
Faktor penyebab keterbangkitan emosi marah ada yang bersifat eksternal dan ada pula yang bersifat internal. Faktor eksternal adalah stimuli yang datang dari luar diri kita, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam seperti cuaca, gangguan alam, atau yang lain. Sedangkan faktor internal datang dari dalam diri manusia sendiri atau sering juga disebut sebagai faktor personal. Orang yang tempramental sangat mudah tersinggung dan terpancing untuk melampias­kan emosi marahnya ketimbang dengan orang penyabar. Sikap dan tingkah laku marah dimiliki oleh semua makhluk, bahkan Allah sebagai al-Khâliq dapat marah (murka). Allah marah kepada orang yang membunuh manusia tanpa haq, musyrik, munafik, bersumpah palsu, dan sebagainya.
Gejala-gejala emosi marah yang muncul dalam sikap dan perilaku manusia yang direkam oleh al-Qur’ân dalam berbagai peristiwa, ekspresi, dan tindakan. Salah satu di antaranya, Q.S. al-A‘râf [7]: 150:
وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلاَ تُشْمِتْ بِيَ الأَعْدَاءَ وَلاَ تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?’ Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: ‘Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim.”
Ekspresi emosi marah dalam penuturan al-Qur’ân dijumpai dalam semua bentuk ekspresi. Pertama, ekspresi marah dengan perubahan pada raut muka dijumpai misalnya dalam Q.S. al-Nahl [16]: 58-59; al-Zukhruf [43]: 7 (ketika orang-orang jahiliah mendapatkan bayi perempuan). Kedua, ekspresi marah dengan kata-kata diungkapkan Q.S. Thaha [20]: 86; al-Qalam [68]: 48; al-Anbiyâ’ [21]: 87-88 (peristiwa Nabi Musa yang kesal kepada saudara­nya, Harun; dan peristiwa Nabi Yunus yang kesal kepada kaumnya lalu pergi menjauh dan kemudian ditelan ikan–kekesalan berganda). Ketiga, ekspresi emosi dengan tindakan dapat dibaca pada Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 119; al-A‘râf [7]: 150 (orang-orang kafir musyrik menggigit jari-jemarinya karena marah yang bercampur benci kepada kaum Muslimin; dan peristiwa Nabi Musa melempar prasasti/alwâh ketika menjumpai kaumnya menyembah al-‘ijl). Keempat, ekspresi marah dengan diam digambarkan misalnya oleh Q.S. Yûsuf [12]: 84-85; 12:77 (Nabi Ya’qub berpaling dari anak-anaknya yang bersekongkol ‘membunuh’ Yusuf; dan Yusuf menahan marah atas fitnah saudara-saudaranya kepada dirinya).
Betapa banyak peristiwa emosi marah yang selalu kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari akibat dari tidak tercapainya sesuatu yang diinginkan. Orang bisa berteriak, memaki, membentak, menendang, menempeleng, menggebrak meja, membanting gelas, menggerutu, melotot, atau tindakan lainnya hanya karena harapannya tak kesampaian. Rekaman peristiwa di dalam al-Qur’ân telah mencatat aneka macam tingkah laku manusia ketika berbagai keinginannya gagal tercapai. Ada yang memutarbalik­kan fakta untuk mencelakakan orang yang menjadi penghalang harapan-harapannya itu (Q.S. Yûsuf [12]: 25-28). Ada yang meng­ajak perang tanding untuk menampil­kan kehebat­an yang dimilikinya agar dapat disaksikan oleh khalayak (Q.S. Thaha [20]: 63-70). Ada pula yang berusaha mengusir orang yang menjadi perintang keinginan-keinginan mereka dengan deportasi ke luar negeri mereka (Q.S. al-Naml [27]: 54-56). Dan, aneka respons emosional yang muncul di saat harapan tak kesampaian: menggerutu kalau hanya mendapat sedikit bagian zakat (Q.S. al-Tawbah [9]: 58); kesal kalau dzikrullâh mendominasi percakapan (Q.S. al-Zumar [39]: 45); jengkel yang melanda orang kafir ketika tak mampu memperdayakan dan mengalahkan orang mukmin padahal jumlah personel dan teknologi perang mereka lebih unggul (Q.S. al-Ahzâb [33]: 25).
Keterbangkitan (arousal) emosi marah kadang-kadang bermula dari percakapan biasa, tawa canda yang kemudian menyerempet ke harga diri, hingga provokasi yang disengaja untuk membang­kitkan emosi marah. Harga diri (self esteem), pembelaan pada simbol identitas, dan perebutan teritori adalah hal yang paling sering memunculkan emosi marah. Fir‘aun merasa kekuasaannya dilecehkan lalu memprovokasi masyarakat untuk mengirimkan pemberaninya melawan Musa dan pengikutnya (Q.S. al-Syu‘arâ’ [26]: 53-55).
Personifikasi juga terjadi dalam menggambarkan emosi marah. (Personifikasi sering muncul karena gaya bahasa al-Qur’ân yang puitis, meskipun ia bukan buku sastra. Bertanya pada negeri “…وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ[Q.S. Yûsuf [12]: 82], benda-benda angkasa terma­suk planet-planet patuh kepada Tuhannya “وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ[Q.S. al-Insyiqâq [84]: 2,5], langit dan bumi tidak menangisi mereka “…فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ[Q.S. al-Dukhân [44]: 29], adalah contoh-contoh personifikasi al-Qur’ân yang harus dipahami sesuai dengan konteksnya). Q.S. al-Mulk [67]: 6-8 dan al-Furqân [25]: 12 menggambarkan tentang kegeraman neraka ketika dimasuki para pendosa. Menurut Ibn Katsir, kemarahan neraka digam­barkan hampir-hampir memisahkan bagian demi bagian akibat amarah yang dahsyat kepada penghuninya.

C.    Emosi Sedih
Dalam kenyataan hidup sehari-hari tidak selamanya manusia bergem­bira, adakalanya juga bersedih. Sedih karena gagal meraih sukses, mendapat kesulitan, ditinggal orang yang dicintai, atau sebab yang lain. Begitulah kehi­dup­an terjadi silih berganti (Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 140). Tertawa atau menangis sudah merupakan bawaan (naluri, gharîzah) karunia dari Allah. Dari sejak lahir manusia sudah pandai menangis dan tersenyum. Setelah mulai menapaki kehidupan orang belajar dari lingkungannya kapan tempatnya tertawa dan kapan pula menangis. Q.S. al-Najm [53]: 43 menjelaskan:
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”
Kesedihan memang sesuatu yang tidak diharapkan, tetapi senang atau tidak senang, pasti mampir juga dalam perjalanan hidup manusia. Rasulullah saw. sendiri pernah mengalami kesedihan bertubi-tubi, antara lain ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihinya dalam selang waktu relatif singkat, sehingga tahun kejadian itu dikenal dalam sejarah sebagai âm al-huzn (tahun kesedih­an, tahun 619 H). Cobaan yang dialaminya cukup berat sampai tiba saatnya men­dapat kelapangan (al-insyi­râh, enlight­en­ment, pencerahan). Kesedihan berganti dengan kebahagiaan, beban berat terlewati, dan memang sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Sungguh! (Q.S. al-Insyirâh [94]: 1-8).
Pada umumnya, yang kita kenali dalam ekspresi emosi sedih adalah tangis. Akan tetapi, tidak berarti bahwa setiap orang yang menangis pasti bersedih, karena ternyata ada tangis bahagia, tangis haru, atau bahkan ada tangis pura-pura seperti terjadi pada kisah saudara-saudara Yusuf. Ekspresi lain adalah raut wajah yang menggambarkan suasana hati ketika sedang bersedih: dingin, pucat, pandangan lesu, tanpa senyum, tidak bergairah.
Beberapa ayat al-Qur’ân menjelaskan model-model ekspresi emosi sedih yang diperankan oleh manusia. Pertama, ekspresi emosi sedih dengan cucuran air mata yang memancarkan perasaan yang dialami (Q.S. al-Tawbah [9]: 92); kedua, tangis yang dibuat-buat untuk memberi kesan kesedihan atau sandiwara (Q.S. Yûsuf [12]: 15-16); ketiga, ekspresi sedih dalam bentuk perilaku menarik diri (withdrawal, tawallâ) disertai mata yang berkaca-kaca (Q.S. Yûsuf [12]: 84-86).
Pada umumnya, kesedihan muncul ketika seseorang ditimpa kesulitan, kemalangan, atau kondisi-kondisi yang sangat tak diharapkan lainnya. Penyebab kesedihan pasti akan mampir dalam setiap kehidupan manusia, hanya tinggal bagaimana orang itu memaknai setiap peristiwa yang dialaminya, lihat Q.S. Fushshilat [41]: 49; al-Ma‘ârij [70]: 19-22; Ghâfir [40]: 18; al-Zukhruf [43]: 17; Shâd [38]: 27; Âlu ‘Imrân [3]: 191. Orang mukmin sejati yang senantiasa memelihara ketakwaannya sangat pandai memaknai setiap peristiwa yang terjadi sehingga mereka tidak mudah larut dalam kesedihan atau keputusasaan (Q.S. al-An‘âm [6]: 48; Yûnus [10]: 62-63; al-Ahqâf [46]: 13; al-Zumar [39]: 61; al-A‘râf [7]: 35; al-Baqarah [2]: 122, 277). Kalaupun ada orang mukmin bersedih, hal itu karena ia tidak mampu memaksimalkan kebaikan yang seharusnya bisa dilakukannya (Q.S. al-Tawbah [9]: 92) seperti pada Kelompok Tujuh atau Kelompok al-Bakkâ’ûn (orang-orang yang mencu­cur­kan air mata sedih karena gagal berpartisipasi dalam suatu perang jihad yang mereka rindukan).

D.    Emosi Takut
Emosi takut merupakan salah satu emosi yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena berperan untuk mempertahankan diri dari berbagai masalah yang dapat mengancam kehidupan itu sendiri. Emosi takut manusia dalam penuturan al-Qur’ân mempunyai cakupan yang luas. Bukan hanya gambaran ketakutan di dunia ini seperti ketakutan pada kelaparan, kehilangan jiwa dan harta, bencana alam, melainkan juga menyangkut ketakutan pada kesengsaraan hidup di akhirat. Hal ini menjadi pembeda yang tegas antara orang beriman yang percaya pada kehidupan akhirat dengan yang tidak. Ketakutan pada orang beriman juga menjadi ajang promosi baginya untuk mencapai suatu predikat tertentu dalam pandangan Allah. Firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 155 (juga Q.S. al-Nahl [16]: 112)
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Manfaat emosi takut menurut perspektif al-Qur’ân tidak hanya untuk menjaga manusia dari berbagai bahaya yang mengancam kehidupannya di dunia ini, tetapi juga mendorong setiap mukmin untuk memelihara dirinya dari azab Allah di akhirat. Kehidupan akhirat meskipun time response-nya lama, tetapi pasti sebagai­mana pastinya kematian itu sendiri. Sebenarnya, pada diri manusia terdapat mekanisme pertahanan diri sehing­ga segala sesuatu yang dapat mengancam dirinya akan dihindarkan atau dia yang menghindar. Menghindar dapat berupa kesengajaan atau tindakan refleks yang bersifat spontanitas terhadap ancaman yang bersifat sekonyong-konyong. Manusia akan selalu melakukan adaptation (adap­tasi, penye­suai­an diri dengan lingkungan) atau adjustment (penyesuaian ling­kungan menu­rut yang dike­hendaki) terutama terhadap hal-hal yang berpotensi mengancam jiwa.
Perubahan tingkah laku karena emosi takut umumnya diekspresikan dalam bentuk perubahan pada raut muka menjadi pucat pasih, berteriak histeris (scream), loncat dan berlari, merunduk, menutup telinga, menghindar, atau tindakan lain. Perubahan faali dapat terjadi berupa denyut nadi meningkat, jantung berdebar-debar, pandangan mata kabur, keluar keringat dingin, persen­dian terasa lemas. Ekspresi berupa tingkah laku antara lain seperti menutup telinga ketika mendengar petir dan kilat yang menyambar-nyambar (Q.S. al-Baqarah [2]: 19), mengungsi karena takut perang (Q.S. al-Baqarah [2]: 243). Ketakutan yang muncul pada hubungan intra­personal biasanya terjadi ketika mengingat peristiwa masa lampau yang tersimpan di dalam memori (Q.S. al-Syu‘arâ’ [26]: 14; al-Qashash [28]: 18; Âlu ‘Imrân [3]: 151; al-Rûm [30]: 28). Sedangkan emosi takut yang muncul pada hubungan dengan orang lain (interpersonal) baik perorangan maupun kelompok (Q.S. Thaha [20]: 67-68; al-Syu‘arâ’ [26]: 21; Shâd [38]: 22; Thaha [20]: 40-46, 77; al-Nisâ’ [4]: 77,101; al-Anfâl [8]: 26; al-Mâ’idah [5]: 21-22; Yûnus [10]: 83).
Dari ayat-ayat itu tampak jelas adanya kesan ketakutan terhadap manusia, dalam hal ini penguasa yang lalim, kelompok tirani yang perkasa (qawm jabbârîn), dan serdadu-serdadu yang menjadi mesin perang. Akan tetapi, kemudian Allah memberi peneguhan kepada orang-orang beriman untuk berani melawan kebatilan siapapun pelakunya, dan menegakkan yang haq sesudahnya. Perbedaan-perbedaan yang ada pada manusia menyangkut ideologi, agama, etnis, dan perbedaan lainnya dapat menjadi potensi konflik antar­manusia yang menimbulkan emosi takut, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, al-Qur’ân mereduksi potensi konflik itu dengan mengajak semua pihak yang memiliki perbedaan tadi untuk saling mengenal (Q.S. al-Hujurât [49]: 13), dan kemudian saling menghormati. Kalaupun terjadi konflik antarorang perorang segera didamaikan sebelum menjadi perang besar antarkelompok (Q.S. al-Hujurât [49]: 9-10).
Pencegahan dini sebagaimana dimaksud oleh al-Qur’ân itu diperlukan karena ketika massa terlibat pada suatu masalah terkadang sulit dikendalikan. Jiwa individu ketika berada di tengah-tengah massa lebur menjadi jiwa massa. Gejala seperti ini dalam psikologi dikenal dengan istilah deindividuation.. Dan ternyata berdasarkan berbagai eksperimen, deindividuation ini potensial menjadi pemicu agresi. Dalam bahasa Feldman (1985:316), “deindividuation is also a potential cause of aggression, and this fact has been shown in a number of experiments.”
Emosi takut dalam kaitannya dengan hubungan metapersonal digambarkan al-Qur’ân dalam dua term, yaitu: al-khawf (الخوف) dan al-khasyyah (الخشية), selain term taqwâ yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan takut (yang sesungguhnya tidak pas). Sebagian ulama tafsir membedakan kedua term itu (al-khawf dan al-khasyyah), sementara yang lainnya menganggapnya sino­nim saja. Jika dicermati ayat-ayat yang menggunakan term al-khawf (seperti Q.S. Ibrâhîm [14]: 14; Q.S. al-Sajdah [32]: 16) tampaknya lebih umum dan intensitas ketakutan itu lebih ringan jika dibandingkan dengan pada term al-khasyyah (seperti Q.S. Yâsin [36]: 11; al-Mulk [67]: 12). Takut kepada bencana alam maupun bencana hari kiamat juga selalu menggunakan term al-khawf (seperti Q.S. al-An‘âm [6]: 15; al-A‘râf [7]: 59; Yûnus [10]: 15; Hûd [11]: 3, 26, 84, 103; al-Isrâ’ [17]: 57; al-Nûr [24]: 37, 50).

E.     Emosi Benci
Mekanisme pertahanan hidup manusia melahirkan berbagai tingkah laku dan berbagai jenis emosi. Emosi benci, seperti halnya emosi takut, dapat mengan­tar manusia untuk melestarikan hidupnya. Hanya saja, emosi benci itu kadang-kadang tidak tepat sasaran jika terarah pada hal-hal yang seharusnya tidak dibenci. Bahkan, menurut al-Qur’ân ada hal-hal yang sering dibenci oleh manusia, tetapi ternyata sangat bermanfaat baginya. Atau sebaliknya, disenangi tetapi mem­bawa efek negatif baginya (Q.S. al-Baqarah [2]: 216; al-Nisâ’ [4]: 19).
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Emosi kebencian dan ketidaksenangan manusia, sebagaimana tergam­bar dalam ayat-ayat al-Qur’ân, umumnya mengarah pada kebencian terhadap kebe­naran yang datang dari Allah SWT. berupa wahyu itu sendiri, keharusan untuk taat, berjihad, berinfak, dan sebagainya. Kalau dibandingkan dengan jumlah ayat yang menerangkan tentang emosi senang di dalam al-Qur’ân, maka emosi benci jauh lebih kecil jumlahnya. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan al-Qur’ân sebenarnya lebih cenderung pada pendekatan reward (ganjaran, targhîb) daripada punishment (hukuman, ancaman, tarhîb).
Keberpihakan Allah terhadap kebaikan merupakan salah satu cara memotivasi manusia untuk selalu dalam kebaikan dan membenci hal-hal yang buruk dan merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Dalam banyak ayat, Allah SWT. sering kali menutup sebuah ayat dengan menyatakan ketidaksenangannya pada keburukan itu. Allah tidak senang pada: kerusakan dan orang-orang yang berbuat kerusakan (Q.S. al-Baqarah [2]: 205; al-Maidah [5]: 64; al-Qashash [28]: 77), keterlaluan atau melampaui batas (Q.S. al-Baqarah [2]: 190; al-Mâ’idah [5]: 87; al-A‘râf [7]: 31), berfoya-foya, mubazir, isrâf (Q.S. al-An‘âm [6]: 141; al-A‘râf [7]: 31), suka berkhianat (Q.S. al-Nisâ’ [4]: 107; al-Anfâl [8]: 58; al-Hajj [22]: 38), sombong dan membangga-banggakan diri (Q.S. al-Nisâ’ [4]: 36; al-Nahl [16]: 23; Luqmân [31]: 18; al-Hadîd [57]: 23), lupa daratan karena kelewat gembira (al-Qashash [28]: 76), mengingkari kebenaran, kafir (Q.S. al-Baqarah [2]: 276; Âlu ‘Imrân [3]: 32; al-Rûm [30]: 45), berbuat aniaya, zalim (Âlu ‘Imrân [3]: 57, 140; al-Syûrâ [42]: 40), suka berkata-kata kasar (al-Nisâ’ [4]: 148).
Ekspresi emosi benci yang digambarkan oleh al-Qur’ân adakalanya bersi­fat spontanitas dan adakalanya pula tidak spontanitas. Ekspresi yang tidak spon­tani­tas itu sejatinya hanya tertunda karena mungkin ada faktor takut atau hal lain jika diekspresikan pada saat itu juga. Emosi benci yang spontan dan yang tidak spontan masing-masing dapat dilihat dalam Q.S. al-Isrâ’ [17]: 46 dan Âlu ‘Imrân [3]: 119-120.
Kebenaran dari Allah digambarkan oleh al-Qur’ân dalam banyak ayat sering kali mendapat penolakan dengan ekspresi kebencian dan ketidaksenangan dari seba­gian manusia. Selalu ada upaya sistematis dan terus-menerus untuk meng­hancurkan kebenaran dari Allah itu. Dalam ungkapan al-Qur’ân misalnya disebutkan ‘mereka ingin memadamkan cahaya dari Allah’, dan sebagainya (Q.S. al-Tawbah [9]: 32-33; al-Shaff [61]: 8-9; Yûnus [10]: 82; al-Anfâl [8]: 8; al-Mu’minûn [23]: 70; al-Zukhruf [43]: 78; Muhammad [47]: 9, 26, 28; al-Zumar [39]: 45). Demikian juga ketidaksenangan pada perilaku kebaikan misalnya pada infak (Q.S. al-Tawbah [9]: 53-54), pada jihad (Q.S. al-Anfâl [8]: 5; al-Baqarah [2]: 216; al-Tawbah [9]: 81-82), ketaatan beribadah (Q.S. al-Ra‘d [13]: 15), keikhlasan dalam mengabdi (Q.S. Ghâfir [40]: 14).
Emosi benci terhadap perilaku seseorang kadang-kadang sulit dipisahkan dengan pelakunya. Ketika kita benci pada perilaku menggunjing (ghîbah), maka kita pun tak senang pada orang yang suka ghîbah itu. Atau sebaliknya, sering kali orang benci pada seseorang membawa pula ketidaksenangan pada segala yang berhubungan dengan orang itu. Tertawanya orang yang tak kita senangi terde­ngar pula tak enak di telinga. Ketidak­senangan orang kafir pada ajaran Allah berdampak kebencian kepada pembawa risalah (rasul). Hal ini yang dialami oleh para rasul sebagaimana banyak disinyalir oleh al-Qur’ân, seperti dijelaskan Q.S. al-A‘râf [7]: 88 dalam kasus Nabi Syu‘aib.

F.     Emosi Heran dan Kaget
Emosi heran dan kaget berada pada garis kontinum yang sama. Pada peristiwa heran terdapat sangkaan di luar yang dibayangkan terjadi, merasa ganjil ketika mengindera sesuatu, atau di luar kebiasaan. Sedangkan pada peristiwa kaget emosi terjadi dengan sangat tiba-tiba, terperanjat atau terkejut karena heran yang tiba-tiba. Intensitas emosi pada peristiwa kaget lebih dalam dibandingkan dengan emosi pada peristiwa heran. Akibatnya, perubahan fisiologis pada emosi kaget juga lebih tinggi, seperti denyut jantung yang lebih cepat, pernafasan yang berat, dan sebagainya. Emosi heran dan kaget diperlukan dalam konstelasi kehidupan manusia, karena hal itu memberi peringatan dan pewaspadaan terhadap sesuatu yang dapat mengancam kehidupan. Sesuatu yang tak lazim sekonyong-konyong muncul atau dijumpai di sekitar kita perlu diwaspadai kalau-kalau hal itu berbahaya bagi kehi­dupan.
Di dalam al-Qur’ân, ekspresi heran dan kaget muncul dalam sejumlah ayat sebagai fenomena yang sering terjadi dalam kehidupan manusia ketika berhadapan dengan objek di lingkungannya, baik lingkungan alam maupun lingkungan personal (sosial). Bahasa yang sering digunakan al-Qur’ân adalah takjub yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Seperti halnya kurva normal, kehidupan ini selalu disertai oleh keganjilan, sebagian ganjil negatif dan sebagian lagi ganjil positif. Orang yang buruk rupa dan memiliki multihandicapped dapat dikategorikan sebagai ganjil negatif, sementara yang sangat cantik atau ganteng dan nyaris tanpa cacat sebagai ganjil positif. Anak yang terbelakang mental (idiot) biasanya dianggap sebagai anak luar biasa (ke bawah), sementara yang jenius pun disebut anak luar biasa (ke atas).
Emosi kaget (heran, takjub) yang dialami oleh manusia pada umumnya diekspresi­kan dengan berteriak spontan, terperanjat, mata membelalak, merinding, merunduk, latah, meneteskan air mata, menertawai, diam seribu bahasa, termangu, terpesona, dan sebagainya. Ekspresi heran dan kaget ini juga telah digambarkan di dalam al-Qur’ân dengan sangat spektakuler, misalnya Q.S. Yûsuf [12]: 31:
فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَءَاتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلاَّ مَلَكٌ كَرِيمٌ
Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): ‘Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.’ Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: ‘Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.”
Di alam ini terkandung banyak hal atau peristiwa misteri, tidak atau belum diketahui secara pasti mengapa hal itu terjadi. Dengan curiosity (keingintahuan) yang ada pada manusia sedikit demi sedikit misteri itu tersibak melalui penga­laman-pengalaman atau penelitian-penelitian. Di kalangan sufi dikenal istilah ter­singkapnya kasysyâf (tirai selubung) yang menyelimuti hakikat sesuatu ketika pengalaman dan latihan (riyâdhah, exercise) mencapai maqâm (tingkat) tertentu.
Apabila diklasifikasi berbagai peristiwa dalam kehidupan ini, maka dapat dikatakan ada tiga pewilayahan: Pertama, wilayah terang (putih), yaitu hal atau peristiwa yang telah dapat diterangkan secara jelas tentangnya, tanpa ragu. Kedua, wilayah gelap (hitam), yaitu yang masih misterius bagi manusia, belum dapat dijelaskan. Dan ketiga, wilayah bayang-bayang (abu-abu), sesuatu yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan dengan memuaskan meskipun sebagian daripadanya telah mulai tersibak. Contoh, bagi orang yang belum pernah melihat besi berani (magnet, besi yang mengandung muatan listrik) sebelum­nya akan terheran-heran ketika menyaksikan magnet itu dapat menggaet potongan besi lain di dekatnya. Baginya, magnet itu masih berada dalam wilayah hitam. Sementara para ahli fisika dan yang telah mendapat penerangan tentang teori dan cara kerja magnet itu berarti telah menjadikannya wilayah terang baginya.
Ayat-ayat yang menerangkan tentang adanya peristiwa yang mengherankan (menakjubkan) terjadi di luar kebiasaan antara lain: emosi heran berkenaan dengan malaikat (Q.S. Hûd [11]: 70), berkenaan dengan jin (Q.S. al-Jinn [72]: 1), berkenaan dengan manusia (Q.S. Shâd [38]: 22), berkenaan dengan hewan (Q.S. al-Kahf [18]: 63), berkenaan dengan tumbuh-tumbuhan (Q.S. al-Wâqi‘ah [56]: 63-65, lihat lebih lanjut 68:17-33), dan emosi heran berkenaan dengan sejarah masa lalu (misalnya Q.S. al-Kahf [18]: 9; al-Baqarah [2]: 258).
Kemampuan dan kehebatan luar biasa yang dimiliki seseorang dapat mengun­dang keheranan (takjub, ta‘ajjub) dari orang lain. Kehebatan itu, sebagai­mana dapat dibaca dari ayat-ayat al-Qur’ân, misalnya para pembawa risalah Allah yang memiliki kemampuan lebih dibanding dengan manusia pada umumnya (komunikasi melalui wahyu dengan Allah, mukjizat, integritas pribadi yang prima). Kelebihan lain yang juga dapat membuat orang heran adalah bentuk fisik, harta kekayaan, dan anak keturunan, jika hal itu tidak lazim dari biasanya menurut ukuran normal. Q.S. Qâf [50]: 2 merujuk pada ekspresi keheranan yang ditunjukkan orang yang tak percaya atau ragu tentang kemungkinan seorang manusia menjadi pembawa risalah dari Allah. Menurut al-Baydhâwî, ekspresi keheranan itu terjadi karena ketakpercayaan pada manusia biasa dari jenis mereka dapat menerima wahyu. Yang mereka harapkan adalah dari malaikat sebagaimana harapan orang-orang tua mereka sebelumnya. Ekspresi heran terhadap kemampuan diri sendiri tergambar dalam Q.S. Hûd [11]: 72-73 ketika istri Nabi Ibrahim yang sudah menopause diberitakan akan melahirkan seorang anak. Kata ‘ajûz dalam bahasa Arab diartikan sebagai nenek yang telah renta. Dalam kitab Tafsîr al-Baydhâwî dijelaskan usia pasang­an itu masing-masing sudah mencapai 90 atau 99 tahun (istri) dan 100 atau 120 tahun (iii,246).

Pengendalian Emosi
Kehidupan manusia selalu mengalami ritme yang berbeda-beda, ada saatnya mendapatkan kenikmatan lalu merasa bahagia, tetapi di saat yang lain mengalami musibah lalu bersedih. Aneka ekspresi yang muncul dalam menang­gapi berbagai situasi yang dialami itu sesungguhnya memperkaya kehidupan itu sendiri. Tak terbayangkan dalam pikiran seandainya pada semua yang dialami manusia muncul hanya satu jenis ekspresi emosi, misalnya bahagia terus-menerus atau sedih sepanjang masa, tentu tak nikmat. Morgan et al. (1986:310), memberi komentar menarik tentang hal ini sebagai berikut:
Life would be dreary without such feelings. They add color and spice to living; they are the sauce which adds pleasure and excitement to our lives. We anticipate our parties and dates with pleasure; we remember with a warm glow the satisfaction we got from getting a good grade; and we even recall with amusement the bitter disappointments of childhood. On the other hand, when our emotions are too intense and too easily aroused, they can easily get us into trouble. They can warp our judgment, turn friends into enemies, and make us as miserable as if we were sick with fever.
(Hidup akan menjadi kering tanpa adanya berbagai perasaan atau emosi. Perasaan atau emosi itu menambah warna dan bumbu bagi kehidupan; ia merupakan ‘saus’ yang menambah nikmatnya kebahagiaan dan kegembiraan dalam kehidupan. Kita menanti datangnya pesta dan kencan dengan senang hati; kita mengenang dengan bangga pada kepuasan yang kita rasakan saat mendapatkan nilai yang bagus; dan kita bahkan mengingat dengan penuh geli saat-saat mengecewakan dari masa kecil kita. Di sisi lain, ketika emosi kita terlalu berlebih dan terlalu mudah terpancing, ia dapat dengan mudah membawa kita ke dalam masalah. Emosi dapat membengkokkan penilaian kita, mengubah teman jadi lawan, dan menjadikan kita sengsara ketika kita terkena sakit demam).
Benar, emosi memang menjadi bumbu kehidupan, tetapi ketika emosi memuncak tak terkendali dan atau berlangsung dalam waktu lama, maka kemungkinan timbul masalah yang runyam dalam kehidupan fisik maupun psikis. Emosi yang sangat dalam dapat menyebabkan terganggunya mekanisme faali, sistem kimiawi tubuh, dan memunculkan ketegangan-ketegangan yang merusak tatanan equilibrium (homeostatis) yang senantiasa menjaga keseimbangan dalam diri manusia. Al-Qur’ân mengidentifikasi berbagai kemungkinan penyebab emosi yang dapat merusak tatanan mekanisme fisik dan psikis itu, misalnya: ketakutan yang amat dahsyat (fobia), kelaparan, kehilangan harta dan anggota keluarga secara tiba-tiba (Q.S. al-Baqarah [2]: 155), terlampau gembira (euforia) karena memperoleh harta melimpah (Q.S. al-Qashash [28]:76), berputus ada dari rahmat Allah (Q.S. al-Zumar [39]: 53, 12: 87), dan sebagainya.
Ada beberapa tindakan pencegahan dan pengendalian terhadap akibat buruk dari emosi berlebihan, antara lain:
1.      Tetap konsisten (istiqâmah) dalam kebenaran (al-haqq). Permohonan yang selalu kita sampaikan kepada Allah adalah tetap berada pada shirâth al-mustaqîm (Q.S. al-Fâtihah [1]: 6), tidak mengikuti langkah-langkah setan dan orang-orang yang telah disesatkannya, karena hal itu selalu membawa kepada kemungkaran.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Lihat pula Q.S. al-Baqarah [2]: 168, 208; al-An‘âm [6]: 142)
Satu hal paling sering membuat manusia waswas, guncang, tidak dalam kondisi tenang, yaitu ketika orang itu tidak konsisten dalam menjalani kebenaran, tetapi membiarkan dirinya melanggar aturan (hukum) mengikuti langkah-langkah setan. Semakin berat akibat hukum yang ditimbulkan suatu perbuatan semakin berat pula tingkat ketidaktenangannya. Pantas apabila Rasulullah saw. memberi indikasi perbuatan dosa dengan adanya ketidaktenangan (waswas) dalam hati dan takut diketahui orang lain:
البر حسن الخلق و الإثم ماحاك فى صدرك وكرهت أن يطلع عليه الناس
Kebaikan itu adalah kesempurnaan akhlak, sedangkan dosa adalah apa yang membuat hatimu waswas (bergejolak) dan kamu tak senang jika orang lain mengetahuinya.” (H.R. Muslim).

Konsistensi dalam menjalankan kebenaran dari Allah baik dalam sikap maupun perbuatan akan mengeliminasi kekhawatiran dan kesedihan dalam hidup, sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah dalam Q.S. al-Ahqâf [46]: 13 (lihat juga Fushshilat [41]:  30).
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.”

2.      Berpikir positif dan bersikap realistis dalam menerima apa pun yang datang dari Allah sebagai bagian dari perjalanan hidup. Allah menguji manusia dengan berbagai ujian (balâ’) untuk mengetahui siapa yang mampu bersabar dan siapa yang tidak, sebagaimana dipahami dari Q.S. al-Baqarah [2]: 155-156; Muhammad [47]: 31, bahkan kehidupan dan kematian pun merupakan cobaan (Q.S. al-Mulk [67]: 2). Berpikir positif dan bersikap realistis terhadap kenyataan hidup, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan, ditandai oleh mekanisme syukur-sabar. Banyak di antara manusia yang tidak mampu mengontrol dirinya ketika menghadapi kenyataan hidup, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan (Q.S. al-Ma‘ârij [70]: 20-21; Yûnus [10]: 12; al-Isrâ’ [17]: 83; Fushshilat/41:49-51). Dalam Q.S. al-Ma‘ârij tersebut telah pula dijelaskan siapa yang mampu mengendalikan (mengontrol) diri, antara lain karena telah terlatih dalam menjalankan pengabdian yang menghasilkan sikap dan perilaku syukur dan sabar. Orang yang bersikap dan berperilaku syukur jika mendapatkan karunia tidak serta-merta lupa daratan, tetapi ia memaknai sebagai karunia dari Allah yang juga menjadi ujian baginya. Q.S. al-Naml [27]: 40 mengisyaratkan hal ini.
قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا ءَاتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.
Sementara apabila mendapat musibah ia bersikap dan berperilaku sabar dan memaknainya bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya (Q.S. al-Baqarah [2]: 155-157). Sabar harus dalam kesempatan pertama (al-shadmah al-ûlâ, benturan pertama).
3.      Mengatasi masalah agar tidak berkembang menjadi lebih buruk. Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi ketegangan emosional misalnya menarik napas panjang, berteriak, katarsis. Agama mengajarkan untuk pergi berwudhu, dzikrullâh, relaksasi, dan sebagainya. Dua terakhir paling mudah dilakukan:

a.      Dzikrullâh
Mengingat Allah (dzikrullâh) dalam kondisi emosi memuncak (arousal) termasuk dalam kategori pengalihan emosi (replacement) kepada objek lain yang memungkinkan meredam efek negatifnya. Meskipun model replacement ini banyak ragamnya, dzikrullâh termasuk yang paling mudah dilakukan dan dalam banyak hal sangat efektif, terutama mereka yang sudah terlatih untuk itu. Berkenaan dengan hal ini, Allah menjelaskan di dalam Q.S. al-Ra‘d [13]: 28 sebagai berikut:
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

b.      Relaksasi
Pada saat emosi memuncak sistem kimiawi tubuh ikut berubah dan dapat menimbulkan ketegangan-ketegangan fisik dan psikis. Untuk mereduksi pengaruh-pengaruh buruk itu perlu segera dikembalikan ke posisi equilibrium normal dengan cara relaksasi. Rasulullah saw. memberi solusi ketika seseorang marah (mewakili emosi negatif) agar segera mengubah posisi ketika itu.
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
Jika seseorang di antara kamu marah dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk mudah-mudahan marahnya hilang. Kalau belum reda juga, maka sebaiknya ia berbaring).

Kesimpulan
Emosi manusia di dalam al-Qur’ân tersebar dalam berbagai surah dan ayat mengikuti peristiwa-peristiwa fenomenal yang dihadapi manusia dalam berbagai persoalan kehidupan. Ungkapan al-Qur’ân tentang emosi itu digambarkan dalam bentuk ekspresi, perubahan fisiologis, tindakan dan tendensi tindak­an, sampai pada berbagai model pengendalian emosi, baik dalam bentuk katarsis, pengalihan (replacement), relaksasi, dan selainnya. Ekspresi emosi yang paling sering dikemukakan oleh al-Qur’ân adalah ekspresi wajah, persis dengan apa yang ditemukan dalam penelitian-penelitian psikologi bahwa wajah merupakan cerminan jiwa manusia. Psikologi menemukan bahwa ekspresi wajah ketika terjadi emosi pada manusia bersifat universal dan lintas kultural, dikenali oleh berbagai etnis di dunia dengan pola-pola yang sama ketika mereka senang, marah, benci, heran, takut, atau sedang sedih. Dari ekspresi itulah manusia dapat memahami emosi yang sedang dialami orang lain sehingga ia dapat mengambil suatu sikap atau tindakan yang sesuai dan diperlu­kan dalam kaitannya dengan hubungan interpersonal.
Emosi senang dalam al-Qur’ân, seperti halnya dalam psikologi, dikatego­rikan sebagai emosi positif karena didambakan oleh manusia terjadi pada dirinya. Al-Qur’ân berbicara tentang emosi senang ini lebih banyak dan lebih variatif dibandingkan dengan emosi-emosi lain. Al-Qur’ân menggunakan misalnya term al-hubb, al-surûr, al-na‘mâ’, al-ridhâ, al-tabsyîr, al-farh, untuk merujuk pada emosi senang. Bahkan, penggambaran emosi senang itu tidak terbatas pada kegiatan atau peristiwa di dunia, tetapi juga gambaran emosi senang di kehidupan yang eternal di akhirat. Hal ini menunjukkan bahwa jenis emosi ini memang menjadi dambaan manusia.
Ekspresi emosi marah dalam al-Qur’ân digambarkan sangat terinci, dari perubahan raut muka, dalam bentuk verbal, tindakan-tindakan agresif, hingga marah yang ditekan (represif) sebagaimana terjadi pada kasus Nabi Yusuf yang difitnah pernah mencuri seperti yang dilakukan saudaranya, Bunyamin, yang ‘mencuri’ alat timbangan milik negara saat itu. Deskripsi yang demikian terinci itu boleh jadi merupakan bentuk pengenalan yang lengkap agar manusia dapat memahami ciri-cirinya, mereduksi ketika muncul keterbangkitan (arousal), atau berusaha untuk meng­hindarinya sama sekali dan berlapang dada terhadap sumber-sumber pemicu emosi marah melalui mekanisme pemberian maaf.
Dalam hal emosi benci, al-Qur’ân lebih banyak mengemukakan perilaku manusia yang sering kali membenci kebenaran, kebaikan, dan personal. Suatu hal yang mena­rik bahwa al-Qur’ân memberi warning kepada manusia bahwa adakalanya kita membenci sesuatu tetapi ternyata mem­bawa kebaikan (manfaat) bagi kehidupan, ataupun sebaliknya. Sedangkan emosi heran, takjub, kaget, merupakan sebuah garis konti­num yang dialami dalam berbagai peristiwa tertentu berdasarkan pada intensitas, meskipun frekuensi kemunculannya dalam ayat-ayat al-Qur’ân tidak sesering dibandingkan dengan emosi-emosi yang lain.
Adapun emosi takut manusia lebih banyak dijelaskan berkaitan dengan bencana, ketakutan pada hubungan-hubungan: intrapersonal, interpersonal, dan meta­per­sonal. Sedangkan emosi sedih umumnya dalam bentuk imbauan untuk tidak gampang bersedih. Ekspresi emosi sedih dalam beberapa ayat digambarkan dengan tangis atau linangan air mata (tafîdhu min al-dam‘, ibyadhdhat ‘aynâh). Al-Qur’ân selalu menggandengkan emosi cemas/khawatir (anxiety, al-khawf) dengan emosi sedih (sadness, al-huzn) dan mengulangnya hingga tiga belas kali. Dalam psikologi kedua term ini dimaknai hampir sama kecuali time case-nya berbeda. Kecemasan terjadi menjelang suatu peristiwa yang tak diinginkan, dan kesedihan terjadi sesudahnya.
Untuk mereduksi atau mengeliminasi efek-efek negatif dari ketegangan-ketegangan yang mungkin muncul pada keterbangkitan emosi diperlukan berbagai model yang dapat digunakan sebagai pengendali emosi. Wallâhu a‘lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar