A. Latar
Belakang Masalah
Dilihat
dari tiga ranah yang biasa digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu
kognitif, afektif, dan psikomotor, maka emosi adalah termasuk ke
ranah afektif. Emosi banyak berpengaruh terhadap fungsi-fungsi psikis
lainnya, seperti: pengamatan, tanggapan, pemikiran, da
n kehendak.
Individu akan mampu melakukan pengamatan atau pemikiran dengan baik
jika disertai dengan emosi yang baik pula. Individu juga akan
memberikan tanggapan atau respon yang positif terhadap suatu objek,
manakala disertai dengan emosi yang positif pula. Sebaliknya,
individu akan melakukan pengamatan atau tanggapan yang negatif
terhadap suatu objek, jika disertai degnan emosi yang negatif
terhadap objek tersebut.
Setiap
individu yang lahir akan selalu mengalami perkembangan baik itu
jasmani maupun rohani, kognitif, afektif dan psikomotor, tidak
henti-hentinya mengalami perkembangan dari masa ke masa. Termasuk
juga emosi yang mengalami perkembangan karena emosi ini masih
tergolong ke dalam ranah afektif (pemahaman). Sehingga setiap
individu harus memantau dan mengarahkan masa-masa perkembangan ini ke
arah yang lebih baik, sebab dalam masa ini termasuk masa yang sulit
dikendalikan karena keadaan jiwa individu tersebut belum matang. Maka
dari hal di atas kami tertarik untuk menyusun makalah ini, yang
membahas seputar perkembangan emosi dan proses pembelajaran.
Perkembangan
Emosi Dan Proses Pembelajaran | Oleh: Amirul Mu’minin
A.
Pengertian Emosi
Banyak
sekali definisi mengenai emosi yang dikemukakan oleh para ahli,
karena memang istilah emosi ini menurut Daniel Goleman (1995) yang
merupakan pakar “kecerdasan emosional” makna yang tepat masih
sangat membingungkan, baik di kalangan para ahli psikologi maupun
ahli filsafat dalam kurun waktu selama lebih dari satu abad. Karena
sedemikian membingungkannya makna emosi itu, maka Daniel Goleman
mendifinisikan emosi dengan merujuk kepada makna secara harfiah, yang
diambil dari “Oxford English Dictionary” yang memaknai emosi
sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan dan nafsu;
setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Lebih lanjut dia
mengatakan bahwa emosi itu merujuk kepada suatu perasaan dan
pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan
serangkaian kecenderungan untuk bertindak.
Menurut
Chaplin (1989) dalam “Dictionary of Psychology” mendefinisikan
emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup
perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari
perubahan perilaku. Chaplin membedakan antara emosi dengan perasaan,
dan dia mendefinisikan perasaan (feeling) adalah pengalaman disadari
yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh
bermacam-macam keadaan jasmaniah.
Jadi,
dengan demikian, emosi adalah suatu respon terhadap suatu perangsang
yang menyebabkan perubahan fisiologi disertai dengan perasaan yang
kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus. Respon
demikian terjadi terhadap perangsang-perangsang eksternal maupun
internal. Dengan definisi ini semakin jelas perbedaan antara emosi
denan perasaan, bahkan di sini tampak jelas bahwa perasaan itu
termasuk ke dalam emosi atau menjadi bagian dari emosi.
Menurut
Daniel Goleman, sesungguhnya ada ratusan emosi dengan berbagai
variasi, campuran, mutasi, dan nuansanya sehingga makna yang
dikandungnya lebih banyak, lebih kompleks dan lebih halus daripada
kata dan definisi yang digunakan untuk menjelaskan emosi.
B.
Bentuk-bentuk Emosi
Meskipun
emosi sedemikian kompleksnya, namun Daniel Goleman sempat
mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu:
- Amarah: di dalamnya meliputi sifat beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, berang, tersinggung dan kebencian patologis.
- Kesedihan; di dalamnya meliputi pedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa dan depresi.
- Rasa takut; di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, sedih, wasapada, tidak tenang dan pobia.
- Kenikmatan; meliputi bahagia, gembira, ringan puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan inderawi, terpesona dan mania.
- Cinta; meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, hormat, kasmaran, dan kasih sayang.
- Terkejut; meliputi terkesiap, takjub dan terpana.
- Jengkel; meliputi hina, muak, jijik, benci dan mau muntah.
- Malu; meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, dan hati hancur lebur.
Dari
daftar emosi di atas, berdasarkan temuan penelitian Paul Ekman dari
University of California di San Fransisco, ternyata ada bahasa emosi
yang dikenal oleh seluruh bangsa di dunia, yakni emosi yang
diwujudkan dalam bentuk ekspresi wajah yang di dalamnya mengandung
emosi takut, marah, sedih, dan senang. Dan ini benar-benar dikenali
oleh bangsa seluruh dunia meski berbeda budaya, bahkan bangsa-bangsa
yang buta huruf, yang belum tercemar oleh siaran televisi sekalipun
mereka kenal. Dengan demikian, ekspresi wajah sebagai representasi
dari emosi itu memiliki universalitas tentang emosi tersebut.
C.
Hubungan antara Emosi dengan Tingkah Laku
Melalui
teori “kecerdasan emosional” yang dikembangkannya, Daniel Goleman
mengemukakan sejumlah ciri utama pikiran emosional sebagai bukti
bahwa emosi memainkan peranan penting dalam pola berpikir maupun
tingkah laku individu. Adapun ciri utama pikiran tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Repons
yang Cepat Tetapi Ceroboh
Pikiran
yang emosional itu ternyata jauh lebih cepat dari pada pikiran yang
rasional karena pikiran emosional sesungguhnya langsung melompat
bertindak tanpa mempertimbangkan apapun yang akan dilakukannya.
Karena kecepatannya itu sehingga sikap hati-hati dan proses analistis
dalam berpikir dikesampingkan begitu saja sehingga tidak jarang
menjadi ceroboh. Padahal, kehati-hatian dan analistis itu
sesungguhnya merupakan ciri khas dari proses kerja akal dalam
berpikir. Namun, demikian, di sisi lain pikiran emosional ini juga
memiliki suatu kelebihan, yakni membawa rasa kepastian yang sangat
kuat dan di luar jangkauan normal sebagaimana yang dilakukan oleh
pikiran rasional. Misalnya, seorang wanita yang karena sangat takut
dan terkejutnya melihat binatang yang selama ini sangat ditakutinya,
maka dia mampu melompati parit yang menurut ukuran pikiran rasional
tidak akan mungkin dapat dilakukannya.
2.
Mendahulukan Perasaan Baru Kemudian Pikiran
Pada
dasarnya, pikiran rasional sesungguhnya membutuhkan waktu sedikit
lama dibandingkan dengan pikiran emosional sehingga dorongan yang
lebih dahulu muncul adalah dorongan hati atau emosi, baru kemudian
dorongan pikiran. Dalam urutan respon yang cepat, perasaan mendahului
atau minimal berjalan serempak dengan pikiran. Reaksi emosional gerak
cepat ini lebih tampak dalam situasi-situasi yang mendesak dan
membutuhkan tindakan penyelamatan diri. Keputusan model ini
menyiapkan individu dalam sekejap untuk siap siaga menghadapi keadaan
darurat. Di sinilah keuntungan keputusan-keputusan cepat yang
didahului oleh perasaan atau emosi. Namun demikian, di sisi lain, ada
juga reaksi emosional jenis lambat yang lebih dahulu melakukan
penggodongan dalam pikiran sebelum mengalirkannya ke dalam perasaan.
Keputusan model kedua ini sifatnya lebih disengaja dan biasanya
individu lebih sadar terhadap gagasan-gagasan yang akan
dikemukakannya. Dalam reaksi emosional jenis ini, ada suatu pemahaman
yang lebih luas dan pikiran memainkan peranan kunci dalam menentukan
emosi-emosi apa yang akan dicetuskannya.
3.
Memperlakukan Realitas Sebagai Realitas Simbolik
Logika
pikiran emosional, yang disebut juga sebagai logika hati, itu
bersifat asosiatif. Dalam arti memandang unsur-unsur yang
melambangkan suatu realitas itu sama dengan realitas itu sendiri.
Oleh sebab itu, seringkali berbagai perumpamaan, pantu, kiasan dan
teater secara langsung ditujukan kepada pikiran emosional. Para ulama
pensyiar agama dan para guru spiritual termasyhur pada umumnya dalam
menyampaikan ajaran-ajarannya senantiasa berusaha menyentuh hati para
pengikutnya dengan cara berbicara dalam bahasa emosi, dengan mengajar
melalui perumpamaan, fabel, filsafat, ibarat dan kisah-kisah yang
sangat menyentuh perasaan. Oleh karena itulah, ajaran-ajaran
orang-orang bijak itu dengan cepat dan mudah dimengerti pikiran
rasional, sesungguhnya simbol-simbol dan berbagai ritual keagamaan
itu tidak sedemikian bermakna jika dibandingkan dengan sudut pandang
pikiran emosional.
4. Masa
Lampau Diposisikan Sebagai Masa Sekarang
Dari
sudut pandang ini, apabila sejumlah ciri suatu peristiwa tampak
serupa dengan kenangan masa lampau yang mengandung muatan emosi, maka
pikiran emosional akan menanggapinya dengan memicu perasaan-perasaan
yang berkaitan dengan peristiwa yang diingat itu. Pikiran bereaksi
terhadap keadaan sekarang seolah-olah keadaan itu adalah masa lampau.
Kesulitannya adalah, terutama apabila penilaian terhadap masa lampau
itu cepat dan otomatis, barangkali kita tidak menyadari bahwa yang
dahulu memang begitu, ternyata sekarang sudah tidak lagi seperti itu.
D.
Karakteristik Perkembangan Emosi Subjek Didik
Masa
remaja adalah masa peralihan antara masa anak-anak dan masa dewasa,
maka status remaja agak kabur, baik bagi dirinya maupun bagi
lingkungannya. Conny Semiawan mengibaratkan: “terlalu besar untuk
serbet, tetapi terlalu kecil untuk taplak meja” karena sudah bukan
anak-anak lagi, tetapi juga belum dewasa. Masa remaja biasanya
memiliki energi yang besar, emosi berkobar-kobar, sedangkan
pengendalian diri belum sempurna. Remaja juga sering mengalami
perasaan tidak aman, tidak tenang dan khawatir kesepian.
Secara
garis besar, masa remaja dapat dibagi ke dalam empat periode, yaitu:
periode pra-remaja, remaja awal, remaja tengah, dan remaja akhir.
Adapun karakteristik untuk setiap periode adalah sebagai berikut:
1.
Periode Pra-remaja
Selama
periode ini terjadi gejala-gejala yang hampir sama antara remaja pria
maupun wanita. Perubahan fisik belum begitu tampak jelas, tetapi pada
remaja putri biasanya memperlihatkan penambahan berat badan yang
cepat sehingga mereka merasa kegemukan. Gerakan-gerakan mereka mulai
menjadi kaku. Perubahan ini disertai sifat kepekaan terhadap
rangsang-rangsang dari luar, responnya biasanya berlebihan sehingga
mereka mudah tersinggung dan cengeng, tetapi cepat merasa senang atau
bahkan meledak-ledak.
2.
Periode Remaja Awal
Selama
periode ini perkembangan gejala fisik yang semakin tampak jelas
adalah perubahan fungsi alat-alat kelamin. Karena perubahan alat-alat
kelamin serta perubahan fisik yang semakin nyata ini, remaja
seringkali mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan itu. Akibatnya, tidak jarang mereka cenderung
menyendiri sehingga tidak jarang pula merasa terasing, kuran
perhatian dari orang lain, atau bahkan merasa tidak ada orang yang
mau mempedulikannya. Kontrol terhadap dirinya bertambah sulit dan
mereka cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar untuk
meyakinkan dunia sekitarnya. Perilaku seperti ini sesungguhnya
terjadi karena adanya kecemasan terhadap dirinya sendiri sehingga
muncul dalam reaksi yang kadang-kadang tidak wajar.
3.
Periode Remaja Tengah
Tanggung
jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh remaja untuk dapat
menuju ke arah mampu memikul sendiri seringkali menimbulkan masalah
tersendiri bagi remaja. Karena tuntutan peningkatan tanggungjawab ini
tidak hanya datang dari orang tua atau anggota keluarganya melainkan
juga dari masyarakat sekitarnya, maka tidak jarang masyarakat juga
terbawa-bawa menjadi masalah bagi remaja. Melihat fenomena yang
sering terjadi dalam masyarakat yang seringkali juga menunjukkan
adanya kontradiksi dengan nilai-nilai moral yang mereka ketahui, maka
tidak jarang juga remaja mulai meragukan tentang apa yang disebut
baik atau buruk. Akibatnya, remaja seringkali ingin membentuk
nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar, baik, dan pantas
untuk dikembangkan di kalangan mereka sendiri.
4.
Periode Remaja Akhir
Selama
periode ini remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan
mulai mampu menunjukkan pemikiran, sikap, dan perilaku yang semakin
dewasa. Oleh sebab itu, orang tua dan masyarakat mulai memberikan
kepercayaan yang selayaknya kepada mereka. Interaksi dengan orang tua
juga menjadi lebih bagus dan lancar karena mereka sudah semakin
memiliki kebebasan yang relatif terkendali serta emosinya pun mulai
stabil. Pilihan arah hidup sudah semakin jelas dan mulai mampu
mengambil pilihan serta keputusan tentang arah hidupnya secara lebih
bijaksana meskipun belum bisa secara penuh. Mereka juga mulai memilih
cara-cara hidupnya yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap dirinya
sendiri, orang tua, dan masyarakat.
E.
Proses Pembelajaran untuk Membantu Perkembangan Emosi Subjek Didik
Intervensi
pendidikan untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat berkembang ke
arah kecerdasan emosional, adalah dengan menggunakan intervensi yang
dikemukakan oleh W.T. Grant Consortium tentang “unsur-unsur aktif
program pencegahan”, sebagai berikut:
1.
Pengembangan Keterampilan Emosional
Cara yang dapat dilakukan antara
lain:
- Mengidentifikasi dan memberi nama-nama atau label-label perasaan
- Mengungkapkan perasaan
- Menilai intensitas perasaan
- Mengelola perasaan
- Menunda pemuasan
- Mengendalikan dorongan hati
- Mengurangi stress
- Memahami perbedaan antara perasaan dan tindakan
2.
Pengembangan Keterampilan Kognitif
Cara yang dapat dilakukan antara
lain:
- Belajar melakukan dialog batin,untuk mengatasi dan menghadapi masalah atau memperkuat perilaku diri sendiri.
- Belajar membaca dan menafsirkan isyarat-isyarat sosial.
- Belajar menggunakan langkah-langkah penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan, seperti mengendalikan dorongan hati, menentukan sasaran.
- Belajar memahami sudut pandang orang lain (empati).
- Belajar bersikap positif terhadap kehidupan.
- Belajar mengembangkan kesadaran diri, misal mengembangkan harapan-harapan yang realistis tentang diri sendiri.
3.
Pengembangan Keterampilan Perilaku
Cara yang bisa dilakukan antara
lain:
- Belajar keterampilan komunikasi non-verbal; misal, komunikasi lewat pandangan mata, ekspresi wajah, posisi tubuh dan lain-lain.
- Belajar keterampilan komunikasi verbal; misal mengajukan permintaan-permintaan dengan jelas, menolak pengaruh negatif dan sejenisnya.
KESIMPULAN
Dari
uraian-uraian di atas, maka penulis dapat menarik beberapa
kesimpulan, bahwa emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan
pikiran, perasaan, nafsu; setipa keadaan mental yang hebat dan
meluap-luap. Sedangkan perasaan (feeling) adalah pengalaman disadari
yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh
bermacam-bermacam keadaan jasmaniah.
Karakteristik
perkembangan emosi remaja sejalan dengan perkembangan masa remaja itu
sendiri, yaitu: (a) perubahan fisik tahap awal pada periode pra
remaja, (b) periode remaja tengah, (c) periode remaja akhir. Kemudian
lima faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja adalah: (a)
perubahan jasmani, (b) perubahan pola interaksi dengan orang tua, (c)
perubahan interaksi dengna teman sebaya, (d) perubahan pandangan
luar, (e) perubahan interaksi dengan sekolah.
Upaya
yang dapat dilakukan untuk mengembangkan emosi remaja agar berkembang
ke arah kecerdasan emosional antara lain dengan belajar
mengembangkan: (a) keterampilan emosional, (b) keterampilan kognitif
dan (c) keterampilan perilaku.
- 1. PERKEMBANGAN EMOSI Kelompok 3: Dessy Meryanti Napitupulu Elma Maranita Orde Koria Saragih Idena Irawati Sihombing Nur Azizah Suweny Dita Masyitah Sianipar
- 2. EMOSI Golleman (1995): Kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap kedaan mental yang hebat yang meluap- luap. Chaplin (1989) : Suatu keadaaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang didasari yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku.
- 3. Perkembangan pada aspek ini meliputikemampuan remaja untuk mencintai;merasa nyaman, berani, gembira, takut, danmarah; serta bentuk-bentuk emosi lainnya. Pada aspek ini, remaja sangatdipengaruhi oleh interaksi dengan orangtuadan orang-orang di sekitarnya. Emosi yangberkembang akan sesuai dengan impulsemosi yang diterimanya. Misalnya, jikaremaja mendapatkan curahan kasihsayang, mereka akan belajar untukmenyayangi.
- 4. MENURUT CROW & CROW (1958) PADA SAAT TERJADI EMOSI SERING KALI TERJADI PERUBAHAN-PERUBAHANPADA FISIK ANTARA LAIN : 1. Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona 2. Peredaran darah : bertambah cepat bila marah 3. Denyut jantung : bertambah cepat bila terkejut 4. Pernafasan : bernafas panjang kalau kecewa 5. Pupil mata : membesar bila marah 6. Liur : mengering kalau takut atau tegang 7. Bulu roma : berdiri kalau takut 8. Pencernaan : mencret-mencret kalau tegang 9. Otot : menegang dan bergetar saat ketakutan atau tegang 10. komposisi darah : akan ikut berubah karena emosi yang menyebabkan kalenjar-kalenjar lebih aktif.
- 5. KARAKTERISTIK EMOSI REMAJA, MENURUTBIEHLER (1972)Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun 1. Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka 2. Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri 3. Kemarahan biasa terjadi 4. Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri 5. Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif
- 6. • CIRI-CIRI EMOSIONAL REMAJA USIA 15-18TAHUN 1. “Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak- kanak menuju dewasa 2. Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka 3. Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka
- 7. KEGIATAN BELAJAR JUGA TURUT MENUNJANG PERKEMBANGANEMOSI. METODE BELAJAR YANG MENUNJANG PERKEMBANGANEMOSI, ANTARA LAIN YAITU :1. Belajar dengan coba-coba Remaja belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan.2. . Belajar dengan cara meniru Remaja bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamatinya.
- 8. 4. Belajar melalui pengkondisian Dengan metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka, setelah melewati masa kanak-kanak.
- 9. 5. Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan Dengan pelatihan, remaja dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasa membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional yang tidak menyenangkan.
- 10. PENGARUH EMOSI TERHADAP PERILAKU DANPERUBAHAN FISIK INDIVIDU :a. Memperkuat semangat bila merasa senang atas suatu keberhasilan.b. Melemahkan semangat apabila timbul rasa kekecewaan karena suatu kegagalan.c. Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar apabila individu dalam keadaan gugup.d. Terganggu penyesuaian sosial apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati.
- 11. BENTUK EMOSI ( M.GOLLEMAN) Amarah Kesedihan Rasa takut Kenikmatan Cinta Terkejut Jengkel Malu
- 12. FAKTOR YANG MEMPENGARUHIPERKEMBANGAN EMOSI REMAJA Perubahan jasmani Perubahan pola interaksi dengan orang tua Perubahan interaksi dengan teman sebaya Faktor pandangan luar Perubahan interaksi dengan sekolah
Makalah Perkembangan Emosi
BAB
I
PEMBUKAAN
A.
Latar belakang
Emosi merupakan
setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik
pada tingkat lemah maupun pada tingkat yang luas. Warna
afektif disini dapat diartikan sebagai perasaan – perasaan tertentu
yang dialami pada saat menghadapi ( menghayati ) suatu situasi
tertentu, contohnya gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci,
tidak senang dan sebagainya ( Yusuf Syamsu, 2006 ).
Pada umumnya
perbuatan kita sehari–hari disertai oleh perasaan–perasaan
tertentu, yaitu perasaan senang atau tidak senang. Perasaan–perasaan
seperti ini biasanya disebut emosi. Beberapa macam emosi antara lain,
gembira, bahagia, semu, terkejut, benci, senang, sedih, was – was
dan sebagainya. Perasaan emosi biasanya disifatkan sebagai suatu
keadaan dari diri individu pada suatu waktu. Misalnya, orang merasa
sedih, senang, terharu dan sebagainya bila melihat sesuatu, mendengar
sesuatu, mencium bau dan sebagainya. Dengan kata lain perasaan
disifatkan sebagai suatu keadaan jiwa sebagai akibat adanya peristiwa
– peristiwa yang pada umumnya datang dari luar dan peristiwa –
peristiwa tersebut pada umumnya menimbulkan kegoncangan –
kegoncangan pada individu yang bersangkutan.
B.
Rumusan masalah
1.
Apa pengertian dari emosi?
2.
Apa ciri-ciri dari emosi?
3.
Apa saja pengelompokan dari emosi?
4.
Bagaimana perkembangan emosi berdasarkan periode perkembangan?
5.
Apa Faktor yang mempengaruhi perkembangan kematangan emosi?
6.
Apa pengaruh emosi terhadap perilaku dan perubahan fisik individu?
7.
Bagaimana implikasi perkembangan emosi bagi dunia pendidikan?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian dari emosi
2.
Untuk mengetahui ciri-ciri dari emosi
3.
Untuk mengetahui pengelompokan dari emosi
4.
Untuk mengetahui bagaimana perkembangan emosi berdasarkan periode
perkembangan
5.
Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kematangan emosi
6.
Untuk mengetahui Pengaruh Emosi Terhadap Perilaku dan Perubahan Fisik
Individu
7.
Untuk mengetahui Implikasi perkembangan emosi bagi dunia pendidikan
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Perkembangan
Perkembangan berarti
perubahan individu baik secara struktur atau fungsi organ melalui
kematangan dan proses belajar yang terjadi sepanjang hayat hingga
meninggal dunia. Dalam perkembangan tidaklah terbatas pada semakin
sempurna tetapi juga terkandung serangkaian perubahan secara terus
menerus secara pasti, melalui suatu tahap yang sederhana ke tahap
berikutnya yang semakin tinggi dan maju walaupun sulit diukur dengan
alat ukur.
Menurut
Arnold Gesel, perkembangan merupakan suatu proses kematangan atau
fisiologi. Selagi kematangan fisiologi tidak dicapai, apa saja yang
dilakukan seperti berjalan tidak akan bisa
tercapai.
Robert
Havighurst menyatakan bahwa perkembangan seseorang anak-anak
dipengaruhi oleh faktor lingkungan.Ini merupakan satu elemen penting
yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak.
Beliau memfokuskan kepada keadaaan sekeliling atau lingkungan di mana
tempat seseorang anak-anak itu membesar yang akan memberi dan
meninggalkan sama ada positif atau negatifq bergantung kepada ibu
bapak yang memberikan ciri mereka
B.
Pengertian Emosi
Kata emosi berasal
dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti
kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal
mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk
pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan
psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada
dasarnya adalah dorongan untuk bertindak.
Istilah
emosi menurut Daniel Goleman (1995), seorang pakar kecerdasan
emosional, yang diambil dari Oxford English Dictionary memaknai emosi
sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu,
setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Lebih lanjut ia
mengatakan bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan
pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan
serangkaian kecendrungan untuk bertindak.
Hurlock
(1997:141) menyatakan bahwa perkembangan emosi anak-anak mengikuti
pola yang dapat diramalkan, tetapi terdapat keanekaragaman dalam pola
ini, karena tingkat kecerdasan, jenis kelamin, besarnya keluarga,
pendidikan anak dan kondisi-kondisi lain.
Menurut
Daniel Goleman, sesungguhnya ada ratusan emosi dengan berbagai
variasi, campuran, mutasi, dan nuansanya sehingga makna yang
dikandungnya lebih banyak, lebih kompleks dan lebih halus daripada
kata dan definisi yang digunakan untuk menjelaskan emosi.
Kadang
seseorang masih dapat mengontrol keadaan dirinya sehingga emosi yang
dialami tidak tercetus keluar dengan perubahan atau tanda – tanda
fisiknya. Hal ini berkaitan dengan pendapat yang
dikemukakan Ekman dan Friesen yang dikenal dengan display
rules, yang dibagi menjadi tiga rules,
yaitu masking, modulation dan simulation. Masking adalah
keadaan seseorang yang dapat menyembunyikan atau dapat menutupi emosi
yang dialaminya. Emosi yang dialaminya tidak tercetus
melalui ekspresi fisiknya, misalnya orang yang sangat sedih karena
kehilangan anggota keluarganya, kesedihan tersebut dapat diredam atau
ditutupi, dan tidak ada gejala fisik yang menyebabkan tampaknya
perasaan sedih tersebut. Sedangkan
pada modulation seseorang tidak mampu meredam secara
tuntas mengenai gejala fisiknya, tetapi hanya dapat menguranginya
saja, misalnya karena sedih, ia menangis tetapi tidak terlalu kuat
dan keras. Pada simulation seseorang
sebenarnya tidak mengalami emosi, tetapi ia seolah – olah mengalami
emosi dengan menampakkan gejala – gejala fisik. Display
rules sebenarnya dipengaruhi oleh unsur budaya, misalnya
adalah tidak etis kalau menangis dengan meronta – ronta di hadapan
umum meskipun kehilangan keluarga yang sangat dicintainya ( Walgito
Bimo, 2004 ).
C.
Teori – Teori Emosi
Ada beberapa
tokoh yang menjelaskan tentang istilah emosi dan proses terjadinya
emosi, diantaranya :
a. Canon
Bard
Merumuskan
teori tentang pengaruh fisiologis terhadap emosi. Teori
ini menyatakan bahwa situasi menimbulkan rangkaian proses pada
syaraf. Suatu situasi yang saling mempengaruhi
antara thalamus ( pusat penghubung antara bagian
bawah otak dengan susunan syaraf pusat, dan alat keseimbangan
atau cerebellum dengan cerebral cortex (
bagian otak yang terletak di dekat permukaan sebelah dalam dari
tulang tengkorak, suatu bagian yang berhubungan dengan proses
kerjanya seperti berpikir ). Biasa disebut teori sentral
dalam berpikir atau teori dengan pendekatan neurologis.
b. Lindsey
Mengemukakan
teori penggerakan “ Activition Theory “. Menurut teori
ini, emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlalu keras dari susunan
syaraf terutama pada bagian otak. Contohnya apabila
individu mengalami frustasi, susunan syaraf akan bekerja sangat keras
sehingga menimbulkan sekresi kelenjar – kelenjar yang dapat
meningkatkan kerja otak, sehingga menimbulkan emosi.
c. John
B. Watson
Mengemukakan
bahwa ada tiga pola dasar emosi, yaitu takut, marah dan cinta ( fear,
anger, and love ). Ketiga
jenis emosi tersebut akan menunjukkan respon tertentu pada stimulus
tertentu pula, namun kemungkinan dapat terjadi modifikasi ( perubahan
) ( Yusuf Syamsu, 2006 ).
D.
Ciri – Ciri Emosi
Emosi
sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri – ciri sebagai
berikut :
a. Lebih
bersifat subyektif daripada peristiwa psikologis lainnya, seperti
pengamatan dan berpikir
b. Bersifat
fluktuatif ( tidak tetap )
c. Banyak
bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera
Mengenai
ciri – ciri emosi ini dapat dibedakan antara emosi anak dan emosi
pada orang dewasa sebagai berikut :
|
Emosi
Anak
|
Emosi
Orang Dewasa
|
||
|
1.
|
Berlangsung
singkat dan berakhir tiba - tiba
|
1.
|
Berlangsung
lebih lama dan berakhir dengan lambat
|
|
2.
|
Terlihat
lebih hebat dan kuat
|
2.
|
Tidak
terlihat hebat / kuat
|
|
3.
|
Bersifat
sementara / dangkal
|
3.
|
Lebih
|
|
4.
|
Lebih
sering terjadi
|
4.
|
Jarang
terjadi
|
|
5.
|
Dapat
diketahui dengan jelas dari tingkah lakunya
|
5.
|
Sulit
diketahui karena lebih pandai menyembunyikannya
|
E.
Bentuk-bentuk emosi
Meskipun
emosi sedemikian kompleksnya, namun Daniel Goleman sempat
mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu:
§
Amarah:
di dalamnya meliputi sifat beringas, mengamuk, benci, marah besar,
jengkel, kesal hati, berang, tersinggung dan kebencian patologis.
§
Kesedihan;
di dalamnya meliputi pedih, muram, suram, melankolis, mengasihani
diri, kesepian, ditolak, putus asa dan depresi.
§
Rasa
takut; di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was,
perasaan takut sekali, sedih, wasapada, tidak tenang dan pobia.
§
Kenikmatan;
meliputi bahagia, gembira, ringan puas, riang, senang, terhibur,
bangga, kenikmatan inderawi, terpesona dan mania.
§
Cinta;
meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa
dekat, hormat, kasmaran, dan kasih sayang.
§
Terkejut;
meliputi terkesiap, takjub dan terpana.
§
Jengkel;
meliputi hina, muak, jijik, benci dan mau muntah.
§
Malu;
meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, dan hati
hancur lebur.
Dari
daftar emosi di atas, berdasarkan temuan penelitian Paul Ekman dari
University of California di San Fransisco, ternyata ada bahasa emosi
yang dikenal oleh seluruh bangsa di dunia, yakni emosi yang
diwujudkan dalam bentuk ekspresi wajah yang di dalamnya mengandung
emosi takut, marah, sedih, dan senang. Dan ini benar-benar dikenali
oleh bangsa seluruh dunia meski berbeda budaya, bahkan bangsa-bangsa
yang buta huruf, yang belum tercemar oleh siaran televisi sekalipun
mereka kenal. Dengan demikian, ekspresi wajah sebagai representasi
dari emosi itu memiliki universalitas tentang emosi tersebut.
F.
Pengelompokan Emosi
Emosi
dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu emosi sensoris dan
emosi kejiwaan ( psikis ).
a. Emosi
Sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar
terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang dan
lapar.
b. Emosi
Psikis, yaitu emosi yang mempunyai alasan – alasan
kejiwaan. Yang termasuk emosi jenis ini diantaranya adalah
:
1.
Perasaan
Intelektual,
yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup
kebenaran. Perasaan ini diwujudkan dalam bentuk :
a. rasa
yakin dan tidak yakin terhadap suatu hasil karya ilmiah
b. rasa
gembira karena mendapat suatu kebenaran
c. rasa
puas karena dapat menyelesaikan persoalan – persoalan ilmiah yang
harus dipecahkan
2.
Perasaan
Sosial,
yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik
bersifat perorangan maupun kelompok. Wujud perasaan ini seperti
:
a. rasa
solidaritas
b. persaudaraan
( ukhuwah )
c. simpati
d. kasih
sayang, dan sebagainya
3.
Perasaan
Susila,
yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai – nilai baik dan buruk
atau etika ( moral ). Contohnya :
a. rasa
tanggung jawab ( responsibility )
b. rasa
bersalah apabila melanggar norma
c. rasa
tentram dalam mentaati norma
4.
Perasaan
Keindahan ( estetis ), yaitu
perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dari sesuatu, baik
bersifat kebendaan ataupun kerohanian
5.
Perasaan
Ketuhanan,
yaitu merupakan kelebihan manusia sebagai makluk Tuhan, dianugrahi
fitrah ( kemampuan atau perasaan ) untuk mengenal; Tuhannya. Dengan
kata lain, manusia dianugerahi insting religius ( naluri beragama
). Karena memiliki fitrah ini, maka manusia di juluki
sebagai “ Homo
Divinans “
dan “ Homo
Religius “
atau makluk yang berke-Tuhan-an atau makluk beragama.
G.
Perkembangan Emosi berdasarkan periode perkembangan
1.
Infant (masa bayi 0-2 tahun)
Perkembangan
emosi yang terlihat sederhana dan reaksi emosionalnya dapat di
timbulkan dengan berbagai macam rangsangan. Emosional pada bayi ialah
: rasa takut, gembira,sedih, rasa ingin tahu.
2.
Masa kanak-kanak awal
Emosi
yang terjadi sangat kuat.Pada masa ini pula anak sangat perlu
dibimbingan diarahkan karena emosinya yang tidak terarah. Emosi pada
kanak-kanak masa awal : takut, cemburu,iri hati,ingin
tahu,senang,sedih,marah,kasih sayang.
3.
Masa kanak-kanak akhir
Poal
perkemban gan yang terjadi pada masa kanak-kanak akhir tidak jauh
berbeda dengan masa kanak-kanak awal.Ungkapan rasa senang, amarah,
emosi yang berapi-api.
4.
Masa Remaja Awal
Masa
ini terkadang membuat remaja menjalani masa tekanan. Walaupun
tidak semua reamaja mengalami ketidakstabilan sebagai konsekuensi
penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan sosial baru.
5.
Remaja akhir
Emosinya
yang cenderung pemberontak. Karena sang anak akan memasuki masa-masa
dimana terjadinya perubahan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa.
Sehingga hal ini membuat mereka memikirkan masa depan.
6.
Dewasa Awal
Perkembangan
yang terjadi pada masa dewasa awal emosinya mengikuti faktor
hormonal, dan masa ini pula mereka sudah dapat mengendalikan emosi.
7.
Dewasa Madya
Pada
masa dewasa madya pola emosi antara laki-laki dan perempuan berbeda.
Laki
– laki : Karir (waktunya habis dalam pekerjaan/pensiun) akan
mengalami frustasi atau beban kerja sehingga berpengaruh kepada
emosinya. Pada perempuan : cenderung lebih stabil, namun lebih sering
cepat mengalami masa menopause.
8.
Masa Usia Lanjut
Salah
satu contohnya adalah perubahan fisik pada lanjut usia mengakibatkan
dirinya merasa tidak dapat mengerjakan berbagai aktivitas sebaik pada
saat muda dulu. Hal ini menyebabkan lanjut usia kemudian menjadi
menarik diri dari lingkungan sosial.
Munculnya
rasa tersisih, tidak dibutuhkan lagi, ketidakikhlasan menerima
kenyataan baru seperti penyakit yang tidak kunjung sembuh, kematian
pasangan, merupakan sebagian kecil dari keseluruhan perasaan yang
tidak enak yang harus dihadapi lanjut usia.
H.
Faktor yang mempengaruhi perkembangan kematangan emosi
Beberapa
ahli psikologi menyebutkan adanya beberapa faktor yang
mempengaruhi perkembangan kematangan emosi seseorang
(Astuti, 2005), yaitu:
1.
Pola asuh orang tua
Pola
asuh orang tua terhadap anak bervariasi. Ada yang pola asuhnya
menurut apa yang dianggap terbaik oleh dirinya sendiri saja, sehingga
ada yang bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi
ada juga dengan penuh cinta kasih. Perbedaan pola asuh dari orang tua
seperti ini dapat berpengaruh terhadap Perbedaan perkembangan emosi
peserta didik
Idealnya orangtua akan mengambil bagian dalam pendewasaan anak-anak karena dari kedua orangtua anak akan belajar mandiri melalui proses belajar sosial dengan modelling (Andayani dan koentjoro 2004)
Idealnya orangtua akan mengambil bagian dalam pendewasaan anak-anak karena dari kedua orangtua anak akan belajar mandiri melalui proses belajar sosial dengan modelling (Andayani dan koentjoro 2004)
2.
Pengalaman traumatik
Kejadian-kejadian
traumatis masa lalu dapat mempengaruhi perkembangan emosi seseorang,
dampaknya jejak rasa takut dan sikap terlalu waspada yang ditimbulkan
dapat berlangsung seumur hidup. Kejadian-kejadian traumatis tersebut
dapat bersumber dari lingkungan keluarga ataupun lingkungan di luar
keluarga (Astuti,2005)
3.
Tempramen
Temperamen
dapat didefinisikan sebagai suasana hati yang mencirikan kehidupan
emosional kita. Hingga tahap tertentu masing- masing individu
memiliki kisaran emosi sendiri-sendiri, temperamen merupakan bawaan
sejak lahir, dan merupakan bagian dari genetik yang mempunyai
kekuatan hebat dalam rentang kehidupan Manusia (astute, 2005)
4.
Jenis kelamin
Perbedaan
jenis kelamin memiliki pengaruh yang berkaitan dengan adanya
perbedaan hormonal antara laki- laki dan perempuan, peran jenis
maupun tuntutan sosial yang berpengaruh pula terhadap adanya
perbedaan karakteristik emosi diantara keduanya(Astuti,2005).
5.
Usia
Perkembangan
kematangan emosi yang dimiliki seseorang sejalan dengan pertambahan
usianya. Hal ini dikarenakan kematangan emosi dipengaruhi oleh
tingkat pertumbuhan dan kematangan fisiologis seseorang. Ketika usia
semakin tua, kadar hormonal dalam tubuh turut berkurang, sehingga
mengakibatkan penurunan pengaruhnya terhadap kondisi emosi (Moloney,
dalam Puspitasari Nuryoto 2001). Namun demikian, dalam hal ini tidak
menutup kemungkinan seseorang yang sudah tua, kondisi emosinya masih
seperti orang muda yang cenderung meledak- ledak. Hal tersebut dapat
diakibatkan karena adanya kelainan- kelainan di dalam tubuhnya,
khususnya kelainan anggota fisik. Kelainan yang tersebut dapat
terjadi akibat dari pengaruh makanan yang banyak merangsang
terbentuknya kadar hormonal.
6.
Perubahan jasmani
Perubahan
jasmani ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan yang sangat cepat dari
anggota tubuh. Pada taraf permulaan petumbuhan ini hanya terbatas
pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan postur tubuh
menjadi tidak seimbang. Ketidak seimbangan tubuh ini sering mempunyai
akibat yang tidak terduga pada perkembangan emosi peserta didik.
Tidak setiap peserta didik dapat menerima perubahan kondisi tubuh
seperti ini, lebih-lebih perubahan tersebut menyangkut perubahan
kulit yang menjadi kasar dan penuh jerawat. Hormone-hormon tertentu
mulai berfungsi sejalan dengan perkembangan alat kelaminnya sehingga
dapat menyebabkan rangsangan di dalam tubuh peserta didik dan
seringkali menimbulkan masalah dalam perkembangan emosinya
7.
Perubahan interaksi dengan teman sebaya
Peserta
didik sering kali membangun interaksi sesame teman sebayanya secara
khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama dengan
membentuk emacam geng. Interaksi antar anggotanya dalam suatu
kelompok geng biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan
solidaritas yang sangat tinggi. Fakor yang sering menimbulkan masalah
emosi pada masa ini adalah hubungan cinta dengan teman lawan jenis.
Gejala ini sebenarnya sehat bagi peserta didik, tetapi tidak jarang
menimbulkan konflik atau gangguan emosi pada mereka jika tidak
diikuti dengan bimbingan dari orang tua atau orang yang lebih dewasa
8.
Perubahan Pandangan Luar.
Ada
sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan
konflik-konflik emosional dalam diri peserta didik, yaitu:
a. Sikap dunia luar terhadap peserta didik sering tidak konsisten
b.
Dunia luar atau masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda
untuk peserta didik laki-laki dan perempuan.
c. Seringkali kekosongan peserta didik dimamfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab.
9.
Perubahan interaksi dengan sekolah
Sekolah
merupakan tempat pendidikan yang sangat diidealkan oleh pererta
didik. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam kehidupan
mereka karena selain tokoh intelektual, guru juga merupakan tokoh
otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu tidak jarang
anak-anak lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru
daripada kepada orang tuanya. Posisi guru disini amat strategis
apabila digunakan untuk pengembangan emosi anak melalui penyampaian
materi-materi yang positif dan konstruktif.
I.
Hubungan antara emosi dengan tingkah laku
Melalui
teori “kecerdasan emosional” yang dikembangkannya, Daniel Goleman
mengemukakan sejumlah ciri utama pikiran emosional sebagai bukti
bahwa emosi memainkan peranan penting dalam pola berpikir maupun
tingkah laku individu. Adapun ciri utama pikiran tersebut adalah
sebagai berikut:
1.
Repons yang Cepat Tetapi Ceroboh
Pikiran
yang emosional itu ternyata jauh lebih cepat dari pada pikiran yang
rasional karena pikiran emosional sesungguhnya langsung melompat
bertindak tanpa mempertimbangkan apapun yang akan dilakukannya.
Karena kecepatannya itu sehingga sikap hati-hati dan proses analistis
dalam berpikir dikesampingkan begitu saja sehingga tidak jarang
menjadi ceroboh. Padahal, kehati-hatian dan analistis itu
sesungguhnya merupakan ciri khas dari proses kerja akal dalam
berpikir. Namun, demikian, di sisi lain pikiran emosional ini juga
memiliki suatu kelebihan, yakni membawa rasa kepastian yang sangat
kuat dan di luar jangkauan normal sebagaimana yang dilakukan oleh
pikiran rasional. Misalnya, seorang wanita yang karena sangat takut
dan terkejutnya melihat binatang yang selama ini sangat ditakutinya,
maka dia mampu melompati parit yang menurut ukuran pikiran rasional
tidak akan mungkin dapat dilakukannya.
2.
Mendahulukan Perasaan Baru Kemudian Pikiran
Pada
dasarnya, pikiran rasional sesungguhnya membutuhkan waktu sedikit
lama dibandingkan dengan pikiran emosional sehingga dorongan yang
lebih dahulu muncul adalah dorongan hati atau emosi, baru kemudian
dorongan pikiran. Dalam urutan respon yang cepat, perasaan mendahului
atau minimal berjalan serempak dengan pikiran. Reaksi emosional gerak
cepat ini lebih tampak dalam situasi-situasi yang mendesak dan
membutuhkan tindakan penyelamatan diri. Keputusan model ini
menyiapkan individu dalam sekejap untuk siap siaga menghadapi keadaan
darurat. Di sinilah keuntungan keputusan-keputusan cepat yang
didahului oleh perasaan atau emosi. Namun demikian, di sisi lain, ada
juga reaksi emosional jenis lambat yang lebih dahulu melakukan
penggodongan dalam pikiran sebelum mengalirkannya ke dalam perasaan.
Keputusan model kedua ini sifatnya lebih disengaja dan biasanya
individu lebih sadar terhadap gagasan-gagasan yang akan
dikemukakannya. Dalam reaksi emosional jenis ini, ada suatu pemahaman
yang lebih luas dan pikiran memainkan peranan kunci dalam menentukan
emosi-emosi apa yang akan dicetuskannya.
3.
Memperlakukan Realitas Sebagai Realitas Simbolik
Logika
pikiran emosional, yang disebut juga sebagai logika hati, itu
bersifat asosiatif. Dalam arti memandang unsur-unsur yang
melambangkan suatu realitas itu sama dengan realitas itu sendiri.
Oleh sebab itu, seringkali berbagai perumpamaan, pantu, kiasan dan
teater secara langsung ditujukan kepada pikiran emosional. Para ulama
pensyiar agama dan para guru spiritual termasyhur pada umumnya dalam
menyampaikan ajaran-ajarannya senantiasa berusaha menyentuh hati para
pengikutnya dengan cara berbicara dalam bahasa emosi, dengan mengajar
melalui perumpamaan, fabel, filsafat, ibarat dan kisah-kisah yang
sangat menyentuh perasaan. Oleh karena itulah, ajaran-ajaran
orang-orang bijak itu dengan cepat dan mudah dimengerti pikiran
rasional, sesungguhnya simbol-simbol dan berbagai ritual keagamaan
itu tidak sedemikian bermakna jika dibandingkan dengan sudut pandang
pikiran emosional.
4.
Masa Lampau Diposisikan Sebagai Masa Sekarang
Dari
sudut pandang ini, apabila sejumlah ciri suatu peristiwa tampak
serupa dengan kenangan masa lampau yang mengandung muatan emosi, maka
pikiran emosional akan menanggapinya dengan memicu perasaan-perasaan
yang berkaitan dengan peristiwa yang diingat itu. Pikiran bereaksi
terhadap keadaan sekarang seolah-olah keadaan itu adalah masa lampau.
Kesulitannya adalah, terutama apabila penilaian terhadap masa lampau
itu cepat dan otomatis, barangkali kita tidak menyadari bahwa yang
dahulu memang begitu, ternyata sekarang sudah tidak lagi seperti itu.
J.
Pengaruh Emosi Terhadap Perilaku dan Perubahan Fisik Individu
Ada beberapa
contoh pengaruh emosi terhadap perilaku individu diantaranya :
a.
memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil
yang telah dicapai
b.
melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan
sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa (
frustasi ).
c.
menghambat atau mengganggu konsentrsi belajar, apabila sedang
mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan sikap gugup
( nervous )
dan gagap dalam berbicara.
d.
terganggu penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan iri
hati
e.
suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya
akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari, baik terhadap dirinya
sendiri maupun terhadap orang lain.
|
Jenis
Emosi
|
Perubahan
Fisik
|
||
|
1.
|
Terpesona
|
1.
|
Reaksi
elektris pada kulit
|
|
2.
|
Marah
|
2.
|
Peredaran
darah bertambah cepat
|
|
3.
|
Terkejut
|
3.
|
Denyut
jantung bertambah cepat
|
|
4.
|
Kecewa
|
4.
|
Bernapas
panjang
|
|
5.
|
Sakit
/ Marah
|
5.
|
Pupil
mata membesar
|
|
6.
|
Takut
/ Tegang
|
6.
|
Air
liur mongering
|
|
7.
|
Takut
|
7.
|
Bulu
roma berdiri
|
|
8.
|
Tegang
|
8.
|
Pencernaan
terganggu, otot – otot menegang atau bergetar ( tremor )
|
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Emosi pada
prinsipnya menggambarkan perasaan manusia menghadapi berbagai situasi
yang berbeda.Oleh karena emosi merupakan reaksi manusiawi terhadap
berbagai situasi nyata, maka sebenarnya tidak ada emosi baik atau
emosi buruk.Berbagai buku psikologi yang membahas masalah emosi
seperti yang dibahas Atkinson (1983) membedakan emosi hanya 2 jenis
yakni emosi menyenangkan dan emosi tidak menyenangkan. Dengan
demikian emosi dapat dikatakan baik atau buruk hanya tergantung pada
akibat yang ditimbulkan baik terhadap individu maupun orang lain yang
berhubungan (Martin, 2003).
B.
Implikasi Perkembangan Emosi Bagi Dunia Pendidikan
Dilihat
dari tiga ranah yang biasa digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu
kognitif, afektif, dan psikomotor, maka emosi adalah termasuk ke
ranah afektif. Emosi banyak berpengaruh terhadap fungsi-fungsi psikis
lainnya, seperti: pengamatan, tanggapan, pemikiran, dan kehendak.
Individu akan mampu melakukan pengamatan atau pemikiran dengan baik
jika disertai dengan emosi yang baik pula. Individu juga akan
memberikan tanggapan atau respon yang positif terhadap suatu objek,
manakala disertai dengan emosi yang positif pula. Sebaliknya,
individu akan melakukan pengamatan atau tanggapan yang negatif
terhadap suatu objek, jika disertai degnan emosi yang negatif
terhadap objek tersebut.
Cara
Mengendalikan dan Mengatasi Emosi - Emosi adalah ungkapan
perasaan seseorang atas sesuatu hal, hal itu dapat datang dari orang
lain maupun kejadian-kejadian yang menyangkut dengan dirinya. Tapi
kebanyakan orang Indonesia hanya mengaitkan emosi dengan ungkapan
marah atau kesal kepada suatu hal, dan jarang sekali mengaitkan
dengan rasa senang, sedih dan ungkapan perasaan lainnya.
Nah, kali ini kita akan membicarakan emosi yang menurut orang Indonesia kebanyakan, yaitu emosi yang menyangkut dengan rasa marah, jengkel, kecewa ataupun hal lainnya.
Memiliki
emosi adalah hal wajar dan semua orang juga pernah mengalaminya
bahkan semua orang memiliki kadar emosi yang sama, yang membedakannya
adalah seberapa kuat anda dapat mengontrol emosi tersebut. Kadangkala
seseorang sangat mudah emosi hanya melalui hal sepele yang terjadi
padanya oranng yang seperti ini bisa disebut sebagai tempramental,
dan ada juga orang yang sangat dapat mengontrol emosi walaupun
beberapa hal menimpanya.
Bagi anda yang tak dapat mengontrol emosi dan sangat mudah meledak-ledak, tepat sekali kali ini kita akan membahas cara mengatasi emosi. Berikut hal-hal yang harus anda baca dan wajib anda lakukan:
Atasi Masalah
Untuk mengendalikan emosi anda yang pertama kali harus anda lakukan adalah mengatasi masalah anda. Karena kebanyakan orang yang mudah emosi memiliki masalah yang cukup pelik atau serius sehingga membauat moodnya mudah berubah.
Curhat
Manusia memang diciptakan sebagai makhluk sosial dan tak mungkin dapat hidup sendiri. Oleh karena itu anda harus menceritakan masalah yang anda hadapi kepada orang yang menurut anda dapat memberikan solusi atau bahkan dapat membantu.
Ubah Posisi Tubuh Anda
Jika anda sedang marah dalam keadaan berdiri, maka anda harus duduk. Jika anda sedang duduk, maka berbaringlah. Ketika anda merubah posisi tubuh, kemudian otak akan meresponnya dan pikiran anda akan jernih kembali.
Coba Berpikir Tenang
Cobalah untuk diam sejenak dan bepikirlah mengapa dan kenapa anda harus marah? Dan berpikirlah untuk memperbaiki keadaan yang sudah memburuk tersebut.
Cari Tempat Tenang
Sesudah anda memikirkannya, sekarang cobalah ketempat yang menurut anda paling tenang dan nyaman seperti sawah, pantai ataupun kebun. Ini dapat membantu pikiran anda kembali jernih. Jika perlu, bermalamlah beberapa hari agar anda dapat melupakan masalah ataupun mencari solusi masalah anda.
Cari Kesibukan Lain
Untuk melupakan emosi anda, anda harus menyalurkannya ke tempat lain dan pastinya harus hal yang positif.
Olahraga
Olahraga memang terbukuti dapat mengurangi rasa emosi anda dan ini sudah dilakukan penelitiannya. Cobalah ke tempat fitnes sesekali, jikapun tidak anda juga dapat melakukannya dirumah.
Mendengarkan Musik
Musik sangat ampuh dalam merubah emosi seseorang, cobalah untuk mendengar jenis musik paling nyaman menurut anda ataupun dengarkanlah musik yang berjenis klasik ataupun jazz.
Hindari Stres
Karena kabanyakan orang mengalami emosi akibat dari masalah, masalah tersebut akan menumpuk dan menjadikan anda stres dan akan membuat mood anda tak stabi
Bagi anda yang tak dapat mengontrol emosi dan sangat mudah meledak-ledak, tepat sekali kali ini kita akan membahas cara mengatasi emosi. Berikut hal-hal yang harus anda baca dan wajib anda lakukan:
Atasi Masalah
Untuk mengendalikan emosi anda yang pertama kali harus anda lakukan adalah mengatasi masalah anda. Karena kebanyakan orang yang mudah emosi memiliki masalah yang cukup pelik atau serius sehingga membauat moodnya mudah berubah.
Curhat
Manusia memang diciptakan sebagai makhluk sosial dan tak mungkin dapat hidup sendiri. Oleh karena itu anda harus menceritakan masalah yang anda hadapi kepada orang yang menurut anda dapat memberikan solusi atau bahkan dapat membantu.
Ubah Posisi Tubuh Anda
Jika anda sedang marah dalam keadaan berdiri, maka anda harus duduk. Jika anda sedang duduk, maka berbaringlah. Ketika anda merubah posisi tubuh, kemudian otak akan meresponnya dan pikiran anda akan jernih kembali.
Coba Berpikir Tenang
Cobalah untuk diam sejenak dan bepikirlah mengapa dan kenapa anda harus marah? Dan berpikirlah untuk memperbaiki keadaan yang sudah memburuk tersebut.
Cari Tempat Tenang
Sesudah anda memikirkannya, sekarang cobalah ketempat yang menurut anda paling tenang dan nyaman seperti sawah, pantai ataupun kebun. Ini dapat membantu pikiran anda kembali jernih. Jika perlu, bermalamlah beberapa hari agar anda dapat melupakan masalah ataupun mencari solusi masalah anda.
Cari Kesibukan Lain
Untuk melupakan emosi anda, anda harus menyalurkannya ke tempat lain dan pastinya harus hal yang positif.
Olahraga
Olahraga memang terbukuti dapat mengurangi rasa emosi anda dan ini sudah dilakukan penelitiannya. Cobalah ke tempat fitnes sesekali, jikapun tidak anda juga dapat melakukannya dirumah.
Mendengarkan Musik
Musik sangat ampuh dalam merubah emosi seseorang, cobalah untuk mendengar jenis musik paling nyaman menurut anda ataupun dengarkanlah musik yang berjenis klasik ataupun jazz.
Hindari Stres
Karena kabanyakan orang mengalami emosi akibat dari masalah, masalah tersebut akan menumpuk dan menjadikan anda stres dan akan membuat mood anda tak stabi
cara mengatasi emosi menurut islam
Rasulullah
saw, berwasiat kepada kita agar tidak emosi / tidak suka marah dalam
menghadapi masalah. UNTUK MENGATASI EMOSI/MARAH, RASULULLAH
MEMBIMBING KITA AGAR BERWUDU’, BERDOA MOHON KEPADA ALLAH
AGAR DIJAUHKAN DARI GODAAN SETAN. JIKA DALAM KEADAAN BERDIRI,
HENDAKLAH DUDUK, JIKA TIDAK HILANG JUGA, MAKA HENDAKLAH IA
BERBARING.
حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ هُوَ ابْنُ عَيَّاشٍ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ - فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ. (رواه البخاري : 5651 – صحيح البخاري - بَاب الْحَذَرِ مِنْ الْغَضَبِ- الجزء : 19 – صفحة : 74)
Dari Abu Hurairah ra, berkata : ADA SEORANG LELAKI BERKATA KEPADA NABI SAW : BERIKANLAH WASIAT KEPADAKU! BELIAU BERSABDA : JANGLAH ENGKAU EMOSI/MARAH. LAKI-LAKI ITU MENGULANGI KATA- KATANYA. BELIAU TETAP BERSABDA : JANGLAH ENGKAU EMOSI/MARAH. (HR.Bukhari)
حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْمَعْنَى قَالَا حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا أَبُو وَائِلٍ الْقَاصُّ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عُرْوَةَ بْنِ مُحَمَّدٍ السَّعْدِيِّ فَكَلَّمَهُ رَجُلٌ فَأَغْضَبَهُ فَقَامَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ رَجَعَ وَقَدْ تَوَضَّأَ فَقَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي عَطِيَّةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ. . (رواه ابو داود : 4152 – سنن ابو داود -بَاب مَا يُقَالُ عِنْدَ الْغَضَبِ- الجزء : 12 – صفحة : 403)
Abu Wail Al-Qash ia berkata : Kami masuk menemui Urwah bin Muhammad Assa’dy, lalu ada seorang laki-laki berbicara dengannya hingga membuatnya marah. Lantas ia berdiri berwudu’, dan kembali lagi dalam keadaan telah berwudu’. Setelahn itu ia berkata : Ayahku telah menceritakan kepadaku, dari kakeku, ‘Athiyyah, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : SESUNGGUHNYA MARAH ITU DARI SETAN, DAN SETAN DICIPTAKAN DARI API, DAN API DAPAT DIPADAMKAN DENGAN AIR. MAKA APABILA SALAH SEORANG DARI KALIAN MARAH, MAKA HENDAKLAH BERWUDU’. (HR.Abu Dawud)
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ عَنْ أَبِي حَرْبِ بْنِ أَبِي الْأَسْوَدِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنَا إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.(رواه ابو داود : 4151 -سنن ابو داود -بَاب مَا يُقَالُ عِنْدَ الْغَضَبِ- الجزء : 12 – صفحة : 502)
Dari Abu Dzar, ia berkata : Bahwa Rasululllah saw bersabda kepada kami : APABILA SALAH SEORANG KALIAN MARAH/EMOSI DAN IA DALAM KEADAAN BERDIRI, HENDAKLAH IA DUDUK, JIKA MARAHNYA HILANG (MAKA ITU YANG DIKEHENDAKI), JIKA TIDAK (HILANG JUGA), MAKA HENDAKLAH IA BERBARING. (HR. Abu Dawud)
حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ أَحَدُهُمَا غَضَبًا شَدِيدًا حَتَّى خُيِّلَ إِلَيَّ أَنَّ أَنْفَهُ يَتَمَزَّعُ مِنْ شِدَّةِ غَضَبِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُهُ مِنْ الْغَضَبِ فَقَالَ مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ قَالَ فَجَعَلَ مُعَاذٌ يَأْمُرُهُ فَأَبَى وَمَحِكَ وَجَعَلَ يَزْدَادُ غَضَبًا.(رواه ابو داود : 4149 -سنن ابو داود -بَاب مَا يُقَالُ عِنْدَ الْغَضَبِ- الجزء : 12 – صفحة : 400)
Dari Mu’adz bin Jabal ia berkata : Ada dua orang laki-laki saling mencela di sisi Nabi saw. Salah seorang dari mereka sangat marah hingga aku berfikir hidungnya pecah karena marahnya yang memuncak. Nabi saw bersabda : Sungguh aku benar-benar tahu sebuah kalimat yang jika dibaca oleh seseorang maka akan hilang kemarahan yang dirasakan. Beliau membaca kalimat itu : “ALLAAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MINASY SYAITHAANIR RAJIIM” (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-MU dari godaan setan yangt terkutuk) – Perawi berkata : Mu’adz lantas menyuruh laki-laki itu untuk membaca kalimat tersebut, tetapi ia enggan (tidak mau membacanya), justru bertambahlah marahnya. (HR.Abu Dauwud)
Ya Allah, lapangkan dada kami, tenangkan jiwa kami dan bahagiakan hidup kami. Aamiin.
http://www.facebook.com/notes/sirajuddin-syamsul-arifin/emosi-dan-cara-mengatasinya/10150472438636640
حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ هُوَ ابْنُ عَيَّاشٍ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ - فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ. (رواه البخاري : 5651 – صحيح البخاري - بَاب الْحَذَرِ مِنْ الْغَضَبِ- الجزء : 19 – صفحة : 74)
Dari Abu Hurairah ra, berkata : ADA SEORANG LELAKI BERKATA KEPADA NABI SAW : BERIKANLAH WASIAT KEPADAKU! BELIAU BERSABDA : JANGLAH ENGKAU EMOSI/MARAH. LAKI-LAKI ITU MENGULANGI KATA- KATANYA. BELIAU TETAP BERSABDA : JANGLAH ENGKAU EMOSI/MARAH. (HR.Bukhari)
حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْمَعْنَى قَالَا حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا أَبُو وَائِلٍ الْقَاصُّ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عُرْوَةَ بْنِ مُحَمَّدٍ السَّعْدِيِّ فَكَلَّمَهُ رَجُلٌ فَأَغْضَبَهُ فَقَامَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ رَجَعَ وَقَدْ تَوَضَّأَ فَقَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي عَطِيَّةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ. . (رواه ابو داود : 4152 – سنن ابو داود -بَاب مَا يُقَالُ عِنْدَ الْغَضَبِ- الجزء : 12 – صفحة : 403)
Abu Wail Al-Qash ia berkata : Kami masuk menemui Urwah bin Muhammad Assa’dy, lalu ada seorang laki-laki berbicara dengannya hingga membuatnya marah. Lantas ia berdiri berwudu’, dan kembali lagi dalam keadaan telah berwudu’. Setelahn itu ia berkata : Ayahku telah menceritakan kepadaku, dari kakeku, ‘Athiyyah, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : SESUNGGUHNYA MARAH ITU DARI SETAN, DAN SETAN DICIPTAKAN DARI API, DAN API DAPAT DIPADAMKAN DENGAN AIR. MAKA APABILA SALAH SEORANG DARI KALIAN MARAH, MAKA HENDAKLAH BERWUDU’. (HR.Abu Dawud)
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ عَنْ أَبِي حَرْبِ بْنِ أَبِي الْأَسْوَدِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنَا إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.(رواه ابو داود : 4151 -سنن ابو داود -بَاب مَا يُقَالُ عِنْدَ الْغَضَبِ- الجزء : 12 – صفحة : 502)
Dari Abu Dzar, ia berkata : Bahwa Rasululllah saw bersabda kepada kami : APABILA SALAH SEORANG KALIAN MARAH/EMOSI DAN IA DALAM KEADAAN BERDIRI, HENDAKLAH IA DUDUK, JIKA MARAHNYA HILANG (MAKA ITU YANG DIKEHENDAKI), JIKA TIDAK (HILANG JUGA), MAKA HENDAKLAH IA BERBARING. (HR. Abu Dawud)
حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ أَحَدُهُمَا غَضَبًا شَدِيدًا حَتَّى خُيِّلَ إِلَيَّ أَنَّ أَنْفَهُ يَتَمَزَّعُ مِنْ شِدَّةِ غَضَبِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُهُ مِنْ الْغَضَبِ فَقَالَ مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ قَالَ فَجَعَلَ مُعَاذٌ يَأْمُرُهُ فَأَبَى وَمَحِكَ وَجَعَلَ يَزْدَادُ غَضَبًا.(رواه ابو داود : 4149 -سنن ابو داود -بَاب مَا يُقَالُ عِنْدَ الْغَضَبِ- الجزء : 12 – صفحة : 400)
Dari Mu’adz bin Jabal ia berkata : Ada dua orang laki-laki saling mencela di sisi Nabi saw. Salah seorang dari mereka sangat marah hingga aku berfikir hidungnya pecah karena marahnya yang memuncak. Nabi saw bersabda : Sungguh aku benar-benar tahu sebuah kalimat yang jika dibaca oleh seseorang maka akan hilang kemarahan yang dirasakan. Beliau membaca kalimat itu : “ALLAAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MINASY SYAITHAANIR RAJIIM” (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-MU dari godaan setan yangt terkutuk) – Perawi berkata : Mu’adz lantas menyuruh laki-laki itu untuk membaca kalimat tersebut, tetapi ia enggan (tidak mau membacanya), justru bertambahlah marahnya. (HR.Abu Dauwud)
Ya Allah, lapangkan dada kami, tenangkan jiwa kami dan bahagiakan hidup kami. Aamiin.
http://www.facebook.com/notes/sirajuddin-syamsul-arifin/emosi-dan-cara-mengatasinya/10150472438636640
BAB
IPENDAHULUANKecerdasan Emosi sebenarnya bukan suatu bahasan yang
asing dalam Islam. Dalam telaah Alqurandan kehidupan Rasulullaah
saw. tercantum bagaimana seorang muslim atau muslimah harusbersikap
dalam menjalani hidup atau dalam mengelola emosinya.Menurut
Definisi yang dilontarkan oleh dua orang ahli, dalam bukunya
mengenai EQ dan IQ•A1995,Daniel Goldman, Kecerdasan Emosi
adalah:1. Kemampuan untuk bisa mengenali emosi diri sendiri.2.
Mengelola dan Mengekspresikan Emosi Diri dengan Tepat.3. Memotivasi
Diri Sendiri4. Mengenali Emosi Orang lain5. Membina
HubungaKecerdasan Intelektual bias diukur, ditunjuk dengan score2
tertentu, apakah tinggi, sedang, jenius, diatas rata2 atau dibawah
rata2. Jelas bahwa kecerdasan intelektual yang tinggi berbicara
tentangkemampuan minat intelektual yang dapat kita ramalkan.
Sedangkan kecerdasan emosi (EQ) yangtinggi, berbicara mengenai
tidak mudah takut atau gelisah, mudah bergaul dan jenaka,
mampumelibatkan diri dengan orang lain atau dengan permasalahan,
tanggung jawab dan simpatik, eratdalam hubungan sosial. Tidak bisa
dipisahkan antara emosi dan rasio, semua bisa berjalanberiringan,
ada hubungan intergratif antara IQ da EQ, terutama dalam masalah
motivasi/ketekunan.
Definisi
kecerdasan emosi:
1.
Mengenali Emosi Diri SendiriMengenali emosi diri sendiri merupakan
syarat utama. Mengenali emosi diri berarti mewaspadaiterhadap
suasana hati atau terhadap pikiran tentang suasana hati sendiri,
artinya harusmemposisikan diri sebagai pengontrol emosi, bukan
sebagai yang dikontrol emosi.2. Mengelola dan Mengekspresikan
Emosi.Ketika kita mampu mengelola dan mengekspresikan emosi, maka
keuntungannya kita akan mampulebih cepat menguasai perasaan, dan
kembali membangkitkan kehidupan emosi yang normal.Contoh ketika
orang yang kita cintai dipanggil Allah Swt, reaksi orang akan
bereda-beda. Akanberbeda orang yang bisa menguasai emosi dengan
orang yang terhanyut, walaupun sama-samacerdas. Orang yang cepat
menguasai perasaan, akan cepat pula bangkit dalam perasaan
yangnormal. Hal ini akan lebih baik, karena bisa kembali dalam
menjalani kehidupannya. Berbeda denganorang yang tidak bisa
menguasai emosinya.3. Memotivasi Diri SendiriDiharapkan dapat
memotivasi diri sendiri untuk dapat bekerja mencapai tujuan
4.
Mengenali Emosi orang lain.Ketika kita bisa mengenali emosi diri
sendiri, insyaAllah kita akan bisa juga mengenali emosi oranglain.
Bisa berempati, bisa merasakan apa yang orang lain rasakan tanpa
harus terhanyut. Emosi jarang terungkap dalam bentuk verbal..
Biasanya akan lebih mudah terlihat dari bahasa non-verbalyang
mencakup sekitar hampir 90%. Bahasa non-verbal ini juga lebih bisa
dipercaya. Ketika kita bisamengenali emosi orang lain , merupakan
modal kita untuk bisa hangat dengan orang lain, lebih peka,dan
lebih bisa menyesuaikan diri.5. Membina Hubungan dengan Orang
Lain.Dalam hal ini point terpenting adalah mengetahui prinsip
–
prinsip
bahwa jangan takut untukberbeda, berbeda itu tidak selamanya buruk,
jangan selalu berkorban untuk kepentingan orang lain, jangan
mengorbankan prinsip kita hanya untuk menyenangkan orang lain.
Mengendalikan
emosi
Emosi
dan perasaan akan bergolak dikarenakan dua hal, yaitu kegembiraan
yang memuncak dan musibah yang berat. Dalam sebuah hadist
Rasulul
lah
bersabda, “sesungguhnya aku
melarang
dua macam ucapan yang bodoh lagi tercela: keluhan tatkala mendapat
nikmat dan
umpatan
tatkala mendapat musibah”.
Dan
Allah berfirman,
“(Kami
jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita
terhadap apa
yang
luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap
apa yangdiberikan-
Nya
kepadamu)” (QS. Al
-Hadid:
23)
Maka
dari itu Rasulullah bersabda, “sesungguhnya kesabaran itu ada
pada benturan yang pertama”.
Barangsiapa
mampu menguasai perasaannya dalam setiap peristiwa, baik yag
memilukan dan juga menggembirakan, maka dialah orang yang
sejatinya memiliki kekukuhan iman danketeguhan keyakinan. Karena
itu pula, ia akan memperoleh kebahagiaan dan kenikmatandikarenakan
keberhasilannya mengalahkan nafsu. Allah swt menyebutkan bahwa
manusiaadalah makhluk yang senang bergembira dan berbangga diri.
Namun menurut Allah, ketikaditimpa kesusahan manusia mudah berkeluh
kesah, dan ketika mendapat kebaikan manusiasangat kikir. Akan
tetapi, tidak demikian h
alnya
dengan orang yang khusyu‟ dalam shalatnya.
Itu
karena merekalah orang-orang yang mampu berdiri seimbang di antara
gelombangkesedihan yang keras dan dengan luapan kegembiraan yang
tinggi. Dan mereka itulah yangakan senantiasa bersyukur tatkala
mendapat kesenangan dan bersabar tatkala berada
dalamkesusahan.Emosi yang tak terkendali hanya akan melelahkan,
menyakitkan, dan meresahkan diri sendiri.Sebab, ketika marah,
misalnya, maka kemarahan akan meluap dan sulit dikendalikan. Dan
ituakan membuat seluruh tubuhnya gemetar, mudah memaki siapa saja,
seluruh isi hatinyatertumpah ruah, nafasnya tersengal-sengal, dan
ia akan cenderung bertindak sekehendak nafsunya. Adapun saat
mengalami kegembiraan, ia menikmatinya secara berlebihan, mudahlupa
diri, dan tak ingat lagi siapa dirinya.Begitulah manusia, ketika
tidak menyukai seseorang, ia cenderung menghardik danmencelanya.
Akibatnya, seluruh kebaikan orang yang tidak ia sukai itu tampak
lenyap begitu
|
EMOSI
MENURUT AL-QUR’ÂN
Pendahuluan
Suatu
hal niscaya dalam kehidupan manusia adalah fakta tentang sikap dan
perilaku sehari-hari yang mencerminkan perasaan seperti rasa
senang, sedih, marah, jengkel, muak, dan sebagainya. Tidak jarang
dijumpai seseorang yang wajahnya berubah menjadi merah padam
(dalam ungkapan al-Qur’ân, muswaddan), pucat pasih, atau
berseri-seri (musfirah), karena ada peristiwa emosional
yang dialaminya saat itu. Hanya saja, ungkapan yang sering
digunakan oleh masyarakat sehari-hari untuk memaknai emosi sering
kali terbatas pada sikap dan perilaku marah saja. Padahal, cakupan
emosi itu amatlah luas, tidak hanya terbatas pada sikap dan
perilaku marah. Orang yang takjub saja, sebagaimana yang dialami
istri Nabi Ibrahim ketika di usia senjanya dikabari akan
memperoleh anak (Q.S. Hûd [11]: 72), sekelompok wanita terhormat
berdecak kagum menyaksikan ketampanan Nabi Yusuf (Q.S. Yûsuf
[12]: 30-32). Atau, orang-orang yang diidentifikasi sebagai
al-bakkâûn, yakni mereka yang mencucurkan air mata sedih
karena tidak bisa ikut dalam suatu perang membela Islam (Q.S.
al-Tawbah [9]: 92). Sementara yang bersifat eksplosif seperti yang
ditunjukkan oleh Nabi Musa ketika marah kepada kaumnya lalu
melampiaskannya dengan membanting prasasti (al-alwâh)
yang ada di tangannya (Q.S. al-A‘râf [7]: 150). Pendek kata,
emosi yang dialami manusia cakupannya sangat luas, sehingga Daniel
Goleman (1997:411) menggambarkan bahwa kosakata yang kita miliki
tak mampu menyebutkan secara persis keseluruhan emosi yang kita
rasakan. Namun, para ahli mencoba mengklasifikasi emosi menjadi
dua kelompok besar: emosi dasar (primer emotion) dan emosi
campuran (mixed emotion).
Jenis emosi yang
telah disepakati oleh para ahli sebagai emosi dasar adalah: emosi
senang/bahagia (joy,
الابتهاج),
marah (anger,
الغضب),
sedih (sadness,
الحزن),
takut (fear,
الخوف),
benci/jijik (disgust,
الاشمئزاز),
dan heran/kaget (surprise,
المفاجأة).
Para ahli menyimpulkan bahwa keenam emosi ini yang diidentifikasi
dirasakan oleh semua manusia di dunia. Emosi-emosi dasar tersebut
adakalanya bercampur antara satu dan yang lain, misalnya antara
marah dan benci, heran dan takut, benci dan rindu, dan sebagainya.
Percampuran itu bisa terjadi sangat variatif sehingga sulit
dipilah dan diberi nama, persis percampuran tiga warna dasar
(magenta, biru, kuning) yang memungkinkan terciptanya nuansa warna
tak berhingga.
Keterbangkitan
emosi ditandai oleh adanya perubahan faali (fisiologis) dan
terekspresikan dalam bentuk sikap atau tingkah laku. Perubahan
faali di saat emosi oleh al-Qur’ân diindikasikan antara lain
dalam bentuk degup jantung (‘wajilat qulūbuhum’ – Q.S.
al-Anfâl [8]: 2, Q.S. al-Hajj [22]: 35), GSR (galvanic
skin response) atau reaksi kulit (‘taqsya‘irru minhu
julûd …’ – Q.S. al-Zumar [39]: 23), reaksi pupil mata
(‘tasykhashu fîh al-abshâr’ – Q.S. Ibrâhîm [14]:
42; Q.S. al-Anbiyâ’ [21]: 97), reaksi pernapasan
(‘shadrahû dhayyiqan’ – Q.S. al-An‘âm [6]: 125,
Q.S. al-Hijr [15]: 97, Q.S. al-Syu‘arâ’ [26]: 13 atau
ungkapan seperti ‘balaghat al-qulûb al-hanâjir’
– Q.S. al-Ahzâb [33]: 10). Sedangkan ekspresi yang
dapat disaksikan antara lain wajah berseri-seri bahagia (‘wujûhun
yawma’idzin musfirah, dhâhikah
mustabsyirah’ – ‘Abasa [80]: 38-39), wajah hitam pekat
atau merah padam (‘wajhuhû muswaddâ’ – Q.S.
al-Nahl [16]: 58; Q.S. al-Zumar [39]: 60; Q.S. al-Zukhruf
[43]: 17), pandangan tidak konsentrasi (‘zâghat al-abshâr’
– Q.S. al-Ahzâb [33]: 10; Shâd [38]: 63; Q.S.
al-Najm [53]: 17), menutup telinga karena ketakutan (‘yaj’alûna
ashâbi‘a-hum fî âdzâni-him min al-shawâ‘iq hadzara
al-mawt’ – Q.S. al-Baqarah [2]: 19), menggigit ujung
jemari (‘adhdhû ‘alaykum al-anâmila min al-ghayzh’ –
Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 119), reaksi kinestetis dengan
membolak-balik telapak tangan karena kesal (‘yuqallibu
kaffayh’ – Q.S. al-Kahf [18]: 42).
Ekspresi
wajah merupakan ekspresi paling umum terjadi ketika seseorang
mengalami peristiwa emosi. Gambaran al-Qur’ân tentang ekspresi
wajah yang berseri-seri atau muram berdebu (Q.S. ‘Abasa [80]:
38-40) atau ekspresi bagian-bagian dari wajah boleh jadi karena
wajah adalah cerminan jiwa manusia yang bersifat universal dan
lintas kultural, dikenali oleh berbagai etnis di dunia dengan
pola-pola yang sama. Ia bersifat bawaan (heredity) karena
ternyata bayi yang terlahir buta tuli sekalipun mampu
melakukannya, meskipun kemudian diperkaya oleh berbagai pengalaman
dalam berinteraksi dengan orang lain. Menurut Davidoff (1987:327):
“We saw that people everywhere communicate basic emotions
with the same facial expressions and find it easy to identify
basic emotions from facial expressions.
We described how young babies, including those born blind and
deaf, use these same expressions to communicate their feelings.
The universality of basic facial expressions suggests that they
are programmed into human beings by heredity.” (Kita
menyaksikan bahwa manusia di bagian dunia manapun mengomunikasikan
emosi dasar dengan ekspresi wajah yang sama, dan kita pun
mendapatkan bahwa suatu hal yang mudah untuk mengenali emosi dasar
melalui ekspresi wajah. Kita menggambarkan bagaimana seorang bayi,
termasuk mereka yang dilahirkan dalam keadaan buta dan tuli,
menggunakan ekspresi yang sama ini untuk mengomunikasikan perasaan
mereka. Universalitas ekspresi wajah dasar ini mengisyaratkan
bahwa hal itu diprogramkan ke dalam diri manusia secara
turun-temurun).
Emosi
Dasar dalam al-Qur’ân
Kosakata
yang berdenotasi emosi tidak dijumpai secara spesifik di dalam
al-Qur’ân, tetapi bertebaran ayat yang berbicara atau berkaitan
dengan perilaku emosi yang ditampilkan manusia dalam berbagai
peristiwa kehidupan. Ungkapan al-Qur’ân tentang emosi
digambarkan langsung bersama peristiwa yang sedang terjadi.
Berbagai peristiwa emosional dijelaskan oleh al-Qur’ân meskipun
topik utamanya (main topic) bukan masalah emosi. Emosi yang
muncul pada umumnya merupakan gambaran selintas terkait dengan
main topic yang sedang dijelaskan atau diceritakan,
sehingga mufasir pun kadang-kadang tidak tertarik untuk
menjelaskan secara rinci hal itu.
Berikut
ini akan dijelaskan emosi-emosi dasar yang diisyaratkan oleh
al-Qur’ân dalam kaitannya dengan sejarah peradaban umat manusia
di masa lampau, sikap dan perilaku mereka yang terus berlangsung,
serta gambaran emosi manusia dalam kehidupan di akhirat, baik yang
menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan (tak dikehendaki).
A.
Emosi Senang
Emosi
senang umumnya didefinisikan sebagai segala sesuatu yang membuat
kepuasan dalam hidup. “We define happiness as overall
satisfaction with life”. Perasaan senang (cinta, gembira,
puas, bahagia) adalah kondisi-kondisi yang senantiasa didambakan
oleh setiap individu apa pun latar belakangnya. Hal yang mungkin
berbeda adalah persepsi terhadap sesuatu yang dapat membuat orang
senang. Sebagian menjadikan ukuran kesenangan itu pada harta yang
melimpah, kesehatan yang prima, jabatan yang bergengsi, atau
keluarga yang rukun dan sejahtera, sementara yang lain pada
hal-hal di luar itu. Oleh karena itu, objek yang dapat membuat
orang senang atau bahagia tidak bisa diukur sama untuk semua
individu. Namun, secara umum al-Qur’ân menyatakan bahwa manusia
memiliki predisposisi senang kepada wanita (lawan jenis),
anak cucu, harta yang melimpah, kendaraan mewah, dan kekayaan
lainnya (Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 14).
Ekspresi
emosi senang dijumpai dalam beberapa ayat al-Qur’ân yang dengan
jelas mengungkapkan terjadinya perubahan-perubahan pada wajah
menjadi berseri-seri yang dapat diamati oleh orang lain yang
menyaksikannya. Ayat-ayat al-Qur’ân tersebut misalnya Q.S.
al-Insân [76]: 11; ‘Abasa [80]: 38-39; al-Muthaffifîn [83]:
22-24; al-Insyiqâq [84]: 7-9. Q.S. ‘Abasa [80]: 38-39:
وُجُوهٌ
يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ 0
ضَاحِكَةٌ
مُسْتَبْشِرَةٌ
“Banyak
muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria.”
(Q.S. ‘Abasa
[80]: 38-39)
Menurut
al-Thabarî (1405 H), kata musfirah dalam ayat tersebut
berasal dari asfar, yaitu ungkapan dalam bahasa Arab untuk
menyebut wajah yang cantik (bersinar). Cahaya subuh juga disebut
asfar ketika mulai bersinar, bahkan setiap yang bersinar
dikatakan musfir. Wajah yang musfirah adalah wajah
berseri-seri yang memancarkan sinar kegembiraan karena mendapatkan
suatu kenikmatan.
Ungkapan
emosi senang di dalam al-Qur’ân sangat beragam. Senang meraih
kenikmatan dan terhindar dari kesulitan misalnya dijumpai dalam
Q.S. Hûd [11]: 10; al-Rûm [30]: 36; al-Syûrâ [42]: 48; Âlu
‘Imrân [3]: 170; Yûnus [10]: 58; Yûsuf [12]: 33-34. Senang
terhadap lawan jenis (Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 14; al-Rûm [30]:
21; Yûsuf [12]: 30-32), senang terhadap harta (al-Fajr [89]: 20;
al-‘Âdiyât [100]: 8; al-Kahf [18]: 34; al-Ra‘d [13]: 26),
senang memberi atau menerima (al-Hasyr [59]: 9; al-Naml
[27]: 36; al-Tawbah [9]: 58-59; al-Insân [76]: 8-9; al-Nisâ’
[4]: 4). Sementara senang terhadap hasil usaha (prestasi) dapat
dilihat misalnya dalam Q.S. al-Rûm [30]: 2-4; al-An‘âm [6]:
135; Âlu ‘Imrân [3]: 188; Ghâfir [40]: 83. Ada pula bentuk
kesenangan yang menyimpang dari fitrah kemanusiaan, yaitu jika
seseorang senang terhadap kesulitan orang lain (Âlu ‘Imrân
[3]: 120; al-Tawbah [9]: 50). Jenis yang terakhir ini tentu harus
dihindari karena bertentangan dengan ajaran agama.
Kata
fariha
(gembira, senang) yang disebutkan dalam beberapa ayat di atas
merupakan gambaran suasana hati ketika dapat merasakan kepuasan
begitu mendapatkan apa yang diinginkan. Demikian
pendapat al-Baghawî (1407 H) yang menyatakan: “الفَرَحُ:
لَذَّةٌ
فِى القَلْبِ بِنَيْلِ المُشْتَهَى”.
Objek yang menimbulkan emosi senang bersifat sangat personal. Nabi
Yusuf sangat senang ketika doanya terkabul untuk masuk penjara
sebagai usaha menghindari godaan para wanita yang tertarik padanya
(Q.S. Yûsuf [12]: 33-34).
Sedangkan
Q.S. al-Hasyr [59]: 9 turun dalam kasus Abu Thalhah
(yang lain menyebut Tsâbit ibn Qays, atau Abû Nashr Abd
al-Rahîm) yang begitu berempati kepada tamunya ‘pengungsi’
dari kaum Muhajirin. Ia sendiri kesulitan dalam hidupnya tetapi
masih tetap mengutamakan tamunya meski harus memberikan makanan
yang tadinya untuk anak balitanya. Walaupun ayat ini turun untuk
apresiasi terhadap emosi senang yang ditunjukkan seorang Ansar
kepada Muhajirin, namun kondisi itu merata pada hampir semua kaum
Anshar. Faktor senang membantu tamu-tamu itu merupakan gejala umum
di masyarakat Madinah. Mereka memberi apa yang dibutuhkan oleh
tamu-tamunya meskipun sebenarnya mereka juga butuh, termasuk
mereka yang memiliki istri lebih dari satu dengan rela diberikan
kepada tamu-tamu Muhajirin.
Hal yang kontras
terjadi adalah apa yang dijelaskan dalam Q.S. al-Taubah [9]:
58-59. Ayat ini turun pada kasus Ibn Dzu al-Khuwaysharah
al-Tamimi (atau pada Abu al-Jawaz, atau Abu al-Jawth–ada yang
menyebutnya, munafik), ia memprotes keadilan Rasulullah ketika
membagi sedekah dan harta rampasan perang (ghanîmah,
al-fay’)
karena ia tidak mendapat bagian. Orang-orang munafik ketika
mendapat bagian mereka meluapkan kesenangan, tetapi ketika tidak,
serta-merta mereka menggerutu dan marah. Atau, ketika mendapat
banyak amat senang, tapi ketika sedikit mereka jengkel “إن
أعطوا كثيرا فرحوا وإن أعطوا قليلا
سخطوا”.
Q.S. al-Rûm
[30]: 2-4 menggambarkan kekalahan dan kemenangan dua kekuatan
imperium di abad VII, Romawi Timur dan Persia (yang mendapat
simpati dari kaum musyrik Mekah). Kemenangan terhadap lawan
(tanding) merupakan prestasi. Sebuah prestasi, apakah diukir
sendiri atau oleh orang yang mendapat simpati dan dukungan kita,
membawa kepuasan tersendiri. Semakin susah prestasi itu diperoleh,
semakin tinggi pula nilai kepuasannya. Menurut McClelland pada
diri manusia terdapat kebutuhan untuk berprestasi yang dikenal
dengan istilah n-Ach (need for achievement).
Senyampang dengan
itu, al-Qur’ân melarang manusia melampiaskan emosi senangnya
dengan berlebih-lebihan, cara-cara yang tak lazim, atau akibat
kesombongan dan maksiat (Q.S. al-Qashash [28]: 76; Ghâfir [40]:
75-76; al-Hadîd [57]: 23). Larangan mengungkapkan emosi
senang yang terdapat pada 28:76 hendaklah dipahami sebagai emosi
senang yang berlebihan dan yang membawa pada kebanggaan terhadap
diri sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh Qarun ibn
Yushar ibn Qahits ibn Lawi. Karena ternyata harta kekayaan dan
pernik-pernik duniawi dapat membangkitkan emosi senang berlebihan
dan dapat menjauhkan manusia dari Allah. Menurut al-Baydhâwî
bahwa ketidaksukaan Allah kepada orang yang mengungkapkan
kegembiraannya (seperti dapat dibaca pada Q.S. al-Qashash [28]:
76) adalah jika dilakukan secara berlebih-lebihan dan
semata-mata dalam hal keduniawian yang menyebabkan
manusia lupa pada eksistensi Tuhan sebagai sumber kesenangan itu.
Apalagi jika ungkapan emosi senang itu terjadi karena kemaksiatan
yang dilakukan, sebagaimana dijelaskan Q.S. Ghâfir [40]: 75.
B.
Emosi Marah
Emosi
marah adalah emosi yang paling dikenal dalam percakapan
sehari-hari, bahkan sering dianggap perilaku marah identik dengan
emosi. Tingkah laku yang menyertai emosi marah sangat beragam
mulai dari tindakan diam atau menarik diri (withdrawal)
hingga tindakan agresif yang dapat mencederai atau mengancam
nyawa orang lain. Pemicunya juga sangat beragam, dari hal-hal yang
sangat sepele sampai pada pelanggaran berat terhadap hak asasi
manusia. Pada umumnya emosi marah pada manusia dikenali dengan
terjadinya perubahan pada raut muka (tegang, merah padam), nada
suara yang berat, anggota badan bergetar, atau sikap siap
menyerang. Atau, agresivitas itu tidak menggejala karena
disembunyikan dengan alasan-alasan tertentu.
Faktor
penyebab keterbangkitan emosi marah ada yang bersifat eksternal
dan ada pula yang bersifat internal. Faktor eksternal adalah
stimuli yang datang dari luar diri kita, baik lingkungan sosial
maupun lingkungan alam seperti cuaca, gangguan alam, atau yang
lain. Sedangkan faktor internal datang dari dalam diri manusia
sendiri atau sering juga disebut sebagai faktor personal. Orang
yang tempramental sangat mudah tersinggung dan terpancing untuk
melampiaskan emosi marahnya ketimbang dengan orang penyabar.
Sikap dan tingkah laku marah dimiliki oleh semua makhluk, bahkan
Allah sebagai al-Khâliq dapat marah (murka). Allah marah
kepada orang yang membunuh manusia tanpa haq,
musyrik, munafik, bersumpah palsu, dan sebagainya.
Gejala-gejala
emosi marah yang muncul dalam sikap dan perilaku manusia yang
direkam oleh al-Qur’ân dalam berbagai peristiwa, ekspresi, dan
tindakan. Salah satu di antaranya, Q.S. al-A‘râf [7]: 150:
وَلَمَّا
رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ
أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي
مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ
رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الأَلْوَاحَ
وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ
إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ
الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا
يَقْتُلُونَنِي فَلاَ تُشْمِتْ بِيَ
الأَعْدَاءَ وَلاَ تَجْعَلْنِي مَعَ
الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Dan
tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih
hati berkatalah dia: ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu
kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji
Tuhanmu?’ Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan
memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke
arahnya. Harun berkata: ‘Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini
telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku,
sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku,
dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang
zalim.”
Ekspresi emosi
marah dalam penuturan al-Qur’ân dijumpai dalam semua bentuk
ekspresi. Pertama, ekspresi marah dengan perubahan pada
raut muka dijumpai misalnya dalam Q.S. al-Nahl [16]: 58-59;
al-Zukhruf [43]: 7 (ketika orang-orang jahiliah mendapatkan bayi
perempuan). Kedua, ekspresi marah dengan kata-kata
diungkapkan Q.S. Thaha [20]: 86; al-Qalam [68]: 48; al-Anbiyâ’
[21]: 87-88 (peristiwa Nabi Musa yang kesal kepada saudaranya,
Harun; dan peristiwa Nabi Yunus yang kesal kepada kaumnya lalu
pergi menjauh dan kemudian ditelan ikan–kekesalan berganda).
Ketiga, ekspresi emosi dengan tindakan dapat dibaca pada
Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 119; al-A‘râf [7]: 150 (orang-orang
kafir musyrik menggigit jari-jemarinya karena marah yang bercampur
benci kepada kaum Muslimin; dan peristiwa Nabi Musa melempar
prasasti/alwâh ketika menjumpai kaumnya
menyembah al-‘ijl). Keempat, ekspresi marah dengan
diam digambarkan misalnya oleh Q.S. Yûsuf [12]: 84-85; 12:77
(Nabi Ya’qub berpaling dari anak-anaknya yang bersekongkol
‘membunuh’ Yusuf; dan Yusuf menahan marah atas fitnah
saudara-saudaranya kepada dirinya).
Betapa
banyak peristiwa emosi marah yang selalu kita saksikan dalam
kehidupan sehari-hari akibat dari tidak tercapainya sesuatu yang
diinginkan. Orang bisa berteriak, memaki, membentak, menendang,
menempeleng, menggebrak meja, membanting gelas, menggerutu,
melotot, atau tindakan lainnya hanya karena harapannya tak
kesampaian. Rekaman peristiwa di dalam al-Qur’ân telah mencatat
aneka macam tingkah laku manusia ketika berbagai keinginannya
gagal tercapai. Ada yang memutarbalikkan fakta untuk
mencelakakan orang yang menjadi penghalang harapan-harapannya itu
(Q.S. Yûsuf [12]: 25-28). Ada yang mengajak perang tanding
untuk menampilkan kehebatan yang dimilikinya agar dapat
disaksikan oleh khalayak (Q.S. Thaha [20]: 63-70). Ada pula yang
berusaha mengusir orang yang menjadi perintang keinginan-keinginan
mereka dengan deportasi ke luar negeri mereka (Q.S. al-Naml [27]:
54-56). Dan, aneka respons emosional yang muncul di saat harapan
tak kesampaian: menggerutu kalau hanya mendapat sedikit bagian
zakat (Q.S. al-Tawbah [9]: 58); kesal kalau dzikrullâh
mendominasi percakapan (Q.S. al-Zumar [39]: 45); jengkel yang
melanda orang kafir ketika tak mampu memperdayakan dan mengalahkan
orang mukmin padahal jumlah personel dan teknologi perang mereka
lebih unggul (Q.S. al-Ahzâb [33]: 25).
Keterbangkitan
(arousal) emosi marah kadang-kadang bermula dari percakapan
biasa, tawa canda yang kemudian menyerempet ke harga diri, hingga
provokasi yang disengaja untuk membangkitkan emosi marah.
Harga diri (self esteem), pembelaan pada simbol identitas,
dan perebutan teritori adalah hal yang paling sering memunculkan
emosi marah. Fir‘aun merasa kekuasaannya dilecehkan lalu
memprovokasi masyarakat untuk mengirimkan pemberaninya melawan
Musa dan pengikutnya (Q.S. al-Syu‘arâ’ [26]: 53-55).
Personifikasi
juga terjadi dalam menggambarkan emosi marah. (Personifikasi
sering muncul karena gaya bahasa al-Qur’ân yang puitis,
meskipun ia bukan buku sastra. Bertanya pada negeri “…وَاسْأَلِ
الْقَرْيَةَ”
[Q.S.
Yûsuf [12]: 82], benda-benda angkasa termasuk planet-planet
patuh kepada Tuhannya “وَأَذِنَتْ
لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ”
[Q.S.
al-Insyiqâq [84]: 2,5], langit dan bumi tidak menangisi mereka
“…فَمَا
بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ
وَالْأَرْضُ”
[Q.S.
al-Dukhân [44]: 29], adalah contoh-contoh personifikasi al-Qur’ân
yang harus dipahami sesuai dengan konteksnya). Q.S. al-Mulk [67]:
6-8 dan al-Furqân [25]: 12 menggambarkan tentang kegeraman neraka
ketika dimasuki para pendosa. Menurut Ibn Katsir, kemarahan neraka
digambarkan hampir-hampir memisahkan bagian demi bagian
akibat amarah yang dahsyat kepada penghuninya.
C.
Emosi Sedih
Dalam
kenyataan hidup sehari-hari tidak selamanya manusia bergembira,
adakalanya juga bersedih. Sedih karena gagal meraih sukses,
mendapat kesulitan, ditinggal orang yang dicintai, atau sebab yang
lain. Begitulah kehidupan terjadi silih berganti (Q.S.
Âlu ‘Imrân [3]: 140). Tertawa atau menangis sudah merupakan
bawaan (naluri, gharîzah) karunia dari Allah. Dari sejak
lahir manusia sudah pandai menangis dan tersenyum. Setelah mulai
menapaki kehidupan orang belajar dari lingkungannya kapan
tempatnya tertawa dan kapan pula menangis. Q.S. al-Najm [53]: 43
menjelaskan:
وَأَنَّهُ
هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
“Dan
bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”
Kesedihan
memang sesuatu yang tidak diharapkan, tetapi senang atau tidak
senang, pasti mampir juga dalam perjalanan hidup manusia.
Rasulullah saw. sendiri pernah mengalami kesedihan bertubi-tubi,
antara lain ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihinya dalam
selang waktu relatif singkat, sehingga tahun kejadian itu dikenal
dalam sejarah sebagai âm al-huzn
(tahun kesedihan, tahun 619 H). Cobaan yang dialaminya cukup
berat sampai tiba saatnya mendapat kelapangan (al-insyirâh,
enlightenment, pencerahan). Kesedihan berganti
dengan kebahagiaan, beban berat terlewati, dan memang sesudah
kesulitan pasti ada kemudahan. Sungguh! (Q.S. al-Insyirâh
[94]: 1-8).
Pada
umumnya, yang kita kenali dalam ekspresi emosi sedih adalah
tangis. Akan tetapi, tidak
berarti bahwa setiap orang yang menangis pasti bersedih, karena
ternyata ada tangis bahagia, tangis haru, atau bahkan ada tangis
pura-pura seperti terjadi pada kisah saudara-saudara Yusuf.
Ekspresi lain adalah raut wajah yang menggambarkan suasana hati
ketika sedang bersedih: dingin, pucat, pandangan lesu, tanpa
senyum, tidak bergairah.
Beberapa
ayat al-Qur’ân menjelaskan model-model ekspresi emosi sedih
yang diperankan oleh manusia. Pertama, ekspresi emosi sedih
dengan cucuran air mata yang memancarkan perasaan yang dialami
(Q.S. al-Tawbah [9]: 92); kedua, tangis yang dibuat-buat
untuk memberi kesan kesedihan atau sandiwara (Q.S. Yûsuf [12]:
15-16); ketiga, ekspresi sedih dalam bentuk perilaku
menarik diri (withdrawal, tawallâ) disertai mata yang
berkaca-kaca (Q.S. Yûsuf [12]: 84-86).
Pada
umumnya, kesedihan muncul ketika seseorang ditimpa kesulitan,
kemalangan, atau kondisi-kondisi yang sangat tak diharapkan
lainnya. Penyebab kesedihan pasti akan mampir dalam setiap
kehidupan manusia, hanya tinggal bagaimana orang itu memaknai
setiap peristiwa yang dialaminya, lihat Q.S. Fushshilat [41]: 49;
al-Ma‘ârij [70]: 19-22; Ghâfir [40]: 18; al-Zukhruf [43]: 17;
Shâd [38]: 27; Âlu ‘Imrân [3]: 191. Orang mukmin sejati yang
senantiasa memelihara ketakwaannya sangat pandai memaknai setiap
peristiwa yang terjadi sehingga mereka tidak mudah larut dalam
kesedihan atau keputusasaan (Q.S. al-An‘âm [6]: 48; Yûnus
[10]: 62-63; al-Ahqâf [46]: 13; al-Zumar [39]: 61;
al-A‘râf [7]: 35; al-Baqarah [2]: 122, 277). Kalaupun ada orang
mukmin bersedih, hal itu karena ia tidak mampu memaksimalkan
kebaikan yang seharusnya bisa dilakukannya (Q.S. al-Tawbah [9]:
92) seperti pada Kelompok Tujuh atau Kelompok al-Bakkâ’ûn
(orang-orang yang mencucurkan air mata sedih karena
gagal berpartisipasi dalam suatu perang jihad yang mereka
rindukan).
D.
Emosi Takut
Emosi
takut merupakan salah satu emosi yang sangat penting dalam
kehidupan manusia, karena berperan untuk mempertahankan diri dari
berbagai masalah yang dapat mengancam kehidupan itu sendiri. Emosi
takut manusia dalam penuturan al-Qur’ân mempunyai cakupan yang
luas. Bukan hanya gambaran ketakutan di dunia ini seperti
ketakutan pada kelaparan, kehilangan jiwa dan harta, bencana alam,
melainkan juga menyangkut ketakutan pada kesengsaraan hidup di
akhirat. Hal ini menjadi pembeda yang tegas antara orang beriman
yang percaya pada kehidupan akhirat dengan yang tidak. Ketakutan
pada orang beriman juga menjadi ajang promosi baginya untuk
mencapai suatu predikat tertentu dalam pandangan Allah. Firman
Allah dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 155 (juga Q.S. al-Nahl
[16]: 112)
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ
وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ
وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan
sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Manfaat
emosi takut menurut perspektif al-Qur’ân tidak hanya untuk
menjaga manusia dari berbagai bahaya yang mengancam kehidupannya
di dunia ini, tetapi juga mendorong setiap mukmin untuk memelihara
dirinya dari azab Allah di akhirat. Kehidupan akhirat meskipun
time response-nya lama, tetapi pasti sebagaimana
pastinya kematian itu sendiri. Sebenarnya, pada diri manusia
terdapat mekanisme pertahanan diri sehingga segala sesuatu
yang dapat mengancam dirinya akan dihindarkan atau dia yang
menghindar. Menghindar dapat berupa kesengajaan atau tindakan
refleks yang bersifat spontanitas terhadap ancaman yang bersifat
sekonyong-konyong. Manusia akan selalu melakukan adaptation
(adaptasi, penyesuaian diri dengan lingkungan) atau
adjustment (penyesuaian lingkungan menurut yang
dikehendaki) terutama terhadap hal-hal yang berpotensi
mengancam jiwa.
Perubahan
tingkah laku karena emosi takut umumnya diekspresikan dalam bentuk
perubahan pada raut muka menjadi pucat pasih, berteriak histeris
(scream), loncat dan berlari, merunduk, menutup telinga,
menghindar, atau tindakan lain. Perubahan faali dapat terjadi
berupa denyut nadi meningkat, jantung berdebar-debar, pandangan
mata kabur, keluar keringat dingin, persendian terasa lemas.
Ekspresi berupa tingkah laku antara lain seperti menutup telinga
ketika mendengar petir dan kilat yang menyambar-nyambar (Q.S.
al-Baqarah [2]: 19), mengungsi karena takut perang (Q.S.
al-Baqarah [2]: 243). Ketakutan yang muncul pada hubungan
intrapersonal biasanya terjadi ketika mengingat peristiwa
masa lampau yang tersimpan di dalam memori (Q.S. al-Syu‘arâ’
[26]: 14; al-Qashash [28]: 18; Âlu ‘Imrân [3]: 151; al-Rûm
[30]: 28). Sedangkan emosi takut yang muncul pada hubungan dengan
orang lain (interpersonal) baik perorangan maupun kelompok (Q.S.
Thaha [20]: 67-68; al-Syu‘arâ’ [26]: 21; Shâd [38]: 22;
Thaha [20]: 40-46, 77; al-Nisâ’ [4]: 77,101; al-Anfâl [8]: 26;
al-Mâ’idah [5]: 21-22; Yûnus [10]: 83).
Dari
ayat-ayat itu tampak jelas adanya kesan ketakutan terhadap
manusia, dalam hal ini penguasa yang lalim, kelompok tirani yang
perkasa (qawm jabbârîn), dan serdadu-serdadu yang menjadi
mesin perang. Akan tetapi, kemudian Allah memberi peneguhan kepada
orang-orang beriman untuk berani melawan kebatilan siapapun
pelakunya, dan menegakkan yang haq
sesudahnya. Perbedaan-perbedaan yang ada pada manusia menyangkut
ideologi, agama, etnis, dan perbedaan lainnya dapat menjadi
potensi konflik antarmanusia yang menimbulkan emosi takut,
baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Untuk itu,
al-Qur’ân mereduksi potensi konflik itu dengan mengajak semua
pihak yang memiliki perbedaan tadi untuk saling mengenal (Q.S.
al-Hujurât [49]: 13), dan kemudian saling menghormati.
Kalaupun terjadi konflik antarorang perorang segera didamaikan
sebelum menjadi perang besar antarkelompok (Q.S. al-Hujurât
[49]: 9-10).
Pencegahan
dini sebagaimana dimaksud oleh al-Qur’ân itu diperlukan karena
ketika massa terlibat pada suatu masalah terkadang sulit
dikendalikan. Jiwa individu ketika berada di tengah-tengah massa
lebur menjadi jiwa massa. Gejala seperti ini dalam psikologi
dikenal dengan istilah deindividuation.. Dan ternyata
berdasarkan berbagai eksperimen, deindividuation ini
potensial menjadi pemicu agresi. Dalam bahasa Feldman (1985:316),
“deindividuation is also a potential cause of aggression, and
this fact has been shown in a number of experiments.”
Emosi
takut dalam kaitannya dengan hubungan metapersonal digambarkan
al-Qur’ân dalam dua term, yaitu: al-khawf
(الخوف)
dan al-khasyyah
(الخشية),
selain term taqwâ
yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan takut
(yang sesungguhnya tidak pas). Sebagian ulama tafsir membedakan
kedua term itu (al-khawf
dan al-khasyyah),
sementara yang lainnya menganggapnya sinonim saja. Jika
dicermati ayat-ayat yang menggunakan term al-khawf
(seperti Q.S. Ibrâhîm [14]: 14; Q.S. al-Sajdah [32]: 16)
tampaknya lebih umum dan intensitas ketakutan itu lebih ringan
jika dibandingkan dengan pada term al-khasyyah
(seperti
Q.S. Yâsin [36]: 11; al-Mulk [67]: 12). Takut kepada bencana alam
maupun bencana hari kiamat juga selalu menggunakan term al-khawf
(seperti Q.S. al-An‘âm [6]: 15; al-A‘râf [7]: 59; Yûnus
[10]: 15; Hûd [11]: 3, 26, 84, 103; al-Isrâ’ [17]: 57; al-Nûr
[24]: 37, 50).
E.
Emosi Benci
Mekanisme
pertahanan hidup manusia melahirkan berbagai tingkah laku dan
berbagai jenis emosi. Emosi benci, seperti halnya emosi takut,
dapat mengantar manusia untuk melestarikan hidupnya. Hanya
saja, emosi benci itu kadang-kadang tidak tepat sasaran jika
terarah pada hal-hal yang seharusnya tidak dibenci. Bahkan,
menurut al-Qur’ân ada hal-hal yang sering dibenci oleh manusia,
tetapi ternyata sangat bermanfaat baginya. Atau sebaliknya,
disenangi tetapi membawa efek negatif baginya (Q.S.
al-Baqarah [2]: 216; al-Nisâ’ [4]: 19).
كُتِبَ
عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ
لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا
وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ
تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ
تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan
atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang
kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia
amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui.”
Emosi
kebencian dan ketidaksenangan manusia, sebagaimana tergambar
dalam ayat-ayat al-Qur’ân, umumnya mengarah pada kebencian
terhadap kebenaran yang datang dari Allah SWT. berupa wahyu
itu sendiri, keharusan untuk taat, berjihad, berinfak, dan
sebagainya. Kalau dibandingkan dengan jumlah ayat yang menerangkan
tentang emosi senang di dalam al-Qur’ân, maka emosi benci jauh
lebih kecil jumlahnya. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan
al-Qur’ân sebenarnya lebih cenderung pada pendekatan reward
(ganjaran, targhîb) daripada punishment (hukuman,
ancaman, tarhîb).
Keberpihakan
Allah terhadap kebaikan merupakan salah satu cara memotivasi
manusia untuk selalu dalam kebaikan dan membenci hal-hal yang
buruk dan merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Dalam banyak
ayat, Allah SWT. sering kali menutup sebuah ayat dengan menyatakan
ketidaksenangannya pada keburukan itu. Allah tidak senang pada:
kerusakan dan orang-orang yang berbuat kerusakan (Q.S. al-Baqarah
[2]: 205; al-Maidah [5]: 64; al-Qashash [28]: 77), keterlaluan
atau melampaui batas (Q.S. al-Baqarah [2]: 190; al-Mâ’idah [5]:
87; al-A‘râf [7]: 31), berfoya-foya, mubazir, isrâf
(Q.S. al-An‘âm [6]: 141; al-A‘râf [7]: 31), suka berkhianat
(Q.S. al-Nisâ’ [4]: 107; al-Anfâl [8]: 58; al-Hajj
[22]: 38), sombong dan membangga-banggakan diri (Q.S. al-Nisâ’
[4]: 36; al-Nahl [16]: 23; Luqmân [31]: 18; al-Hadîd
[57]: 23), lupa daratan karena kelewat gembira (al-Qashash [28]:
76), mengingkari kebenaran, kafir (Q.S. al-Baqarah [2]: 276; Âlu
‘Imrân [3]: 32; al-Rûm [30]: 45), berbuat aniaya, zalim (Âlu
‘Imrân [3]: 57, 140; al-Syûrâ [42]: 40), suka berkata-kata
kasar (al-Nisâ’ [4]: 148).
Ekspresi
emosi benci yang digambarkan oleh al-Qur’ân adakalanya
bersifat spontanitas dan adakalanya pula tidak spontanitas.
Ekspresi yang tidak spontanitas itu sejatinya hanya
tertunda karena mungkin ada faktor takut atau hal lain jika
diekspresikan pada saat itu juga. Emosi benci yang spontan dan
yang tidak spontan masing-masing dapat dilihat dalam Q.S. al-Isrâ’
[17]: 46 dan Âlu ‘Imrân [3]: 119-120.
Kebenaran
dari Allah digambarkan oleh al-Qur’ân dalam banyak ayat sering
kali mendapat penolakan dengan ekspresi kebencian dan
ketidaksenangan dari sebagian manusia. Selalu ada upaya
sistematis dan terus-menerus untuk menghancurkan kebenaran
dari Allah itu. Dalam ungkapan al-Qur’ân misalnya disebutkan
‘mereka ingin memadamkan cahaya dari Allah’, dan sebagainya
(Q.S. al-Tawbah [9]: 32-33; al-Shaff [61]: 8-9; Yûnus [10]: 82;
al-Anfâl [8]: 8; al-Mu’minûn [23]: 70; al-Zukhruf [43]: 78;
Muhammad [47]: 9, 26, 28; al-Zumar [39]: 45). Demikian juga
ketidaksenangan pada perilaku kebaikan misalnya pada infak (Q.S.
al-Tawbah [9]: 53-54), pada jihad (Q.S. al-Anfâl [8]: 5;
al-Baqarah [2]: 216; al-Tawbah [9]: 81-82), ketaatan beribadah
(Q.S. al-Ra‘d [13]: 15), keikhlasan dalam mengabdi (Q.S. Ghâfir
[40]: 14).
Emosi
benci terhadap perilaku seseorang kadang-kadang sulit dipisahkan
dengan pelakunya. Ketika kita benci pada perilaku menggunjing
(ghîbah), maka kita pun tak senang pada orang yang suka
ghîbah itu. Atau sebaliknya, sering kali orang benci pada
seseorang membawa pula ketidaksenangan pada segala yang
berhubungan dengan orang itu. Tertawanya orang yang tak kita
senangi terdengar pula tak enak di telinga. Ketidaksenangan
orang kafir pada ajaran Allah berdampak kebencian kepada pembawa
risalah (rasul). Hal ini yang dialami oleh para rasul sebagaimana
banyak disinyalir oleh al-Qur’ân, seperti dijelaskan Q.S.
al-A‘râf [7]: 88 dalam kasus Nabi Syu‘aib.
F.
Emosi Heran
dan Kaget
Emosi
heran dan kaget berada pada garis kontinum yang sama. Pada
peristiwa heran terdapat sangkaan di luar yang dibayangkan
terjadi, merasa ganjil ketika mengindera sesuatu, atau di luar
kebiasaan. Sedangkan pada peristiwa kaget emosi terjadi dengan
sangat tiba-tiba, terperanjat atau terkejut karena heran yang
tiba-tiba. Intensitas emosi pada peristiwa kaget lebih dalam
dibandingkan dengan emosi pada peristiwa heran. Akibatnya,
perubahan fisiologis pada emosi kaget juga lebih tinggi, seperti
denyut jantung yang lebih cepat, pernafasan yang berat, dan
sebagainya. Emosi heran dan kaget diperlukan dalam konstelasi
kehidupan manusia, karena hal itu memberi peringatan dan
pewaspadaan terhadap sesuatu yang dapat mengancam kehidupan.
Sesuatu yang tak lazim sekonyong-konyong muncul atau dijumpai di
sekitar kita perlu diwaspadai kalau-kalau hal itu berbahaya bagi
kehidupan.
Di
dalam al-Qur’ân, ekspresi heran dan kaget muncul dalam sejumlah
ayat sebagai fenomena yang sering terjadi dalam kehidupan manusia
ketika berhadapan dengan objek di lingkungannya, baik lingkungan
alam maupun lingkungan personal (sosial). Bahasa yang sering
digunakan al-Qur’ân adalah takjub yang sudah diserap ke dalam
bahasa Indonesia. Seperti halnya kurva normal, kehidupan ini
selalu disertai oleh keganjilan, sebagian ganjil negatif dan
sebagian lagi ganjil positif. Orang yang buruk rupa dan memiliki
multihandicapped dapat dikategorikan sebagai ganjil
negatif, sementara yang sangat cantik atau ganteng dan nyaris
tanpa cacat sebagai ganjil positif. Anak yang terbelakang mental
(idiot) biasanya dianggap sebagai anak luar biasa (ke bawah),
sementara yang jenius pun disebut anak luar biasa (ke atas).
Emosi
kaget (heran, takjub) yang dialami oleh manusia pada umumnya
diekspresikan dengan berteriak spontan, terperanjat, mata
membelalak, merinding, merunduk, latah, meneteskan air mata,
menertawai, diam seribu bahasa, termangu, terpesona, dan
sebagainya. Ekspresi heran dan kaget ini juga telah digambarkan di
dalam al-Qur’ân dengan sangat spektakuler, misalnya Q.S. Yûsuf
[12]: 31:
فَلَمَّا
سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ
إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ
مُتَّكَأً وَءَاتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ
مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ
عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ
أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ
وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا
بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلاَّ مَلَكٌ
كَرِيمٌ
“Maka
tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka,
diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka
tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah
pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada
Yusuf): ‘Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.’ Maka
tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada
(keelokan rupa) nya dan mereka melukai (jari) tangannya dan
berkata: ‘Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia.
Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.”
Di
alam ini terkandung banyak hal atau peristiwa misteri, tidak atau
belum diketahui secara pasti mengapa hal itu terjadi. Dengan
curiosity (keingintahuan) yang ada pada manusia sedikit
demi sedikit misteri itu tersibak melalui pengalaman-pengalaman
atau penelitian-penelitian. Di kalangan sufi dikenal istilah
tersingkapnya kasysyâf (tirai selubung) yang
menyelimuti hakikat sesuatu ketika pengalaman dan latihan
(riyâdhah, exercise) mencapai maqâm (tingkat)
tertentu.
Apabila
diklasifikasi berbagai peristiwa dalam kehidupan ini, maka dapat
dikatakan ada tiga pewilayahan: Pertama, wilayah terang
(putih), yaitu hal atau peristiwa yang telah dapat diterangkan
secara jelas tentangnya, tanpa ragu. Kedua, wilayah gelap
(hitam), yaitu yang masih misterius bagi manusia, belum dapat
dijelaskan. Dan ketiga, wilayah bayang-bayang (abu-abu),
sesuatu yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan dengan memuaskan
meskipun sebagian daripadanya telah mulai tersibak. Contoh, bagi
orang yang belum pernah melihat besi berani (magnet, besi yang
mengandung muatan listrik) sebelumnya akan terheran-heran
ketika menyaksikan magnet itu dapat menggaet potongan besi lain di
dekatnya. Baginya, magnet itu masih berada dalam wilayah hitam.
Sementara para ahli fisika dan yang telah mendapat penerangan
tentang teori dan cara kerja magnet itu berarti telah
menjadikannya wilayah terang baginya.
Ayat-ayat
yang menerangkan tentang adanya peristiwa yang mengherankan
(menakjubkan) terjadi di luar kebiasaan antara lain: emosi heran
berkenaan dengan malaikat (Q.S. Hûd [11]: 70), berkenaan dengan
jin (Q.S. al-Jinn [72]: 1), berkenaan dengan manusia (Q.S. Shâd
[38]: 22), berkenaan dengan hewan (Q.S. al-Kahf [18]: 63),
berkenaan dengan tumbuh-tumbuhan (Q.S. al-Wâqi‘ah [56]: 63-65,
lihat lebih lanjut 68:17-33), dan emosi heran berkenaan dengan
sejarah masa lalu (misalnya Q.S. al-Kahf [18]: 9; al-Baqarah [2]:
258).
Kemampuan
dan kehebatan luar biasa yang dimiliki seseorang dapat mengundang
keheranan (takjub, ta‘ajjub) dari orang lain. Kehebatan
itu, sebagaimana dapat dibaca dari ayat-ayat al-Qur’ân,
misalnya para pembawa risalah Allah yang memiliki kemampuan lebih
dibanding dengan manusia pada umumnya (komunikasi melalui wahyu
dengan Allah, mukjizat, integritas pribadi yang prima). Kelebihan
lain yang juga dapat membuat orang heran adalah bentuk fisik,
harta kekayaan, dan anak keturunan, jika hal itu tidak lazim dari
biasanya menurut ukuran normal. Q.S. Qâf [50]: 2 merujuk pada
ekspresi keheranan yang ditunjukkan orang yang tak percaya atau
ragu tentang kemungkinan seorang manusia menjadi pembawa risalah
dari Allah. Menurut al-Baydhâwî, ekspresi keheranan itu terjadi
karena ketakpercayaan pada manusia biasa dari jenis mereka dapat
menerima wahyu. Yang mereka harapkan adalah dari malaikat
sebagaimana harapan orang-orang tua mereka sebelumnya. Ekspresi
heran terhadap kemampuan diri sendiri tergambar dalam Q.S. Hûd
[11]: 72-73 ketika istri Nabi Ibrahim yang sudah menopause
diberitakan akan melahirkan seorang anak. Kata ‘ajûz
dalam bahasa Arab diartikan sebagai nenek yang telah renta. Dalam
kitab Tafsîr al-Baydhâwî dijelaskan usia pasangan
itu masing-masing sudah mencapai 90 atau 99 tahun (istri) dan 100
atau 120 tahun (iii,246).
Pengendalian
Emosi
Kehidupan manusia
selalu mengalami ritme yang berbeda-beda, ada saatnya mendapatkan
kenikmatan lalu merasa bahagia, tetapi di saat yang lain mengalami
musibah lalu bersedih. Aneka ekspresi yang muncul dalam
menanggapi berbagai situasi yang dialami itu sesungguhnya
memperkaya kehidupan itu sendiri. Tak terbayangkan dalam pikiran
seandainya pada semua yang dialami manusia muncul hanya satu jenis
ekspresi emosi, misalnya bahagia terus-menerus atau sedih
sepanjang masa, tentu tak nikmat. Morgan et al. (1986:310),
memberi komentar menarik tentang hal ini sebagai berikut:
Life would be
dreary without such feelings. They add color and spice to living;
they are the sauce which adds pleasure and excitement to our
lives. We anticipate our parties and dates with pleasure; we
remember with a warm glow the satisfaction we got from getting a
good grade; and we even recall with amusement the bitter
disappointments of childhood. On the other hand, when our emotions
are too intense and too easily aroused, they can easily get us
into trouble. They can warp our judgment, turn friends into
enemies, and make us as miserable as if we were sick with fever.
(Hidup
akan menjadi kering tanpa adanya berbagai perasaan atau emosi.
Perasaan atau emosi itu menambah warna dan bumbu bagi kehidupan;
ia merupakan ‘saus’ yang menambah nikmatnya kebahagiaan dan
kegembiraan dalam kehidupan. Kita menanti datangnya pesta dan
kencan dengan senang hati; kita mengenang dengan bangga pada
kepuasan yang kita rasakan saat mendapatkan nilai yang bagus; dan
kita bahkan mengingat dengan penuh geli saat-saat mengecewakan
dari masa kecil kita. Di sisi lain, ketika emosi kita terlalu
berlebih dan terlalu mudah terpancing, ia dapat dengan mudah
membawa kita ke dalam masalah. Emosi dapat membengkokkan penilaian
kita, mengubah teman jadi lawan, dan menjadikan kita sengsara
ketika kita terkena sakit demam).
Benar, emosi
memang menjadi bumbu kehidupan, tetapi ketika emosi memuncak tak
terkendali dan atau berlangsung dalam waktu lama, maka kemungkinan
timbul masalah yang runyam dalam kehidupan fisik maupun psikis.
Emosi yang sangat dalam dapat menyebabkan terganggunya mekanisme
faali, sistem kimiawi tubuh, dan memunculkan ketegangan-ketegangan
yang merusak tatanan equilibrium (homeostatis) yang
senantiasa menjaga keseimbangan dalam diri manusia. Al-Qur’ân
mengidentifikasi berbagai kemungkinan penyebab emosi yang dapat
merusak tatanan mekanisme fisik dan psikis itu, misalnya:
ketakutan yang amat dahsyat (fobia), kelaparan, kehilangan harta
dan anggota keluarga secara tiba-tiba (Q.S. al-Baqarah [2]: 155),
terlampau gembira (euforia) karena memperoleh harta melimpah (Q.S.
al-Qashash [28]:76), berputus ada dari rahmat Allah (Q.S. al-Zumar
[39]: 53, 12: 87), dan sebagainya.
Ada beberapa
tindakan pencegahan dan pengendalian terhadap akibat buruk dari
emosi berlebihan, antara lain:
1.
Tetap
konsisten (istiqâmah)
dalam
kebenaran (al-haqq).
Permohonan yang selalu kita sampaikan kepada Allah adalah tetap
berada pada shirâth
al-mustaqîm
(Q.S. al-Fâtihah
[1]: 6), tidak mengikuti langkah-langkah setan dan orang-orang
yang telah disesatkannya, karena hal itu selalu membawa kepada
kemungkaran.
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّبِعُوا
خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ
خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ
يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ
أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ
يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ
سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah
syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka
sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji
dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan
rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari
kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu)
selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Lihat
pula Q.S. al-Baqarah [2]: 168, 208; al-An‘âm [6]: 142)
Satu
hal paling sering membuat manusia waswas, guncang, tidak dalam
kondisi tenang, yaitu ketika orang itu tidak konsisten dalam
menjalani kebenaran, tetapi membiarkan dirinya melanggar aturan
(hukum) mengikuti
langkah-langkah setan.
Semakin berat akibat hukum yang ditimbulkan suatu perbuatan
semakin berat pula tingkat ketidaktenangannya. Pantas apabila
Rasulullah saw. memberi indikasi perbuatan dosa dengan adanya
ketidaktenangan (waswas) dalam hati dan takut diketahui orang
lain:
البر
حسن الخلق و الإثم ماحاك فى صدرك وكرهت
أن يطلع عليه الناس
“Kebaikan
itu adalah kesempurnaan akhlak, sedangkan dosa adalah apa yang
membuat hatimu waswas (bergejolak) dan kamu tak senang jika orang
lain mengetahuinya.” (H.R.
Muslim).
Konsistensi dalam
menjalankan kebenaran dari Allah baik dalam sikap maupun perbuatan
akan mengeliminasi kekhawatiran dan kesedihan dalam hidup,
sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah dalam Q.S. al-Ahqâf
[46]: 13 (lihat juga Fushshilat [41]: 30).
إِنَّ
الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ
ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ
عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”,
kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.”
2.
Berpikir
positif dan bersikap realistis dalam menerima apa pun yang datang
dari Allah sebagai bagian dari perjalanan hidup. Allah menguji
manusia dengan berbagai ujian (balâ’)
untuk mengetahui siapa yang mampu bersabar dan siapa yang tidak,
sebagaimana dipahami dari Q.S. al-Baqarah [2]: 155-156; Muhammad
[47]: 31, bahkan kehidupan dan kematian pun merupakan cobaan (Q.S.
al-Mulk [67]: 2). Berpikir positif dan bersikap realistis terhadap
kenyataan hidup, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan,
ditandai oleh mekanisme syukur-sabar. Banyak di antara manusia
yang tidak mampu mengontrol dirinya ketika menghadapi kenyataan
hidup, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan (Q.S.
al-Ma‘ârij [70]: 20-21; Yûnus [10]: 12; al-Isrâ’ [17]: 83;
Fushshilat/41:49-51). Dalam Q.S. al-Ma‘ârij tersebut telah pula
dijelaskan siapa yang mampu mengendalikan (mengontrol) diri,
antara lain karena telah terlatih dalam menjalankan pengabdian
yang menghasilkan sikap dan perilaku syukur dan sabar. Orang yang
bersikap dan berperilaku syukur jika mendapatkan karunia tidak
serta-merta lupa daratan, tetapi ia memaknai sebagai karunia dari
Allah yang juga menjadi ujian baginya. Q.S. al-Naml [27]: 40
mengisyaratkan hal ini.
قَالَ
الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ
أَنَا ءَاتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ
يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا
رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ
هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي
ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ
فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ
كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
“Berkatalah
seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa
singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala
Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun
berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah
aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa
yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan)
dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya
Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.
Sementara apabila
mendapat musibah ia bersikap dan berperilaku sabar dan memaknainya
bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali
kepada-Nya (Q.S. al-Baqarah [2]: 155-157). Sabar harus dalam
kesempatan pertama (al-shadmah al-ûlâ, benturan pertama).
3.
Mengatasi
masalah agar tidak berkembang menjadi lebih buruk. Ada banyak hal
yang dapat dilakukan untuk mengurangi ketegangan emosional
misalnya menarik napas panjang, berteriak, katarsis. Agama
mengajarkan untuk pergi berwudhu, dzikrullâh,
relaksasi, dan sebagainya. Dua terakhir paling mudah dilakukan:
a.
Dzikrullâh
Mengingat Allah
(dzikrullâh) dalam kondisi emosi memuncak (arousal)
termasuk dalam kategori pengalihan emosi (replacement) kepada
objek lain yang memungkinkan meredam efek negatifnya. Meskipun
model replacement ini banyak ragamnya, dzikrullâh
termasuk yang paling mudah dilakukan dan dalam banyak hal sangat
efektif, terutama mereka yang sudah terlatih untuk itu. Berkenaan
dengan hal ini, Allah menjelaskan di dalam Q.S. al-Ra‘d [13]: 28
sebagai berikut:
الَّذِينَ
ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ
بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ
اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
”(Yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati
menjadi tenteram.”
b.
Relaksasi
Pada saat emosi
memuncak sistem kimiawi tubuh ikut berubah dan dapat menimbulkan
ketegangan-ketegangan fisik dan psikis. Untuk mereduksi
pengaruh-pengaruh buruk itu perlu segera dikembalikan ke posisi
equilibrium normal dengan cara relaksasi. Rasulullah saw. memberi
solusi ketika seseorang marah (mewakili emosi negatif) agar segera
mengubah posisi ketika itu.
إِذَا
غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ
فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ
الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
“Jika
seseorang di antara kamu marah dalam posisi berdiri, maka
hendaklah ia duduk mudah-mudahan marahnya hilang. Kalau belum reda
juga, maka sebaiknya ia berbaring).
Kesimpulan
Emosi manusia di
dalam al-Qur’ân tersebar dalam berbagai surah dan ayat
mengikuti peristiwa-peristiwa fenomenal yang dihadapi manusia
dalam berbagai persoalan kehidupan. Ungkapan al-Qur’ân tentang
emosi itu digambarkan dalam bentuk ekspresi, perubahan fisiologis,
tindakan dan tendensi tindakan, sampai pada berbagai model
pengendalian emosi, baik dalam bentuk katarsis, pengalihan
(replacement), relaksasi, dan selainnya. Ekspresi emosi
yang paling sering dikemukakan oleh al-Qur’ân adalah ekspresi
wajah, persis dengan apa yang ditemukan dalam
penelitian-penelitian psikologi bahwa wajah merupakan cerminan
jiwa manusia. Psikologi menemukan bahwa ekspresi wajah ketika
terjadi emosi pada manusia bersifat universal dan lintas kultural,
dikenali oleh berbagai etnis di dunia dengan pola-pola yang sama
ketika mereka senang, marah, benci, heran, takut, atau sedang
sedih. Dari ekspresi itulah manusia dapat memahami emosi yang
sedang dialami orang lain sehingga ia dapat mengambil suatu sikap
atau tindakan yang sesuai dan diperlukan dalam kaitannya
dengan hubungan interpersonal.
Emosi senang
dalam al-Qur’ân, seperti halnya dalam psikologi, dikategorikan
sebagai emosi positif karena didambakan oleh manusia terjadi pada
dirinya. Al-Qur’ân berbicara tentang emosi senang ini lebih
banyak dan lebih variatif dibandingkan dengan emosi-emosi lain.
Al-Qur’ân menggunakan misalnya term al-hubb,
al-surûr, al-na‘mâ’, al-ridhâ, al-tabsyîr, al-farh,
untuk merujuk pada emosi senang. Bahkan, penggambaran emosi senang
itu tidak terbatas pada kegiatan atau peristiwa di dunia, tetapi
juga gambaran emosi senang di kehidupan yang eternal di akhirat.
Hal ini menunjukkan bahwa jenis emosi ini memang menjadi dambaan
manusia.
Ekspresi emosi
marah dalam al-Qur’ân digambarkan sangat terinci, dari
perubahan raut muka, dalam bentuk verbal, tindakan-tindakan
agresif, hingga marah yang ditekan (represif) sebagaimana terjadi
pada kasus Nabi Yusuf yang difitnah pernah mencuri seperti yang
dilakukan saudaranya, Bunyamin, yang ‘mencuri’ alat timbangan
milik negara saat itu. Deskripsi yang demikian terinci itu boleh
jadi merupakan bentuk pengenalan yang lengkap agar manusia dapat
memahami ciri-cirinya, mereduksi ketika muncul keterbangkitan
(arousal), atau berusaha untuk menghindarinya sama
sekali dan berlapang dada terhadap sumber-sumber pemicu emosi
marah melalui mekanisme pemberian maaf.
Dalam hal emosi
benci, al-Qur’ân lebih banyak mengemukakan perilaku manusia
yang sering kali membenci kebenaran, kebaikan, dan personal. Suatu
hal yang menarik bahwa al-Qur’ân memberi warning
kepada manusia bahwa adakalanya kita membenci sesuatu tetapi
ternyata membawa kebaikan (manfaat) bagi kehidupan, ataupun
sebaliknya. Sedangkan emosi heran, takjub, kaget, merupakan sebuah
garis kontinum yang dialami dalam berbagai peristiwa tertentu
berdasarkan pada intensitas, meskipun frekuensi kemunculannya
dalam ayat-ayat al-Qur’ân tidak sesering dibandingkan dengan
emosi-emosi yang lain.
Adapun emosi
takut manusia lebih banyak dijelaskan berkaitan dengan bencana,
ketakutan pada hubungan-hubungan: intrapersonal, interpersonal,
dan metapersonal. Sedangkan emosi sedih umumnya dalam
bentuk imbauan untuk tidak gampang bersedih. Ekspresi emosi sedih
dalam beberapa ayat digambarkan dengan tangis atau linangan air
mata (tafîdhu min al-dam‘, ibyadhdhat ‘aynâh).
Al-Qur’ân selalu menggandengkan emosi cemas/khawatir (anxiety,
al-khawf) dengan emosi sedih (sadness, al-huzn)
dan mengulangnya hingga tiga belas kali. Dalam psikologi kedua
term ini dimaknai hampir sama kecuali time case-nya
berbeda. Kecemasan terjadi menjelang suatu peristiwa yang tak
diinginkan, dan kesedihan terjadi sesudahnya.
Untuk mereduksi
atau mengeliminasi efek-efek negatif dari ketegangan-ketegangan
yang mungkin muncul pada keterbangkitan emosi diperlukan berbagai
model yang dapat digunakan sebagai pengendali emosi. Wallâhu
a‘lam.
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar