Senin, 02 September 2013

gangguan mental


Gangguan pemusatan perhatian atau hiperaktivitas ternyata tidak cuma terjadi pada anak-anak. Sekitar 30-70 persen anak ADHD (attention deficit hyperacitivity disorder) akan membawa terus gangguan ini hingga dewasa bahkan seumur hidup.
Orang yang menderita ADHD mengalami ketidakseimbangan aktivitas neurotransmiter di area otak yang berfungsi mengontrol perhatian atau konsentrasi. Pada orang dewasa, ketidakmampuan untuk tetap fokus ini bisa menganggu karir dan hubungan dengan orang lain. Namun kebanyakan orang tidak menyadari dirinya menderita ADHD sehingga mereka seringkali tak memiliki obsesi dan sulit mencapai target.
Gangguan perilaku yang pertama kali diidentifikasi Heinrich Hoffman tahun 1902 ini ditandai pola gejala, yaitu tidak bisa diam, tidak bisa memusatkan perhatian dan perilaku impulsif. Ciri utamanya adalah kurang tekun dalam kegiatan kognitif, cenderung berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain tanpa menyelesaikan satu tugas pun, disertai aktivitas mengacau, tidak beraturan dan berlebihan.
Pada orang dewasa, ADHD memiliki perbedaan gejala dengan ADHD pada anak. Orang dewasa yang mengalami gangguan konsentrasi seringkali terlambat datang ke kantor atau ke acara penting lain. Mereka pada umumnya kurang teratur dan kurang bisa bersantai. Beberapa orang ADHD mengeluhkan sulit berkonsentrasi saat membaca, seringkali mengalami mood swing, kurang percaya diri dan sulit mengontrol emosinya.
Dalam dunia kerja mereka cenderung sulit mengikuti perintah, kesulitan dalam mengatur pekerjaan dan mencapai deadline. Pekerjaan diselesaikan dengan lamban dengan beberapa koreksi. Menurut sebuah survei di Amerika, hanya separuh orang ADHD yang bisa bertahan dalam pekerjaan, dibandingkan dengan 72 persen rekan mereka yang tidak menderita ADHD.
Gangguan konsentrasi tidak terjadi tiba-tiba pada usia dewasa, gejala ini biasanya sudah terjadi sejak usia kanak-kanak. Penderita ADHD dewasa mengatakan di sekolah mereka kurang berprestasi, meski pada saat itu belum didiagnosa menderita gangguan ini. Menurut statistik ADHD lebih sering dialami anak laki-laki dibanding perempuan.
Kebanyakan orang tidak menyadari dirinya mengalami gangguan ADHD sampai mereka mencari bantuan profesional untuk masalah lain, seperti kecemasan atau depresi. Sering bermasalah di kantor atau konflik perkawinan merupakan problem yang sering dialami orang ADHD.
Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan memastikan dulu apakah orang tersebut menderita ADHD di masa kecil, misalnya hiperaktif atau sulit berkonsentrasi. Seperti halnya pada anak, penanganan ADHD pada orang dewasa kurang lebih sama. Obat-obatan medis yang diberikan berupa stimulan untuk meningkatkan konsentrasi dan meningkatkan aktivitas kimia otak yang disebut dopamin dan neropinephrin. ( kompas )
Insomnia itu adalah salah satu penyakit dari Gangguan Tidur (Sleeping Disorder)
Gangguan Tidur dibagi atas 2 jenis:
  1. Dyssomnias
    Gangguan tidur yang berkaitan dengan kuantitas atau kualitas tidur, dan periode penderita tidur.
  2. Parasomnias
    Gangguan terjadi selama penderita tidur.
Insomnia itu termasuk dalam kategori Dyssomnias, yaitu gangguan tidur yg berkaitan dgn kualitas tidur & periode penderita tidur. Ini adalah kategori gangguan tidur berdasarkan DSM IV-TR
  • Dyssomnias
    1. Insomnia
    2. Hypersomnia
    3. Narcolepsy
    4. Circadian Rhythim Sleep Disorder
    5. Not otherwise specified
  • Parasomnias
  1. Nightmare Disorder
  2. Sleep Terror Disorder
  3. Sleepwalking Disorder
  4. Not Otherwise Specified
Karakteristik dr Insomnia menurut DSM IV-TR adalah:
  • Mengeluh tidak bisa tidur > 1 bulan.
  • Gangguan tersebut menyebabkan hendaya di bidang sosial, pekerjaan dan fungsi penting lainnya.
  • Diduga disebabkan oleh kecemasan, ketegangan yang berlarut-larut, dan masalah-masalah emosional.
  • Banyak dialami oleh orang-orang berusia lanjut dan wanita.
karena insomnia ini lebih berkaitan sama masalah pikiran dan stres, jadi utk mencegahnya kudu mengubah sudut pandang negatif dan mengurangi beban stres si penderitanya
Kesehatan mental bukanlah suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Dia dibangun oleh berbagai bidang ilmu, baik yang secara langsung membidangi kesehatan maupun tidak. Bahkan Wallace Allin menyebutkan sejumlah bidang ilmu yang terkait dan membangun kesehatan mental adalah: psikologi, studi anak, pendidikan, sosiologi, psikiatri, medis, biologi, dan sosioantropologi (Crow, 1968). Tentunya, juga disadari bahwa bidang ilmu lain seperti studi agama, ekonomi, dan politik memiliki kontribusi yang sangat besar bagi pengembangan kesehatan mental. Berbagai bidang ilmu yang memberi kontribusi bagi kesehatan mental sebagian di antaranya akan dijelaskan sebagai berikut.
  1. Ilmu kedokteran
    Ilmu kedokteran mempelajari tentang penyakit dan cara pengobatannya. Selain menekuni bidang pengobatan, ilmu kedokteran, termasuk kedokteran jiwa, juga mengembangkan ilmu kedokteran pencegahan. Khususnya bidang yang ditekuni dalam bidang kedokteran jiwa ini memberi sumbangan yang sangat bermakna bagi kesehatan mental masyarakat.
  2. Psikologi
    Psikologi merupakan disiplin ilmu di bidang perilaku manusia, yang diantaranya mempelajari dimensi psikis manusia dengan segenap dinamikanya. Perilaku manusia, termasuk perilaku yang normal dan yang abnormal atau patologis juga dipelajari. Memahami kesehatan mental masyarakat, tentunya membutuhkan pemahaman terhadap proses psikis yang turut mempengaruhi perilaku yang sehat dan tidak sehat sebagaimana yang dipelajari di bidang psikologi.
  3. Sosio-antropologi
    Perilaku dan sistem masyarakat, termasuk nilai sosial budayanya menjadi pokok perhatian dalam sosio-antropologi. Dalam berbagai studi dimengerti bahwa aspek sosio-antropologis itu menjadi bagian penting dalam kehidupan umat manusia, baik fisik maupun mental. Dalam kesehatan mental, dimensi sosio-antropologis ini perlu diperhatikan baik untuk keperluan pemahaman maupun strategi intervensinya. Intervensi kesehatan mental akan berhasil jika mempertimbangkan dimensi sosial dan budayanya.
  4. Ilmu pendidikan
    Ilmu pendidikan mempelajari perubahan perilaku manusia secara lebih normatif. Selain mempelajari materi yang diberikan, juga strategi yang harus ditempuh agar perubahan perilaku itu lebih efektif. Ilmu pendidikan tentunya memberikan kontribusi bagi bidang kesehatan mental, khususnya dalam pengembangan intervensi-intervensi kepada masyarakat. Prinsip-prinsip pendidikan dimanfaatkan untuk peningkatan kesehatan masyarakat.
  5. Disiplin ilmu lain
    Disiplin ilmu lain seperti ekonomi, ekologi, biologi, dan studi agama secara bermakna juga memberikan kontribusinya bagi pemahaman dan penanganan kesehatan mental masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa begitu dekat keterkaitan antara kesehatan mental masyarakat dengan disiplin ilmu lain. Oleh karena itu, dalam usaha peningkatan, pemeliharaan, dan pencegahan di bidang kesehatan mental tidak cukup didekati dari satu segi belaka, tetapi perlu melibatkan berbagai bidang ilmu.
PENGERTIAN SAKIT (illness)
Sakit merupakan proses dimana fungsi individu dalam satu atau lebih dimensi yang ada mengalami perubahan atau penurunan bila dibandingkan dengan kondisi individu sebelumnya.
Sakit adalah keadaan dimana fisik, emosional, intelektual, sosial, perkembangan, atau seseorang berkurang atau terganggu, bukan hanya keadaan terjadinya proses penyakit.
Oleh karena itu sakit tidak sama dengan penyakit. Sebagai contoh pasien dengan Leukemia yang sedang menjalani pengobatan mungkin akan mampu berfungsi seperti biasanya, sedangkan pasien lain dengan kanker payudara yang sedang mempersiapkan diri untuk menjalani operasi mungkin akan merasakan akibatnya pada dimensi lain, selain dimensi fisik.
Perilaku sakit merupakan perilaku orang sakit yang meliputi: cara seseorang memantau tubuhnya; mendefinisikan dan menginterpretasikan gejala yang dialami; melakukan upaya penyembuhan; dan penggunaan sistem pelayanan kesehatan.
Seorang individu yang merasa dirinya sedang sakit perilaku sakit bisa berfungsi sebagai mekanisme koping.
PENGERTIAN PENYAKIT (disease)
disease dimaksudkan gangguan fungsi atau adaptasi dari proses-proses biologik dan psikofisiologik pada seorang individu.
PENGERTIAN PERAN SAKIT (sickness)
Peran adalah suatu pola tingkah laku, kepercayaan, nilai, sikap yang diharapkan oleh masyarakat muncul dan menandai sifat dan tindakan si pemegang kedudukan
sickness dimaksudkan reaksi personal, interpersonal dan kultural terhadap penyakit atau perasaan kurang nyaman
Manfaat Peran Sakit
Pada umumnya anggota masyarakat ingin menjadi orang sehat, atau lebih menyukai sehat daripada sakit Di pihak lain, peran sakit sebagai “penyimpangan”, merupakan bentuk perilaku adaptif yang dapat diterimamasyarakat. Sebagian anggota masyarakat memanfaatkan peran sakit untuk mengurangi konflik antara kebutuhan pribadi dengan tuntutan peran.
HUBUNGAN ANTARA SICKNESS, ILLNESS, DISEASE.
Para dokter mendiagnosis dan mengobati disease, sedangkan. Pasien menderita illness. Kedua pengertian ini tidak identik. Illness dapat disebabkan oleh disease, tetapi tidak selalu illness. disertai dengan adanya kelainan organik maupun fungsional dari tubuh. Pengertian illness dibentuk oleh faktor-faktor kultural, yang dipengaruhi oleh persepsi, pemberian nama, penjelasan, dan proses penilaian dari pengalaman yang tidak menyenangkan. Semua hal ini dibentuk dalam lingkungan keluarga, sosial dan kulturaL Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa pengertian illness adalah pengertian yang merupakan konstruk kultural. Dalam perbedaan antara kedua.
Sakit belum tentu karena penyakit, akan tetapi selalu mempunyai relevansi psikososial. Pengertian sakit (illness) berkaitan dengan gangguan psikososial yang dirasakan manusia (bersifat subyektif), berbeda dengan pengertian penyakit (disease) yang berkaitan dengan gangguan pada organ manusia (bersifat obyektif)
Peran sakit adalah peran yang harus dilakukan oleh orang sakit dan kaitannya dengan upaya pencarian pengobatan. Hubungan antara perilaku sehat, perilaku sakit, peran sakit dengan sakit dan penyakit dapat digambarkan sebagai berikut, Apabila seseorang sakit, maka orang sakit tersebut bebas dari langgung jawab peran sosialnyakemudian ia atau keluarganya dituntut mencari pengobatan agar kembali menjadi orang sehat. Dalam analisis Parsons, peran sakit digambarkan sebagai masalah kontrol sosial. Dalam hal ini dokter dianggap sebagai agen kontrol sosial yang dapat memberikan kepada seseorang legalitas sakit atau membatasi untuk melakukan peran sakit Dokter sebagai agen kontrol sosial hams mengetahui orang yang berpura-pura sakit dan dapatmenolak menyatakan orang itu dalam keadaan sakit, Namun dokter tetap menjalankan proses pengobatan agar orang yang merasa sakit dapat kembali berperan di masyarakat
Penyakit (disease) adalah suatu bentuk reaksi biologis terhadap suatu organisme, benda asing atau luka (injury). Hal ini adalah suatu fenomena yang objektif yang ditandai oleh perubahan- perubahan fungsi tubuh sebagai organisme biologis. Sedangkan sakit (illness) adalah penilaian seseorang terhadap penyakit sehubungan dengan pengalaman yang langsung dialaminya.
Dari batasan kedua pengertian atau istilah yang berbeda tersebut, tampak adanya perbedaan konsep sehat-sakit yang kemudian akan menimbulkan permasalahan konsep sehat-sakit di dalam masyarakat. Secara objektif seseorang terkena penyakit, salah satu organ tubuhnya terganggu fungsinya namun, dia tidak meras sakit. Atau sebaliknya, seseorang merasa sakit bila merasakan sesuatu di dalam tubuhnya, tetapi dari pemeriksaan klinis tiak diperoleh bukti ia sakit, lebih penjelasan penjelasan ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Penyakit dan sakit kombinasi alternatif
Penyakit (dissease)
Sakit (illness)
Tak hadir
(not present)
Hadir
(Present)
Tak dirasa
(Not perceived)
1
2
Dirasakan
(perceived)
3
4
Area 1 ( satu) menggambarkan bahwa seseorang tidak mengandung atau menderita penyakit dan juga tidak merasa sakit (no disease and no illness). Dalam keadaan demikian maka orang tersebut sehat menurut konsep kita ( dari kacamata petugas kesehatan)
Area 2 (dua) menggambarkan seseorang mendapat serangan penyakit (secara klinis), tetapi orang itu sendiri tidak merasa sakit atau mungkin tidak dirasakan sebagai sakit (disease but no illness). Oleh karena itu mereka tetap menjalankan kegiatannya sehari-hari sebagaimana orang sehat.
Area 3 (tiga) menggambarkan penyakit yang tidak hadir pada seseorang, tetapi orang tersebut meras sakit atau tidak enak badan (illness but no disease). Pada kenyataannya kondisi ini hanya sedikit di dalam masyarakat. Orang merasa sakit padahal setelah pemeriksaan baik secara klinis maupun laboratoris tidak diperoleh bukti bahwa ia menderita sutau penyakit. Hal ini mungkin karena gangguan-gangguan psikis saja.
Area 4 (empat) ini menggambarkan adanya suatu penyajian yang sama. Seseorang memang menderita sakit dan juga ia rasakan sebagai rasa sakit (illness with disease). Hal inilah sebenarnya yang dapat dikatakan benar-benar sakit
Source : http://mawarputrijulica.wordpress.com