Gangguan pemusatan
perhatian atau hiperaktivitas ternyata tidak cuma terjadi pada anak-anak.
Sekitar 30-70 persen anak ADHD (attention deficit hyperacitivity disorder) akan
membawa terus gangguan ini hingga dewasa bahkan seumur hidup.
Orang yang menderita
ADHD mengalami ketidakseimbangan aktivitas neurotransmiter di area otak yang
berfungsi mengontrol perhatian atau konsentrasi. Pada orang dewasa,
ketidakmampuan untuk tetap fokus ini bisa menganggu karir dan hubungan dengan
orang lain. Namun kebanyakan orang tidak menyadari dirinya menderita ADHD
sehingga mereka seringkali tak memiliki obsesi dan sulit mencapai target.
Gangguan perilaku
yang pertama kali diidentifikasi Heinrich Hoffman tahun 1902 ini ditandai pola
gejala, yaitu tidak bisa diam, tidak bisa memusatkan perhatian dan perilaku
impulsif. Ciri utamanya adalah kurang tekun dalam kegiatan kognitif, cenderung
berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain tanpa menyelesaikan satu tugas
pun, disertai aktivitas mengacau, tidak beraturan dan berlebihan.
Pada orang dewasa,
ADHD memiliki perbedaan gejala dengan ADHD pada anak. Orang dewasa yang
mengalami gangguan konsentrasi seringkali terlambat datang ke kantor atau ke
acara penting lain. Mereka pada umumnya kurang teratur dan kurang bisa
bersantai. Beberapa orang ADHD mengeluhkan sulit berkonsentrasi saat membaca,
seringkali mengalami mood swing, kurang percaya diri dan sulit mengontrol
emosinya.
Dalam dunia kerja
mereka cenderung sulit mengikuti perintah, kesulitan dalam mengatur pekerjaan
dan mencapai deadline. Pekerjaan diselesaikan dengan lamban dengan beberapa
koreksi. Menurut sebuah survei di Amerika, hanya separuh orang ADHD yang bisa
bertahan dalam pekerjaan, dibandingkan dengan 72 persen rekan mereka yang tidak
menderita ADHD.
Gangguan konsentrasi
tidak terjadi tiba-tiba pada usia dewasa, gejala ini biasanya sudah terjadi
sejak usia kanak-kanak. Penderita ADHD dewasa mengatakan di sekolah mereka
kurang berprestasi, meski pada saat itu belum didiagnosa menderita gangguan ini.
Menurut statistik ADHD lebih sering dialami anak laki-laki dibanding perempuan.
Kebanyakan orang
tidak menyadari dirinya mengalami gangguan ADHD sampai mereka mencari bantuan
profesional untuk masalah lain, seperti kecemasan atau depresi. Sering bermasalah
di kantor atau konflik perkawinan merupakan problem yang sering dialami orang
ADHD.
Untuk menegakkan
diagnosis, dokter akan memastikan dulu apakah orang tersebut menderita ADHD di
masa kecil, misalnya hiperaktif atau sulit berkonsentrasi. Seperti halnya pada
anak, penanganan ADHD pada orang dewasa kurang lebih sama. Obat-obatan medis
yang diberikan berupa stimulan untuk meningkatkan konsentrasi dan meningkatkan
aktivitas kimia otak yang disebut dopamin dan neropinephrin. ( kompas )
Insomnia itu adalah
salah satu penyakit dari Gangguan Tidur (Sleeping Disorder)
Gangguan Tidur dibagi
atas 2 jenis:
- Dyssomnias
Gangguan tidur yang berkaitan dengan kuantitas atau kualitas tidur, dan periode penderita tidur. - Parasomnias
Gangguan terjadi selama penderita tidur.
Insomnia itu termasuk
dalam kategori Dyssomnias, yaitu gangguan tidur yg berkaitan dgn kualitas tidur
& periode penderita tidur. Ini adalah kategori gangguan tidur berdasarkan
DSM IV-TR
- Dyssomnias
- Insomnia
- Hypersomnia
- Narcolepsy
- Circadian Rhythim Sleep Disorder
- Not otherwise specified
- Parasomnias
- Nightmare Disorder
- Sleep Terror Disorder
- Sleepwalking Disorder
- Not Otherwise Specified
Karakteristik dr
Insomnia menurut DSM IV-TR adalah:
- Mengeluh tidak bisa tidur > 1 bulan.
- Gangguan tersebut menyebabkan hendaya di bidang sosial, pekerjaan dan fungsi penting lainnya.
- Diduga disebabkan oleh kecemasan, ketegangan yang berlarut-larut, dan masalah-masalah emosional.
- Banyak dialami oleh orang-orang berusia lanjut dan wanita.
karena insomnia ini
lebih berkaitan sama masalah pikiran dan stres, jadi utk mencegahnya kudu
mengubah sudut pandang negatif dan mengurangi beban stres si penderitanya
Kesehatan mental
bukanlah suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Dia dibangun oleh berbagai
bidang ilmu, baik yang secara langsung membidangi kesehatan maupun tidak.
Bahkan Wallace Allin menyebutkan sejumlah bidang ilmu yang terkait dan
membangun kesehatan mental adalah: psikologi, studi anak, pendidikan,
sosiologi, psikiatri, medis, biologi, dan sosioantropologi (Crow, 1968).
Tentunya, juga disadari bahwa bidang ilmu lain seperti studi agama, ekonomi,
dan politik memiliki kontribusi yang sangat besar bagi pengembangan kesehatan
mental. Berbagai bidang ilmu yang memberi kontribusi bagi kesehatan mental
sebagian di antaranya akan dijelaskan sebagai berikut.
- Ilmu kedokteran
Ilmu kedokteran mempelajari tentang penyakit dan cara pengobatannya. Selain menekuni bidang pengobatan, ilmu kedokteran, termasuk kedokteran jiwa, juga mengembangkan ilmu kedokteran pencegahan. Khususnya bidang yang ditekuni dalam bidang kedokteran jiwa ini memberi sumbangan yang sangat bermakna bagi kesehatan mental masyarakat. - Psikologi
Psikologi merupakan disiplin ilmu di bidang perilaku manusia, yang diantaranya mempelajari dimensi psikis manusia dengan segenap dinamikanya. Perilaku manusia, termasuk perilaku yang normal dan yang abnormal atau patologis juga dipelajari. Memahami kesehatan mental masyarakat, tentunya membutuhkan pemahaman terhadap proses psikis yang turut mempengaruhi perilaku yang sehat dan tidak sehat sebagaimana yang dipelajari di bidang psikologi. - Sosio-antropologi
Perilaku dan sistem masyarakat, termasuk nilai sosial budayanya menjadi pokok perhatian dalam sosio-antropologi. Dalam berbagai studi dimengerti bahwa aspek sosio-antropologis itu menjadi bagian penting dalam kehidupan umat manusia, baik fisik maupun mental. Dalam kesehatan mental, dimensi sosio-antropologis ini perlu diperhatikan baik untuk keperluan pemahaman maupun strategi intervensinya. Intervensi kesehatan mental akan berhasil jika mempertimbangkan dimensi sosial dan budayanya. - Ilmu pendidikan
Ilmu pendidikan mempelajari perubahan perilaku manusia secara lebih normatif. Selain mempelajari materi yang diberikan, juga strategi yang harus ditempuh agar perubahan perilaku itu lebih efektif. Ilmu pendidikan tentunya memberikan kontribusi bagi bidang kesehatan mental, khususnya dalam pengembangan intervensi-intervensi kepada masyarakat. Prinsip-prinsip pendidikan dimanfaatkan untuk peningkatan kesehatan masyarakat. - Disiplin ilmu lain
Disiplin ilmu lain seperti ekonomi, ekologi, biologi, dan studi agama secara bermakna juga memberikan kontribusinya bagi pemahaman dan penanganan kesehatan mental masyarakat.
Berdasarkan uraian di
atas jelaslah bahwa begitu dekat keterkaitan antara kesehatan mental masyarakat
dengan disiplin ilmu lain. Oleh karena itu, dalam usaha peningkatan,
pemeliharaan, dan pencegahan di bidang kesehatan mental tidak cukup didekati
dari satu segi belaka, tetapi perlu melibatkan berbagai bidang ilmu.
PENGERTIAN SAKIT (illness)
Sakit merupakan
proses dimana fungsi individu dalam satu atau lebih dimensi yang ada mengalami
perubahan atau penurunan bila dibandingkan dengan kondisi individu sebelumnya.
Sakit adalah keadaan
dimana fisik, emosional, intelektual, sosial, perkembangan, atau seseorang
berkurang atau terganggu, bukan hanya keadaan terjadinya proses penyakit.
Oleh karena itu sakit
tidak sama dengan penyakit. Sebagai contoh pasien dengan Leukemia yang sedang
menjalani pengobatan mungkin akan mampu berfungsi seperti biasanya, sedangkan
pasien lain dengan kanker payudara yang sedang mempersiapkan diri untuk
menjalani operasi mungkin akan merasakan akibatnya pada dimensi lain, selain
dimensi fisik.
Perilaku sakit
merupakan perilaku orang sakit yang meliputi: cara seseorang memantau tubuhnya;
mendefinisikan dan menginterpretasikan gejala yang dialami; melakukan upaya
penyembuhan; dan penggunaan sistem pelayanan kesehatan.
Seorang individu yang
merasa dirinya sedang sakit perilaku sakit bisa berfungsi sebagai mekanisme
koping.
PENGERTIAN PENYAKIT (disease)
disease dimaksudkan
gangguan fungsi atau adaptasi dari proses-proses biologik dan psikofisiologik
pada seorang individu.
PENGERTIAN PERAN
SAKIT (sickness)
Peran adalah suatu
pola tingkah laku, kepercayaan, nilai, sikap yang diharapkan oleh masyarakat
muncul dan menandai sifat dan tindakan si pemegang kedudukan
sickness dimaksudkan
reaksi personal, interpersonal dan kultural terhadap penyakit atau perasaan
kurang nyaman
Manfaat Peran Sakit
Pada umumnya anggota
masyarakat ingin menjadi orang sehat, atau lebih menyukai sehat daripada sakit
Di pihak lain, peran sakit sebagai “penyimpanganâ€, merupakan bentuk
perilaku adaptif yang dapat diterimamasyarakat. Sebagian anggota masyarakat
memanfaatkan peran sakit untuk mengurangi konflik antara kebutuhan pribadi
dengan tuntutan peran.
HUBUNGAN ANTARA SICKNESS,
ILLNESS, DISEASE.
Para dokter
mendiagnosis dan mengobati disease, sedangkan. Pasien menderita illness.
Kedua pengertian ini tidak identik. Illness dapat disebabkan oleh disease,
tetapi tidak selalu illness. disertai dengan adanya kelainan organik
maupun fungsional dari tubuh. Pengertian illness dibentuk oleh
faktor-faktor kultural, yang dipengaruhi oleh persepsi, pemberian nama,
penjelasan, dan proses penilaian dari pengalaman yang tidak menyenangkan. Semua
hal ini dibentuk dalam lingkungan keluarga, sosial dan kulturaL Dengan demikian
dapat dikatakan, bahwa pengertian illness adalah pengertian yang
merupakan konstruk kultural. Dalam perbedaan antara kedua.
Sakit belum tentu
karena penyakit, akan tetapi selalu mempunyai relevansi psikososial. Pengertian
sakit (illness) berkaitan dengan gangguan psikososial yang dirasakan
manusia (bersifat subyektif), berbeda dengan pengertian penyakit (disease) yang
berkaitan dengan gangguan pada organ manusia (bersifat obyektif)
Peran sakit adalah
peran yang harus dilakukan oleh orang sakit dan kaitannya dengan upaya
pencarian pengobatan. Hubungan antara perilaku sehat, perilaku sakit, peran
sakit dengan sakit dan penyakit dapat digambarkan sebagai berikut, Apabila
seseorang sakit, maka orang sakit tersebut bebas dari langgung jawab peran
sosialnyakemudian ia atau keluarganya dituntut mencari pengobatan agar kembali
menjadi orang sehat. Dalam analisis Parsons, peran sakit digambarkan sebagai
masalah kontrol sosial. Dalam hal ini dokter dianggap sebagai agen kontrol
sosial yang dapat memberikan kepada seseorang legalitas sakit atau membatasi
untuk melakukan peran sakit Dokter sebagai agen kontrol sosial hams mengetahui
orang yang berpura-pura sakit dan dapatmenolak menyatakan orang itu dalam
keadaan sakit, Namun dokter tetap menjalankan proses pengobatan agar orang yang
merasa sakit dapat kembali berperan di masyarakat
Penyakit (disease)
adalah suatu bentuk reaksi biologis terhadap suatu organisme, benda asing atau
luka (injury). Hal ini adalah suatu fenomena yang objektif yang ditandai
oleh perubahan- perubahan fungsi tubuh sebagai organisme biologis. Sedangkan
sakit (illness) adalah penilaian seseorang terhadap penyakit sehubungan
dengan pengalaman yang langsung dialaminya.
Dari batasan kedua
pengertian atau istilah yang berbeda tersebut, tampak adanya perbedaan konsep
sehat-sakit yang kemudian akan menimbulkan permasalahan konsep sehat-sakit di
dalam masyarakat. Secara objektif seseorang terkena penyakit, salah satu organ
tubuhnya terganggu fungsinya namun, dia tidak meras sakit. Atau sebaliknya,
seseorang merasa sakit bila merasakan sesuatu di dalam tubuhnya, tetapi dari
pemeriksaan klinis tiak diperoleh bukti ia sakit, lebih penjelasan penjelasan
ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Penyakit dan sakit
kombinasi alternatif
Penyakit (dissease)
Sakit (illness)
|
Tak hadir
(not present)
|
Hadir
(Present)
|
Tak dirasa
(Not perceived)
|
1
|
2
|
Dirasakan
(perceived)
|
3
|
4
|
Area 1 ( satu)
menggambarkan bahwa seseorang tidak mengandung atau menderita penyakit dan juga
tidak merasa sakit (no disease and no illness). Dalam keadaan demikian
maka orang tersebut sehat menurut konsep kita ( dari kacamata petugas
kesehatan)
Area 2 (dua)
menggambarkan seseorang mendapat serangan penyakit (secara klinis), tetapi
orang itu sendiri tidak merasa sakit atau mungkin tidak dirasakan sebagai sakit
(disease but no illness). Oleh karena itu mereka tetap menjalankan
kegiatannya sehari-hari sebagaimana orang sehat.
Area 3 (tiga)
menggambarkan penyakit yang tidak hadir pada seseorang, tetapi orang tersebut
meras sakit atau tidak enak badan (illness but no disease). Pada
kenyataannya kondisi ini hanya sedikit di dalam masyarakat. Orang merasa sakit
padahal setelah pemeriksaan baik secara klinis maupun laboratoris tidak
diperoleh bukti bahwa ia menderita sutau penyakit. Hal ini mungkin karena
gangguan-gangguan psikis saja.
Area 4 (empat) ini
menggambarkan adanya suatu penyajian yang sama. Seseorang memang menderita
sakit dan juga ia rasakan sebagai rasa sakit (illness with disease). Hal inilah
sebenarnya yang dapat dikatakan benar-benar sakit
Source :
http://mawarputrijulica.wordpress.com